Seorang nelayan tua duduk di tepi pantai, menatap lautan yang berombak ganas. Perahunya yang dulu kokoh kini tinggal puing-puing, dihantam badai tanpa ampun. Ia berusaha memahami, apakah ini sekadar takdir, ataukah ada kesalahan yang telah ia perbuat? Dalam pergumulannya, seorang teman mendekat dan berkata, “Mungkin ini hukuman atas dosamu.” Namun, nelayan itu hanya terdiam, hatinya penuh tanya, "Benarkah demikian?"
Demikianlah gambaran penderitaan Ayub. Di saat ia kehilangan segalanya, teman-temannya datang bukan untuk menghibur, melainkan untuk menghakimi. Salah satunya adalah Bildad, yang dalam Ayub 8:1-9 menegaskan bahwa Allah tidak mungkin berlaku tidak adil. Menurut Bildad, jika Ayub mengalami kesengsaraan, maka pasti ada dosa yang tersembunyi dalam dirinya atau keluarganya. Bildad berbicara dari sudut pandang yang sangat kaku, Allah selalu adil, dan karena itu, penderitaan pasti merupakan akibat dari dosa. Ia bahkan menyinggung anak-anak Ayub yang telah mati, menyatakan bahwa mereka dihukum karena pelanggaran mereka sendiri (Ayub 8:4).
Namun, apakah pernyataan ini benar? Benarkah penderitaan selalu merupakan akibat dari dosa? Dalam banyak kasus, memang ada hubungan antara dosa dan konsekuensi yang dialami seseorang. Namun, Bildad melupakan satu hal penting, ada penderitaan yang terjadi bukan karena dosa pribadi, melainkan karena misteri ilahi yang melampaui pemahaman manusia. Ayub sendiri dinyatakan oleh Allah sebagai orang yang benar dan jujur (Ayub 1:8). Jadi, perkataan Bildad tidak selalu berlaku untuk setiap keadaan. Bildad mengajak Ayub untuk mencari hikmat dari orang-orang terdahulu (Ayub 8:8-9). Tidak ada yang salah dari ajakan ini, tetapi ia melewatkan satu hal penting, ia gagal memahami bahwa hikmat sejati bukan hanya soal mengulang pengajaran-pengajaran yang telah lama berlaku, melainkan memahami kebenaran Allah dalam setiap situasi yang unik.
Sahabat Alkitab, mungkin kita pernah bersikap seperti yang Bildad, tergesa-gesa menilai seseorang berdasarkan konsep ‘sebab-akibat’ yang sederhana. Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa ada misteri dalam rencana-Nya. Dari renungan ini, kita belajar beberapa hal yakni jangan cepat-cepat menghakimi penderitaan orang lain. Mungkin ada rencana Allah yang lebih besar di baliknya yang jauh lebih dalam dari pemikiran manusia yang terbatas. Ketika berhadapan dengan orang yang mengalami penderitaan, jangan hanya mencari penyebab, tetapi juga cari maksud Tuhan di dalamnya. Karena adakalanya melalui penderitaan, seseorang beroleh kesempatan untuk mengalami Tuhan lebih dekat. Pada akhirnya kita mungkin bertanya-tanya mengapa badai menerpa hidup kita. Namun, daripada terburu-buru menyalahkan diri sendiri atau orang lain, marilah kita mencari wajah Tuhan dan bertanya, “Apa yang ingin Engkau ajarkan kepadaku melalui semua ini?” Sebab, hikmat sejati bukan hanya tentang memahami keadilan Tuhan, tetapi juga tentang mempercayai-Nya dalam setiap musim kehidupan.