Beberapa tahun terakhir, berbagai berita dan artikel kesehatan mental menyoroti meningkatnya perilaku instant gratification, atau yang biasa disebut sebagai kecanduan kesenangan instan. Mulai dari penggunaan media sosial berlebihan, belanja impulsif, hingga konsumsi hiburan berlebihan dengan dalih self reward. Banyak orang mengaku sulit berhenti, meskipun sadar bahwa kebiasaan itu menguras energi, saldo, mengganggu fokus, bahkan perlahan merusak keseimbangan hidup mereka. Para peneliti menjelaskan bahwa dorongan untuk terus mencari kepuasan cepat dapat melemahkan kemampuan pengendalian diri dan membuat seseorang semakin sulit menemukan kepuasan yang mendalam.
Amsal 23:17-35 berbicara dengan jujur tentang pergumulan serupa. Penulis Amsal mengingatkan, “Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa.” Di sini, hikmat digambarkan sebagai sesuatu yang harus “dibeli”, bukan dengan uang, melainkan dengan kesediaan untuk belajar, mendengar nasihat, dan melatih pengendalian diri (ay. 23). Hikmat menuntut proses dan kesabaran, tetapi menghasilkan masa depan yang sungguh ada dan harapan yang tidak akan hilang (ay. 18).
Sebaliknya, di ayat berikutnya menampilkan gambaran yang tajam tentang perangkap nikmat sesaat. Anggur, misalnya, mula-mula tampak menarik, tetapi pada akhirnya “memagut seperti ular” (ay. 32). Kenikmatan yang tidak dikendalikan perlahan-lahan mencuri kejernihan hati dan akal budi, bahkan membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap dirinya sendiri (ay. 34-35). Apa yang awalnya dicari sebagai pelarian, pada akhirnya justru menjadi belenggu.
Sahabat Alkitab, Amsal mengajak kita untuk melihat bahwa hikmat dan nikmat menawarkan arah hidup yang berbeda. Nikmat itu cepat datang, tetapi cepat pula hilang. Hikmat, sebaliknya, bertumbuh perlahan, tetapi menopang kehidupan secara utuh. Hikmat sering kali menuntut kita berkata “tidak” pada keinginan tertentu, tetapi justru melalui itulah kita menemukan kebebasan yang sejati. Maka, janganlah enggan untuk membuka hati kita terhadap nasihat yang membangun. Sebab ketika kita memilih hikmat, kita bukan sekadar menolak nikmat sesaat, melainkan sedang membangun kehidupan yang penuh makna, damai, dan pengharapan.
























