Ibadah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penghayatan sebagai seorang Kristen. Sayangnya tidak semua orang menghayati ibadah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari spiritualitasnya. Sehingga ibadah dianggap sebagai formalitas saja. Sekedar ikut tetapi tidak hadir secara utuh. Sebagai dampak berkepanjangan, pada akhirnya ibadah tidak mengubah apapun dari hidup seseorang.
Bacaan kita kali ini menyoroti upaya pengkhotbah untuk merefleksikan tindakan ibadah umat sejauh yang dapat diamatinya. Ia membuka percakapannya dengan mempertontonkan sebuah fakta yang langsung menghujam kepada tindak peribadahan umat Israel saat itu. Dengan tegas pengkhotbah berkata, “Jagalah langkahmu ketika engkau berjalan ke Rumah Allah!” Ia memakai penggambaran arak-arakan umat saat hendak ke Bait Allah untuk beribadah. Langkah demi langkah dilalui demi menghampiri-Nya. Namun seruan ini bukan sekedar soal kaki yang melangkah ke rumah Tuhan, tetapi langkah kehidupan yang selama ini ditempuh dan dipilih. Sudahkah setiap orang melangkah dengan penuh kehati-hatian, mempertimbangkan segala keputusan, sehingga setiap alur kehidupan semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya bukan malah semakin menjauhi Tuhan.
Ibadah merupakan gerbang untuk mengajak umat menilik diri serta memperbaikan pikiran dan laku hidup seturut kehendak-Nya. Dari pernyataan di ayat 1, pengkhotbah sekaligus menegur orang-orang pada saat itu yang memanipulasi ritual kurban demi kepentingannya. Kurban seolah-olah menjadi jalan pintas untuk terlihat saleh dan baik, serta menyelesaikan dosa walaupun tidak ada penyesalan sama sekali. Hal tersebut senada dengan seruan para Nabi yang menolak pertunjukan kesalehan pribadi melalui pertunjukkan ritus kurban, sementara itu tidak ada yang berubah dari tingkah lakunya.
Sahabat Alkitab, bukankah dalam hakikat diri yang telah terbenam dalam dosa, manipulasi-manipulasi peribadahan, ritus, dan berbagai bentuk kesalehan pribadi lainnya sangat mungkin terjadi. Orang-orang membuat ibadah dan berbagai disiplin rohani sebagai “jalan pintas” untuk menampilkan kesalehan. Padahal dari hatinya, tidak tercermin kebaikan, sebagai buah dari penyembahan kepada Allah. Hari Senin sampai Sabtu, kita menghamba pada sang hawa nafsu, sementara di hari Minggu setiap orang berlomba tampil sesaleh mungkin. Seolah-olah di satu hari tersebut segala kejahatan yang dilakukan pada sebagian besar minggu tersebut menjadi sirna. Di segi dunia yang lain, para penguasa sibuk menindas dan merampas apa yang bisa dirampas, menyisihkan sedikit rampasannya untuk membangun tempat-tempat ibadah. Seakan tindakan tersebut dapat melapangkan jalannya menuju surga. Apa yang sesungguhnya diinginkan oleh Sang Pemelihara Kehidupan lewat berbagai ibadah yang ada? Ia menghendaki tindakan bakti yang tulus. Hidup yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah. Ibadah adalah pengingat akan kebergantungan serta ketertundukkan kita seutuhnya kepada Allah, bukan alat manipulasi publik untuk terlihat saleh.
























