Penyesalan biasanya datang ketika segala sesuatu sudah lewat. Beribu kata “andaikan atau andai saja” terucap secara sadar atau tidak sadar. Kembali ke kondisi semula sudah tidak memungkinkan, satu hal yang kita bisa lakukan adalah memperbaiki apa yang telah terjadi dengan terus melangkah serta berefleksi atas segala sesuatu yang telah terjadi. Inilah yang sedang dihadapi oleh kerajaan Yehuda menurut Yesaya pasal 20.
Yehuda tengah berada dalam tekanan geopolitik yang kurang menguntungkan baginya. Asyur menjadi kekuatan yang begitu digdaya. Negara-negara lain sibuk menjalin koalisi untuk mengalahkan asyur. Salah satu yang juga disebutkan dalam perikop kita adalah pemberontakan Asdod, sebuah daerah di Filistin, melawan Asyur dengan dibantu oleh Mesir. Raja Hizkia sendiri juga sempat tergoda untuk bersekutu dengan Mesir serta tergoda melawan Asyur. Menariknya di tengah strategi politis tersebut, Allah tampil dan mengingatkan Yehuda untuk tidak mengandalkan negara manapun dan bersekutu dengannya.
Maka Allah memerintahkan Yesaya melakukan sebuah tindakan simbolis sebagai pesan kepada umat yakni dengan membuka semua yang melekat pada badannya serta berjalan bertelanjang dada dan bertelanjang kaki. Kain simbol perkabungan dililitkan di pinggangnya. Selama tiga tahun Yesaya melakukan hal tersebut dan menjadi tontonan, apa maksudnya? Allah hendak menunjukkan bahwa seperti ketelanjangan yang dialami Yesaya, demikianlah kerapuhan bangsa-bangsa yang dikira kuat oleh Yehuda. Mereka akan runtuh dan jatuh. Saat itu terjadi semuanya sudah terlambat bagi Yehuda. Seandainya mereka tetap mengandalkan Allah saja.
Ketidakberdayaan dan ketidaktahuan kita sebagai manusia seringkali memang menakutkan. Namun justru saat itulah kita diundang untuk berserah dan bergantung kepada Dia yang tidak terbatas. Saat ini bukankah itu yang terjadi? Berita-berita yang menggambarkan betapa buruknya kondisi dunia seringkali ditampilkan. Krisis demi krisis mencuat dan menjadi bagian hidup kita. Di saat inilah Allah mengundang kita mengandalkan Dia senantiasa. Hanya Dia yang menjadi satu-satunya sumber kekuatan kita.

























