Ada sebuah kecenderungan yang cukup manusiawi, yaitu ketika berada dalam kesulitan, kita mudah mengingat Tuhan. Ketika hidup terasa berat, ketika jalan keluar tidak terlihat, dan ketika kemampuan kita tidak lagi cukup, doa menjadi tempat kita bersandar. Namun ketika keadaan mulai membaik, masalah terselesaikan, dan hidup kembali terasa aman, perlahan kita lupa bahwa pertolongan yang kita alami berasal dari Tuhan. Hal ini bukan berarti karena kita sengaja menjauh dari Tuhan. Terkadang, rasa aman yang kita miliki perlahan membuat kita merasa mampu berdiri sendiri. Kita mulai lebih percaya pada apa yang ada dalam genggaman kita: pencapaian, kekuatan, kemampuan, dan hal-hal yang berhasil kita kumpulkan.
Pergumulan seperti inilah yang tampak dalam Yesaya 39. Hizkia bukan seseorang yang tidak mengenal Tuhan. Justru beberapa pasal sebelumnya memperlihatkan bagaimana ia datang kepada Tuhan dalam keadaan paling genting. Ketika Yerusalem diancam oleh Asyur, Hizkia membawa surat ancaman itu ke Bait Allah dan membentangkannya di hadapan Tuhan. Ketika sakit dan berhadapan dengan kematian, ia kembali berdoa dengan air mata. Hizkia tahu bahwa hidupnya bergantung kepada Allah.
Namun setelah mengalami pemulihan, datanglah utusan dari Babel membawa hadiah dan salam. Dalam kesempatan itu, Hizkia memperlihatkan seluruh isi istananya: emas, perak, rempah-rempah, persenjataan, dan segala sesuatu yang ada dalam perbendaharaannya. Sepintas tindakan ini mungkin terlihat seperti keramahan atau penghormatan kepada tamu. Namun Nabi Yesaya melihat sesuatu yang lebih dalam. Ketika bertanya, “Apakah yang telah mereka lihat di istanamu?”, Hizkia menjawab bahwa mereka telah melihat semuanya.
Di sinilah terdapat kontras yang menarik. Dalam Yesaya 37, Hizkia membentangkan surat ancaman di hadapan Tuhan karena ia sadar bahwa dirinya tidak berdaya. Namun dalam Yesaya 39, Hizkia justru membentangkan seluruh miliknya di hadapan Babel. Ia menunjukkan apa yang ia punya, seolah-olah tanpa sadar berkata, “Lihatlah kekuatan yang ada padaku.” Apa yang semula diterima sebagai berkat dari Allah perlahan bergeser menjadi sumber rasa aman yang ia banggakan.
Sahabat Alkitab, kisah Hizkia mengingatkan bahwa ujian iman tidak hanya datang melalui penderitaan, tetapi juga melalui berkat. Ketika Tuhan mempercayakan keberhasilan, pemulihan, dan rasa aman kepada kita, jangan sampai perhatian kita bergeser dari Sang Pemberi kepada apa yang telah diberikan-Nya. Sebab pada akhirnya, yang memelihara hidup kita bukanlah apa yang kita miliki, melainkan Tuhan yang setia menyertai kita.
























