Seringkali kita memisahkan dengan sangat tajam, apa yang rohani dan duniawi. Dunia sehari-hari berjalan dengan caranya sendiri, sementara kerohanian dan spiritualitas mengisi celah-celah kosong di hari Sabtu atau Minggu. Akibatnya orang-orang Kristen cenderung menjalani “kehidupan ganda”. Pada jumlah hari yang lebih banyak mereka mengabdikan diri kepada dunia sementara sisanya baru hidup untuk dan bagi Tuhan.
Dalam bacaan kita kali ini nampaklah bahwa kerusakan yang dialami Yehuda tidak hanya bersifat sosial-politik, melainkan juga rohani spiritual. Keduanya bahkan saling mempengaruhi satu sama lain. Nubuatan di ayat 9-24 mengungkapkan jerit kesedihan hati Allah yang melihat nabi-nabi dan para imam tidak ubahnya orang fasik. Bahkan bait Allah kerap menjadi tempat mereka melakukan kejahatan (ay.11).
Para Nabi tidak lagi menyuarakan kebenaran atau seruan kenabiannya, melainkan larut dalam kejahatan. Sementara itu keadilan semakin langka di Yehuda. Orang-orang berlomba melakukan apa yang jahat dan bukan kebaikan. Tuhan tidak tinggal diam dalam kondisi tersebut. Ia akan menegakkan keadilan-Nya. Murka Tuhan akan melahap mereka, laksana pusaran angin puting beliung yang akan menerpa kepala orang-orang fasik (ay. 19). Tuhan begitu marah karena para Nabi ini menyelubungi suara dan hasrat mereka seolah-olah itu suara Tuhan, padahal Tuhan tidak pernah mengutus mereka (ay. 21).
Sahabat Alkitab, marilah tunduk kepada Allah dan menaati-Nya senantiasa. Allah menghendaki agar hidup kita menjadi satu kesatuan yang utuh. Menyembah Tuhan dalam seluruh keberadaan kita dan menolak untuk berkompromi terhadap ketidakbenaran. Para Nabi dan Imam lupa akan tugas dan panggilan mereka. Seharusnya mereka menjadi barisan terdepan dalam mengajak seluruh bangsa untuk menyembah Allah. Malah yang terjadi sebaliknya, sungguh memprihatinkan. Semoga kita pun tidak melupakan tugas kita untuk memelihara hubungan yang benar dengan-Nya serta mewujudkan kehidupan yang seturut kehendak-Nya.
























