Bincang Alkitab | Hortensius Mandaru, SSL.
Kasih selalu dianggap sebagai warisan dan ajaran dari Tuhan Yesus yang paling khas dan menjadi identitas fundamental iman Kristen. Sejak awal, ajaran Yesus menempatkan kasih sebagai hukum utama yang merangkum seluruh kehendak Allah. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama bukan sekadar prinsip moral, melainkan inti dari kehidupan beriman. Namun, di dalam hukum kasih ini terdapat satu perintah yang melampaui batas kewajaran manusia: “Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44). Perintah ini tampak bertentangan dengan naluri dasar manusia yang cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan, atau setidaknya menjaga jarak dari mereka yang menyakiti. Karena itu, perintah ini sering dipandang sebagai bentuk kasih yang “mustahil”, suatu impossible love.
Kesaksian Injil: Perintah yang Otentik dan Radikal
Perintah untuk mengasihi musuh secara eksplisit hanya ditemukan dalam Injil Matius (5:44) dan Injil Lukas (6:27-36). Dalam Injil Lukas, perintah ini bahkan diperluas dengan sejumlah tindakan konkret: berbuat baik kepada mereka yang membenci, memberkati mereka yang mengutuk, berdoa bagi mereka yang berbuat jahat, serta memberi tanpa mengharapkan balasan. Gaya bahasa perintah ini singkat, padat, dan provokatif. Ciri khas sabda Yesus yang mudah diingat dan menantang pendengarnya secara eksistensial.
Para ahli Perjanjian Baru secara luas sepakat bahwa perintah ini mencerminkan suara historis Yesus sendiri. Tidak ada tokoh lain dalam tradisi Yahudi maupun dalam literatur sezaman yang merumuskan perintah ini secara eksplisit dan tegas. Yesus tidak hanya mengulangi tradisi lama, melainkan memperluasnya secara radikal. Ia menggabungkan hukum kasih kepada Allah dan sesama dari Taurat menjadi satu kesatuan, dan kemudian mendorongnya sampai pada batas paling ekstrem: kasih yang melampaui batas relasi timbal balik, bahkan menjangkau musuh.
Perintah ini bersifat apodiktik. Langsung dan tanpa syarat. Tidak ada pengecualian, tidak ada pembatasan identitas musuh, dan tidak ada kondisi tertentu yang harus dipenuhi. Musuh yang dimaksud tidak dibatasi pada kelompok tertentu, melainkan mencakup siapa saja yang berada dalam posisi permusuhan.
Makna Teologis Mengasihi Musuh: Lebih dari Sekadar Tidak Membalas
Mengasihi musuh tidak identik dengan sikap pasif atau sekadar tidak membalas kejahatan. Kasih yang diajarkan Yesus bersifat proaktif. Kasih ini berarti secara sadar menghendaki yang baik bagi musuh dan secara nyata melakukan kebaikan bagi mereka. Fokusnya bukan pada perasaan, melainkan pada kehendak dan tindakan.
Dengan demikian, mengasihi musuh bukanlah perintah untuk memiliki perasaan hangat atau simpati terhadap mereka yang menyakiti kita. Sebaliknya, perintah ini mengarah pada komitmen moral dan spiritual untuk tetap menghendaki kebaikan bagi mereka, terlepas dari respons mereka. Bahkan, kasih ini tidak bergantung pada kemungkinan perubahan atau pertobatan musuh. Kasih tetap diberikan, bukan karena musuh layak menerimanya, tetapi karena kasih itu sendiri merupakan panggilan iman.
Bentuk konkret dari kasih ini mencakup doa bagi musuh, memberkati mereka, dan melakukan tindakan kebaikan tanpa mengharapkan balasan. Dengan demikian, kasih menjadi tindakan yang melampaui logika timbal balik dan masuk ke dalam dimensi anugerah.
Latar Belakang Perjanjian Lama dan Tradisi Yahudi
Dalam Perjanjian Lama, tidak ditemukan perintah eksplisit untuk mengasihi musuh dalam bentuk seperti yang diajarkan Yesus. Namun, terdapat sejumlah prinsip yang mempersiapkan jalan bagi ajaran ini. Kitab Amsal, misalnya, melarang pembalasan dendam dan mendorong sikap menyerahkan keadilan kepada Allah. Amsal juga menganjurkan memberi makan musuh yang lapar dan memberi minum musuh yang haus. Namun, motivasi tindakan ini sering kali masih terkait dengan harapan akan pembalasan ilahi atau bahkan rasa malu yang ditimbulkan pada musuh.
Dalam hukum Taurat, prinsip “mata ganti mata” bukanlah dorongan untuk balas dendam, melainkan pembatasan agar pembalasan tetap proporsional dan tidak berlebihan. Taurat juga mendorong tindakan kebaikan terhadap musuh, seperti menolong hewan milik musuh yang kesusahan. Namun, semua ini masih berada dalam kerangka etika sosial yang bertujuan menjaga harmoni dalam masyarakat.
Tradisi Yahudi sezaman Yesus, termasuk komunitas Qumran, bahkan secara eksplisit mengajarkan kasih kepada sesama anggota komunitas dan ‘kebencian’ terhadap pihak luar. Dengan demikian, perintah Yesus untuk mengasihi musuh merupakan suatu terobosan teologis yang melampaui tradisi yang ada.
Kesinambungan dalam Perjanjian Baru
Dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru lainnya, seperti Roma 12:9-21, Rasul Paulus menggemakan semangat yang sama: memberkati mereka yang menganiaya, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Namun, Paulus tetap tidak merumuskan perintah eksplisit dalam bentuk yang sama seperti Injil. Hal ini menjadi petunjuk bahwa Injil Matius dan Lukas mempertahankan formulasi asli sabda Yesus yang paling radikal.
Paulus juga memberikan dasar teologis yang mendalam, bahwa Allah sendiri telah mengasihi manusia ketika manusia masih menjadi seteru-Nya (Roma 5:10). Dengan demikian, kasih kepada musuh bukan sekadar tuntutan moral, melainkan refleksi dari tindakan Allah sendiri.
Teladan Allah dan Kristus sebagai Dasar Etika Kasih
Perintah mengasihi musuh berakar pada karakter Allah sendiri. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada manusia bukan ketika manusia layak menerimanya, melainkan ketika manusia masih berada dalam keadaan berdosa dan berseteru atau bermusuhan dengan-Nya. Kasih Allah bersifat inisiatif, tanpa syarat, dan penuh anugerah.
Yesus sendiri menjadi teladan tertinggi dari kasih ini. Ia menerima mereka yang dianggap berdosa dan ditolak masyarakat. Ia mengajarkan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, yang menunjukkan kasih melampaui batas permusuhan. Bahkan di atas salib, Yesus berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 24:34). Dalam diri Yesus, kasih kepada musuh bukan hanya diajarkan, tetapi diwujudkan secara nyata.
Penutup
Dalam dunia yang ditandai oleh konflik, kekerasan, dan polarisasi, perintah mengasihi musuh tetap relevan dan mendesak. Kasih kepada musuh tidak berarti mengabaikan keadilan atau menyerah pada kejahatan. Sebaliknya, kasih ini mengubah cara orang percaya memandang musuh. Musuh bukan lagi sebagai objek kebencian, melainkan sebagai sesama ciptaan Allah. Kasih kepada musuh juga menuntut transformasi batin. Ini berarti menolak kebencian, menolak dehumanisasi, dan tetap menghendaki kebaikan bahkan bagi mereka yang dianggap lawan. Dalam konteks konflik sosial maupun politik, kasih ini menjadi dasar bagi rekonsiliasi dan perdamaian yang sejati.
Mengasihi musuh memang tampak mustahil dari sudut pandang manusia. Perintah ini melampaui kemampuan alami manusia dan menantang naluri dasar untuk membalas. Namun, dalam perspektif iman Kristen, kasih ini menjadi mungkin karena berakar pada kasih Allah sendiri. Kasih kepada musuh bukan sekadar tuntutan moral, melainkan panggilan untuk mengambil bagian dalam karakter Allah. Dengan mengasihi musuh, orang percaya mencerminkan identitasnya sebagai anak-anak Allah. Kasih ini menjadi tanda kedewasaan iman dan kesaksian nyata tentang kuasa transformasi Injil.
Pada akhirnya, perintah mengasihi musuh mengundang setiap orang percaya untuk melampaui batas kemanusiaannya dan masuk ke dalam dimensi ilahi kasih. Apa yang tampak sebagai impossible love bagi manusia, menjadi possible love ketika orang percaya hidup dalam kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi.



















