(Membaca Kisah Penciptaan di Kejadian 1-2)
Bincang Alkitab | Hortensius F. Mandaru, SSL
Kisah penciptaan dalam kitab Kejadian 1-2 selalu memikat untuk direnungkan. Dalam narasi ini, Allah menilai ciptaan-Nya “baik” pada setiap tahap proses penciptaan. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan “baik”? Apakah “baik” berarti ciptaan sudah lengkap, sempurna, dan bebas dari risiko sejak awal? Bp. Hortensius F. Mandaru, SSL, menekankan bahwa pembacaan Kejadian harus dilihat sebagai narasi teologis tentang penciptaan, bukan sekadar doktrin tentang asal-usul atau penciptaan ex nihilo. Menurutnya, menilai “baik” dalam konteks ini lebih berhubungan dengan fungsi, tujuan, dan keteraturan ciptaan.
Dua Narasi Penciptaan
Kitab Kejadian menyajikan dua narasi penciptaan yang sering menjadi fokus studi: Kejadian 1:1-2:4a dan Kejadian 2:4b–25. Kedua versi ini berbeda dalam gaya dan penekanan.
Pada Kejadian 1, Allah digambarkan sebagai entitas transenden yang berfirman, dan dengan firman-Nya, segala sesuatu terjadi. Pola repetitif “Jadilah… dan jadilah demikian” menekankan kekuasaan dan keteraturan sabda Tuhan, serta refleksi liturgis dari lingkungan imam-imam Yahudi. Sedangkan Kejadian 2 menampilkan Allah secara lebih antropomorfis: Allah membentuk manusia dari tanah, berinteraksi langsung, dan terlihat seperti seorang pengrajin yang terlibat dalam proses penciptaan. Para ahli menilai versi kedua lebih tua secara tradisi, dan menekankan keterlibatan langsung Allah dalam penciptaan manusia, menonjolkan aspek evaluatif dan kreatif-Nya.
Konsep “Baik” dan Fungsi dalam Kosmologi Kuno
Untuk memahami makna “baik” dalam kisah penciptaan, kita perlu terlebih dahulu masuk ke dalam cara berpikir masyarakat Timur Tengah kuno yang melatarbelakangi narasi Kejadian 1-2. Berbeda dengan cara pandang modern yang sering menekankan aspek materi, apa unsur pembentuknya dan bagaimana proses terjadinya, dunia kuno lebih melihat segala sesuatu dari segi fungsinya. Sesuatu dipahami sebagai “ada” dan bermakna sejauh ia memiliki peran dalam kehidupan.
Dalam cara pandang ini, matahari dan bulan tidak terutama dipahami dari hakikatnya, melainkan dari fungsinya: memberi terang dan mengatur ritme siang dan malam. Demikian pula air, daratan, tumbuhan, dan hewan dilihat dalam kaitannya dengan perannya sebagai ruang dan penopang kehidupan. Dengan demikian, kisah penciptaan tidak dimaksudkan sebagai penjelasan ilmiah tentang asal-usul materi, melainkan sebagai kesaksian iman tentang keteraturan dan makna ciptaan dalam kehidupan.
Cara pandang ini juga berkaitan dengan kosmologi tripartit yang umum pada masa itu. Alam semesta dipahami dalam tiga lapisan: alam atas (langit; šāmayim), yang dibatasi oleh raqiaʿ—sebuah kubah cakrawala; alam tengah (bumi; ’eretz ḥayyim), tempat manusia dan makhluk hidup; serta alam bawah (’eretz taḥtiyyot), yaitu bagian terdalam atau dunia bawah. Dalam kerangka ini, setiap bagian ciptaan memiliki tempat dan perannya masing-masing dalam keseluruhan tatanan yang teratur. Penilaian ini pertama-tama menunjuk pada nilai yang melekat pada ciptaan itu sendiri. Setiap ciptaan sudah dinilai baik bahkan sebelum dimanfaatkan. Dengan kata lain, ciptaan itu bernilai bukan karena kegunaannya bagi manusia, melainkan karena ia ada sesuai dengan kehendak dan rancangan Allah.
Namun, kisah ini tidak berhenti pada penilaian “baik” atas masing-masing ciptaan. Pada akhirnya, setelah seluruh ciptaan tersusun, barulah dikatakan bahwa semuanya itu “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Ungkapan ini mengajak kita melihat sesuatu yang lebih utuh. Pertama, seluruh ciptaan telah lengkap dan berada pada tempatnya, masing-masing menjalankan fungsi yang sesuai dalam suatu keteraturan yang saling melengkapi.
Kedua, penilaian “sangat baik” ini muncul setelah tindakan terakhir Allah, yaitu membagikan makanan kepada seluruh makhluk hidup (Kejadian 1:29-30). Di sini tampak bahwa kehidupan seluruh ciptaan bersumber dari Allah, dan pada saat yang sama setiap makhluk memperoleh bagian yang cukup untuk hidup. Dalam gambaran ini, tercermin suatu keteraturan yang tidak hanya teologis, tetapi juga menyentuh dimensi kehidupan yang sangat konkret. Dengan demikian, “sangat baik” menggambarkan suatu tatanan ciptaan yang utuh dan harmonis: setiap ciptaan berada pada tempatnya, menjalankan perannya, hidup dalam relasi yang saling bergantung dan saling menopang. Tidak ada yang perlu merebut atau merampas, karena semuanya telah menerima bagiannya.
Melalui cara pandang ini, kita dapat melihat bahwa “kebaikan” dalam kisah penciptaan bukanlah kesempurnaan yang statis.
Penciptaan sebagai Proses Dinamis
Verba yang digunakan dalam Alkitab untuk penciptaan sangat bervariasi: bara (menciptakan), asah (menjadikan), yatzar (membentuk), banah (membangun), dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa penciptaan dipahami sebagai proses kompleks dengan banyak nuansa dan aspek. Kejadian 1 menekankan kekuasaan Allah melalui sabda-Nya, sedangkan Kejadian 2 menekankan keterlibatan Allah dalam interaksi langsung dengan ciptaan, khususnya manusia.
Menariknya, narasi Kejadian memperlihatkan ‘evaluasi’ terhadap ciptaan. Setiap tahap dinilai “baik”, tetapi setelah penciptaan manusia dan pembagian makanan bagi semua makhluk, barulah dinyatakan “sangat baik” (Kejadian 1:31). Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan dicapai dalam integrasi, keterpaduan, dan keseimbangan seluruh ciptaan.
Sempurna vs. Baik: Keterbatasan dan Proses Penyempurnaan
Kata “sempurna” dalam bahasa Indonesia berarti utuh, lengkap, dan komplit. Dalam Kejadian, penciptaan tidak digambarkan sebagai sempurna sejak awal. Allah mengevaluasi ciptaan-Nya dan menambahkan penolong bagi manusia (Kejadian 2:18-24) setelah manusia sendiri ada, menunjukkan proses perbaikan dan penyempurnaan. Tuhan mencoba beberapa solusi sebelum menemukan yang tepat, yang mencerminkan proses kreatif dan evaluatif.
Konsep hari ketujuh, saat Allah berhenti bekerja, juga menekankan penghargaan terhadap proses dan irama waktu. Allah mengikuti proses yang bertahap, bukan sekadar instan, menunjukkan bahwa penciptaan adalah aktivitas dinamis yang menghormati ruang dan waktu.
Ciptaan dan Keterlibatan Materi
Hortensius menekankan bahwa Allah menggunakan materi yang sudah ada dalam ciptaan-Nya. Air, tanah, dan bahan-bahan lain dimanfaatkan untuk membentuk daratan, tumbuhan, hewan, dan manusia. Dengan demikian, ciptaan bukanlah tindakan sekali jadi yang statis, melainkan proses kreatif yang terbuka, melibatkan risiko, keterbatasan, dan interaksi dengan unsur-unsur yang sudah ada.
Allah bahkan memberdayakan ciptaan itu sendiri: tanah menumbuhkan tumbuhan (Kej. 1:11), air menampakkan makhluk hidup (Kej. 1:20), bumi mengeluarkan binatang (Kej. 1:24). Hal ini menegaskan bahwa ciptaan saling terkait, bergantung, dan terus berkembang.
Penderitaan, Keterbatasan, dan Hukum Alam
Keterbatasan ciptaan menimbulkan risiko dan potensi penderitaan. Bahkan sebelum dosa manusia, hukum alam sudah ada: manusia dapat jatuh dari pohon, binatang buas dapat memangsa manusia, bencana alam dapat terjadi. Dosa Adam dan Hawa menambah beban, tetapi tidak menciptakan risiko baru; hanya memperberatnya (Kej. 3:16–19). Dengan demikian, ciptaan baik namun terbuka untuk perkembangan dan penyempurnaan.
Kitab Pengkhotbah 9:11 menegaskan bahwa dunia ini berproses dan memiliki unsur acak: keberhasilan dan nasib manusia tidak selalu dapat diprediksi. Hal ini menegaskan bahwa kehidupan manusia dan ciptaan lainnya terjadi dalam keterbatasan, risiko, dan dinamika yang Allah izinkan untuk mengembangkan ciptaan menuju kesempurnaan definitif di masa depan.
Penutup
Kisah penciptaan Kejadian 1-2 menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan niat dan tujuan yang baik. Namun, “baik” bukan berarti sempurna atau bebas risiko. Penciptaan adalah proses yang dinamis, melibatkan evaluasi, keterbatasan, interaksi dengan materi dan ciptaan lain, serta terbuka untuk penyempurnaan. Manusia diajak untuk ikut serta dalam proses ini, menilai, mengembangkan, dan menjaga ciptaan agar mencapai kesempurnaan yang definitif.
Dengan kata lain, seluruh ciptaan “baik”, tetapi belum sempurna. Proses kreatif, evaluatif, dan terbuka inilah yang menuntun ciptaan, termasuk manusia, menuju penyempurnaan yang akan tuntas kelak. Narasi Kejadian mengajak kita untuk memahami dunia sebagai ciptaan yang bernilai, dinamis, dan penuh makna, yang menantang kita untuk menghargai proses, keterbatasan, dan tanggung jawab dalam menjaga keseimbangan ciptaan Allah.
TRANSKRIP
Kisah Penciptaaan dalam Kej.1-2 selalu saja menarik untuk disimak. Allah menciptakan segala sesuatu dan menilainya “baik”. Apa artinya “baik”? Apakah itu berarti segala sesuatunya sudah lengkap dan sempurna sejak awal mula? Apakah sebelum manusia “berdosa”, dunia ini sungguh sudah menjadi lingkungan yang sempuna, bebas resiko dan tidak berbahaya bagi manusia?
Kita biasa sekali dengar cerita tentang penciptaan di kitab kejadian. Bahkan kalau kita lihat di bab 1, bab 2, sampai bab 3, Mungkin setiap kata itu ada bukunya. Jadi orang menulis begitu banyak tentang kata-kata, cerita, banyak teori tentang ini. Jadi kita mesti jelaskan di awal kita ini Lebih melihat cerita ini sebagai semacam narasi tentang penciptaan. Jadi bukan kita bahas tentang dogma, tentang alasan pencipta, Itu kan bagian dari kata-kata studi teologi, dogmatic. Kita tidak juga menyinggung tentang misalnya doktrin yang sering diulang-ulang ya Creatio ex nihilo, penciptaan dari ketiadaan, itu kan abstrak sekali. Dan itu memang ada teksnya, kalau mau cari itu carilah di kitab-kitab yang agak belakangan. Di Deuterokanonika itu ada, mulai dari 2 Makabe 7:28 atau di Perjanjian Baru ada beberapa teks yang eksplisit. Misalnya Roma 4: 17, surat Paulus disitu katakan dikatakan bahwa Allah menciptakan dari sesuatu yang tidak ada. Atau dari kitab Ibrani 11: 3. Jadi doktrin itu katakanlah tidak terganggu. Ada teks-teks yang eksplisit, Tapi apakah perlu dicari di cerita yang begitu indah di kejadian pasal 1? Nanti kita lihat ya. Karena memang kalau mau buat suatu, katakanlah doktrin Alkitabiah atau apapun namanya, sebaiknya dicari dari keseluruhan Alkitab. Jangan dari 1-2 teks saja. Karena lebih sehat kalau kita memakai keseluruhan alkitab, Dimana banyak suara-suara yang saling melengkapi. Karena alkitab sendiri kan secara historis berkembang Pemahaman-pemahamannya, juga berkembang makin lama makin utuh, makin lengkap dan itu akan diteruskan semua dalam sejarah gereja, dalam ajaran-ajaran.
Kita fokus ke cerita Kejadian di awal, dan menurut para ahli memang ada dua. Kita tahu semua ada dua versi lah ya Ada banyak teori tentang bagaimana dua cerita ini berkaitan. Ada Kejadian 1: 1-4, sampai Kejadian 2: 4 A. Lalu Kejadian 2:4 B Mulai versi yang kedua, katakanlah, sengaja dalam cetakan TB dari Lembaga Alkitab Indonesia Kita sedikit buat ada jarak di 4 A dan 4 B. Disitu sudah kelihatan memang ini nampaknya ada dua cerita yang mungkin aslinya pernah beredar sendiri, banyak teori tentang itu. Tapi sekarang sudah dipersatukan. Kira-kira kenapa orang bilang Mesti buat dua cerita yang ada kemiripannya Tapi ada perbedaannya? memang orang bilang Pembacanya mungkin dalam konteksnya yang berbeda Lalu lahir ya Ada yang berteori satunya lebih tua Justru yang di pasal 2 itu yang lebih tua, Sedangkan di pasal 1 dari zaman pembuangan dengan berbagai teori. Tapi juga jangan lupa Kebiasaan masyarakat dahulu, Mereka memang mengumpulkan semua cerita tradisi dari leluhur: Yang mereka kenal secara lisan Mereka kumpulkan semua, Apapun isinya apapun versinya Mereka satukannya. Semuanya itu dianggap sebagai warisan Yang mereka harus pelihara. Itu memang kita yang sekarang meneliti secara redaksi dan lain sebagainya Kita dibingungkan oleh itu. Tapi untuk mereka yang awal sekali Mengumpulkan khasanah cerita-cerita Atau pandangan-pandangan iman Nenek moyang mereka secara lisan Lalu mau ditulis, dikumpulka. Mereka akan kumpulkan semua Mereka akan terima itu sebagai bagian dari iman mereka Warisan iman mereka. Nah kalau lihat 2 cerita itu memang ada sedikit perbedaan tekanan. Di kitab Kejadian 1 kita lihat Tuhan atau Allah Hanya berfirman Berfirman Semuanya jadi. Jadi dia berfirman Jadi jadilah ini lalu Ada beberapa tempat dia katakan Maka Allah menjadikan, Tapi dia tetap jauh, Tetap transcendent. Dia mengambil jarak. Jarak itu hanya terjembatani oleh firmannya, Oleh apa yang dia lakukan.
Itu beda dengan di kitab Kejadian 2. Kalau lihat kejadian 2, Salah satu yang menarik itu Waktu dia ciptakan manusia. Dia pakai tanah Seperti pengrajin tanah Lihat. Jadi saya kalau bayangkan Pasti dia berkeringat, Tangannya kotor. Jadi benar-benar dilukiskan seperti manusia, atau antropomorfis. Jadi pelukisan di pasal 2 itu Lebih melihat Allah yang terlibat langsung, Bekerja. Menurut para ahli Hal-hal yang terlalu nyata Agak manusiawi seperti ini Mencerminkan teks yang lebih tua, Sedangkan teks awal yang semacam syair Liturgis Allah tetap agung Jauh, mulia, Hanya berfirman Semua jadi, Dianggap sebagai Gubahan katakanlah Dari lingkungan para imam Dalam konteks liturgy. Dengan refrein yang diulang-ulang terus: Jadilah ini, ini jadi. Lalu semuanya dilihat Tiap kali dibuat, baik Akhirnya menjadi sangat baik. Jadi semua refrein yang terus berulang.
Tentu cerita ini Punya konteks kelahirannya. Kita harus andaikan. Jadi teks Alkitab kita lahir Dalam konteks tertentu, Berarti dia tulis Berdasarkan pola pikir tertentu. Kalau kita lihat kitab kejadian, Kisah penciptan ini Dia tentu tidak bisa keluar dari Cara pandang zaman dia Dan untuk konteks zaman itu Cara pandang yang sebenarnya Di-share oleh semua masyarakat Timur tengah kuno zaman itu, Itu umumnya tidak berfokus ke materi. Kita kan mungkin pengaruh sains ya, Kita lihat unsur-unsur materi Kandungannya apa Bagaimana persis benda ini terbentuk, Itu kan fokus pada materi. Padahal untuk pola pikir zaman itu Mereka lebih lihat sesuatu itu Berfungsi atau tidak. Jadi fungsi Kalau ada matahari Fungsinya untuk apa? Memberi terang. Kalau bulan juga fungsinya Memberi terang. Karena mereka lihat itu Di malam hari yang memberi terang Bulan, bintang. Itu berfungsi untuk mereka Mereka tidak meneliti apa benar Bulan pada dirinya sendiri itu punya Sumber terang, bukan karena mereka tidak sanggup, Tapi mereka lihat itu berfungsi Atau benda-benda itu berfungsi mengatur Siang dan malam. Mengatur irama Kehidupan. Jadi fungsi-fungsi itu Yang membuat mereka merasa, “Oh benda ini exist, Dia ada”. Jadi berkaitan selalu Dengan maknanya, Dengan fungsinya. Bukan dengan Materi pada dirinya sendiri. Itu mungkin menjadi Kesulitan kita. Kesulitan kita yang suka sains, Apalagi pengaruh ilmu-ilmu modern, Kita selalu berpikirnya Adanya barang ini, materi ini kenapa? Untuk mereka tidak. Oh kami lihat matahari berfungsi; Bulan berfungsi; Ada yang mereka atur; Air, daratan itu ada Kenapa? Karena enjadi tempat Orang hidup Orang tinggal, jadi tempat Tumbuhan bertumbuh. Jadi ada fungsinya. air juga begitu. Dikatakan, mereka cerita Karena punya fungsinya: Tempat ikan-ikan. Mereka tidak bercerita Tentang CO2, Tentang udara, Mereka belum sampai melihat bahwa Itu penting sebenarnya. Jadi mereka berdasarkan Pengamatan Dalam konteks zamannya, Dengan semua kelebihan dan juga Keterbatasan menurut ukuran sekarang, Itulah yang mereka ceritakan. Jadi pola pikirnya Fokus ke fungsi Bukan materi.
Juga yang sudah kita tahu semua Cara mereka Memandang alam semesta, Yang orang sebut kosmologi. Biasanya dibagi menjadi 3: Dunia atas atau Dunianya yang Ilahi, Allah Yang disebut dengan langit, Syamayim, Yang dibatasi oleh Sebuah Raqia Sebuah Tidak terjemahkan dengan cakrawalah. Tapi selalu untuk mereka Konsepnya itu suatu yang Solid, Firmament, itu cocok, Suatu yang keras Yang bisa membatasi Dunia atas. Nanti kita lihat air di atas itu dibatasi oleh itu. Lalu ada Dunia bawah, kita, Bumi Eretz, Eretz Ha-Chayim, Bumi atau tempat Orang-orang hidup. Lalu masih ada dunia Bawah bumi, Eretz Tachtiyyoth, bumi bagian bawah. Jadi tiga Pembagian. itu untuk zaman ini Udah lain cara berpikir, Cara pandang yang untuk Zaman , Wilayah itu umum sekali. Dia menceritakan Kisah Kejadian penciptan Dengan pola pikir Fungsi. Orientated, Berfokus pada fungsi dan dalam pola Yang orang sebut kosmologi Tiga Bagian itu. Cukup dengan latar belakang umum itu saja Kita sudah bisa melihat Bagaimana itu diceritakan Dalam kitab kejadian 1.
Jadi kalau kita ngomong tentang penciptaan itu jelas kita bedakan dengan nature, Alam. Kalau kita sebut penciptaan itu Konsep teologi Kita mengasumsikan Bahwa ada Sang pencipta. Bahwa Semua ciptaan ini tidak independen, Tapi Bergantung pada sang pencipta. Jadi Dari awal kita harus tegaskan ini bahwa Kalau kita ngomong kejadian 1 itu konsepnya Tentang penciptaan, Berarti ungkapan iman, Berarti ini konsep teologis. Mengandaikan Bahwa segala suatu itu Ada Berasal dari sang pencipta. Itu tidak disangka. Sama sekali tidak diragukan, Itu menjadi keyakinan Semua penulis Termasuk penulis kitab kejadian, Hanya dia mengisahkannya, Menceritakannya Dengan cara bercerita. Cara berpikir Pada zaman itu. Karena kalau kita lihat dalam alkitab, Kalau Tuhan mencipta Tentu kita hanya berfokus ke Verba bara, Bara Elohim, Tentu itu kalimat pertama dan biasanya Orang sebut ini satu-satunya Verba dimana Allah selalu jadi subjek. Tapi sebenarnya Di berbagai teks alkitab Allah juga menciptakan Tapi dipakai verba yang Bervariasi. Beberapa verba berkaitan penciptaan: bara (menciptakan, Kej. 1:1; 27), asah (menjadikan, 1:26), pa’al (membuat, Ams. 16:4), yatzar (membentuk, Yes. 43:1), banah (membangun, mendirikan, Am. 9:6), qanah (mencipta, Kej. 14:19), kun (menegakkan, Mzm. 93:1), yasad (meletakkan dasar, Za. 12:1), natah (membentangkan─seperti karpet Dibentangkan , Yes 51:13), yalad (melahirkan, Mzm.90:2), khul (melahirkan), dll. Sesuatu yang “kompleks”. Jadi dari segi verba Yang dipakai amat bervariasi Itu juga memperlihatkan bahwa Untuk para penulis Perjalanan Lama, Penciptaan itu dilihat sebagai suatu Peristiwa yang Kompleks; Yang bervariasi; Yang banyak nuansa; Banyak aspeknya.
Nah Kalau kita lihat di kejadian 1, teks yang amat sering Dikomentari, dan kita Tidak akan masuk dalam detilnya. Ya karena tidak bukan bahan kuliah, kita hanya Bincang santai saja. Kita lihat bahwa Tuhan atau Allah Dengan berfirman Dia Memperlihatkan bahwa dia hadir Karena Orang bilang dengan berfirman maka Sesuatu itu jadi, Berarti yang terjadi itu adalah suatu yang Dia kehendaki; Dia inginkan; Dia konsepkan; Dia sudah ada Modelnya ya tinggal Dia katakana; jadi semua Ciptaan itu adalah suatu yang Memang Tuhan inginkan. Tapi sebelum dia berbuat sesuatu Dikatakan Di Kejadian 1:1, “pada mulanya Allah Menciptakan langit dan bumi Bumi belum berbentuk Dan kosong Gelap gulita menutupi mudera raya Dan roh Allah melayang-layang Di atas permukaan air” Tentang ayat ini Begitu banyak diskusi. Bahkan tentang titik di ayat pertama Itu saja sudah diskusi. Pada mulanya Allah menciptakan Langit dan bumi titik Itu terjemahan kita juga beberapa terjemahan lain Ada yang membuat koma (,). Pada mulanya Waktu Allah menciptakan langit dan bumi Baru ada Keterangan baru Kalimat pokoknya entah di ayat dua Atau di ayat tiga. Tapi kita masuk disitu. Kita hanya ngomong bahwa Awalnya kok ada Dikatakan “Bumi belum berbentuk Dan kosong” Ini yang terkenal, Tuhu wabohu, Kata yang susah Diterjemahkan Tapi umumnya para ahli sepakat Bahwa ini menunjuk pada Suasana kosong, Gersang, Sepi seperti gurun. Pokoknya kondisi yang Tidak memungkinkan Untuk kehidupan. Sehingga ada orang bilang Teori ini kondisi Abios, tidak bisa hidup. Ada teori tandingannya Teori Tentang chaos, Kekacauan. Kita tidak masuk disitu, Tapi ini bisa dilihat Ini kondisi yang memang belum memungkinkan Untuk hidup, Maka kondisi inilah yang akan Diubah. Tapi yang menarik kita lihat Disini sudah ada apa? ‘Samudra raya’ dalam terjemahan baru Menjadi ‘samudra semesta’, tahom. Lalu ada gelap gulita khoshek Lalu nanti di akhir air Dan juga ada Roh ala Tapi sudah ada Samudra semesta Dan gelap. Ini sebelum Tuhan melakukan penciptaan Kondisinya sudah Begini. Ada kegelapan Dan ada samudra semesta.
Yang jelas nanti dalam kisah penciptaan Tuhan dengan Sabdanya atau dengan firmanya Yang powerful Semuanya jadi. Biasanya ditempatkan Pada konteks Pembuangan. Kenapa di konteks pembuangan Penting ini, Menekankan betul sabda Tuhan itu powerful: Firmanya dapat dipercaya. Kondisi krisis dari pembuangan itu jelas, mereka sudah tidak punya apa-apa. Semua yang menjadi pegangan Mereka selama ini Misalnya Tanah, itu jelas mereka sudah dibuang Dari tanah; Seorang raja, keturunan daud Sudah tidak ada; Bait Allah, pusat Kehidupan, ibadat Sosial, ekonomi Tidak ada lagi Yang dapat mereka andalkan. Maka mereka diajak untuk Mengandalkan tetap firman Tuhan, Sabdanya. Penulis memang mengatakan Meskipun kondisinya begini: Gelap, krisis, Semua yang kamu andalkan Tidak ada lagi Kamu harus tetap berpegang Pada firman Tuhan, Pada janji-janjinya dari dahulu Kepada Abraham. Semua janji-janjinya Tetap masih bisa kita Andalkan. Pasti akan ada jalan keluar. Maka dia Di awal Alkitab sudah Mendegaskan itu. Tuhan kita hanya dengan firman Semuanya jadi. Beda dengan ilah-ilah Tetangga Yang harus kadang-kadang bekerja; Kadang-kadang harus berperang Baru terjadi ciptaan. Tapi Tuhan Allah Israel Hanya dengan Berfirman, maka semua jadi. Maka itu dibawa Dalam tradisi Yahudi selanjutnya, Bahwa kata-kata Davar, Bahkan abjad Menurut mereka itu punya Daya kekuatan. Itu biasanya Para rabi kemudian Mengeksploitasi hal itu di Gematria. Jadi semua abjad mereka itu Ada artinya. Bahkan mereka bilang Alam mencipta dengan Sefar=huruf; Dengan Sefer=angka Dan dengan Sifur=suara atau kata. Ini hal-hal yang menekankan Kata atau firman Itu harus kuat, Perkasa seperti Sabda atau firman Allah.
Lalu refrain yang lain, tiap kali dia selesaikan Satu kegiatan Dia akan mengatakan “Semuanya Atau Yang dia lihat itu Baik adanya”. Ayat 10, “Lalu Allah menamai yang kering itu darat Dan kumpulan air itu Selalu dinamainya laut Allah melihat bahwa Semuanya itu baik”. Jadi berapa kali Diulang bahwa tiap kali dia Menciptakan selalu dia Melihatnya sebagai suatu yang baik. Dia menilai Ciptaannya itu Baik Bukan Tidak jahat, Tapi sesuai dengan Pola. sesuai dengan yang Dia rencanakan. Sesuai Dengan niatnya Dan terutama Sesuai dengan fungsinya. Matahari Menyinari siang, bulan Menyinari malam, semuanya baik Semuanya berfungsi. Dan juga baik karena Semuanya setara, semuanya Dinilai baik. Tidak ada nilai satu lebih baik dari yang lain Tapi semua ciptaannya Dinilai sama, Dinilai baik. Bahkan Baiknya itu sebelum dipakai. Ini juga penting. Jadi dia sebelum punya Manfaat Sudah dinilai baik. Darat sudah dinilai baik Sebelum dia dipakai untuk menumbuhkan. Jadi Yang orang katakan nilai Ciptaan itu Baik dalam dirinya sendiri Bukan hanya Baik kalau bisa dimanfaatkan. Apalagi kalau manusia, “Oh baik kalau bisa saya pakai Ini tumbuhan ini Karena saya bisa makan maka baik Yang tidak bisa saya makan saya babat” Itu kan cara kita menilai Ciptaan. Padahal di awal kisah kejadian ini sudah ditekankan bahwa semuanya itu baik. Terlepas dia Bermanfaat atau bisa dimanfaatkan Oleh manusia atau tidak. Jadi Baik dalam dirinya sendiri.
Baru nanti diakhir Dikatakan, Setelah dia menciptakan Manusia, Dia baru katakan Semuanya Sangat baik. Di ayat 31, “ Maka Allah melihat segala yang dijadikannya itu Sungguh amat baik Jadilah petang dan jadilah pagi Itulah Hari ke-6”. Jadi setelah semuanya lengkap, bukan setelah Manusia diciptakan Tapi setelah semuanya diciptakan Mulai hari pertama sampai hari ke-6 Begitu semuanya selesai Baru Seluruh ciptaan itu dikatakan Sangat baik. Itu menarik, artinya apa? Selain setiap ciptaan punya nilai dalam dirinya sendiri, semua ciptaan Dalam rangkaian, Dalam kebersamaan, Dalam keterpaduan, yang Masing-masing punya fungsinya, Itu baru sangat baik. Dan satu lagi Sebelum Menciptakan manusia, Dia juga Buat, di ayat 29-30, Setelah dia menciptakan Manusia Dia menurutkan anak cucu Dan bertambah banyak penuhilah muka bumi, Lalu ayat 29-30 kita bisa lihat, “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Jadi sesudah pembagian makanan, baru dikatakan sangat baik. ini menarik loh. jadi kalau ala menilai sangat baik ciptaan itu, setelah semuanya mendapat makanan, setelah semuanya dibagi makanan secara adil, itu baru ciptaan itu baik. kenapa? karena memang bencana ekologi yang di bahas ini sering dikatakan, itu kena kerakusan. kita manusia makan jatah makhluk yang lain atau bahkan merampas tempat dari makhluk yang lain. nah itu tentang baik, lalu apakah sempurna?
Sempurna di kamus Bahasa Indonesia artinya lengkap komplit utuh. kalau di kitab atau cerita kitab kejadian itu tidak begitu konsepnya. memang baik tapi ciptaan itu berkembang. Allah bahkan mengevaluasi ciptaannya sendiri. Kita lihat Kejadian 2:18, “Tuhan Allah berfirman tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia”. ya tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. jadi tadi dari atas semuanya baik baik, baik, baik bahkan sangat baik, tiba-tiba disini tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. biasanya ada pembaca yang nakal ya, loh kok gak dipikirkan sebelumnya dalam narasi, kok disini baru sadar kok tidak baik ternyata, ya kalau manusia itu seorang diri saja. ini ada yang melihatnya sebagai cara Tuhan mengevaluasi ciptaannya setelah awalnya semuanya baik kemudian dilihat ada yang belum lengkap, belum komplit, belum sempurna, karena dia bilang tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. maka dia mengevaluasi mencari solusi. tidak tidak baik kalau tidak sendiri dia harus dicari temannya dikatakan disini, Kejadian 2:18. Solusinya: “aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia” itu solusinya, penolong yang sepadan. lalu di cerita selanjutnya apa yang dibentuk oleh Tuhan? mulai ayat 19, “bentuk dari tanah binatang binatang hutan dan segala burung di udara baru dia bawa kepada Adam”, jadi ini solusi pertama ini, yang sepadan dengan dia sepertinya ini. tapi ternyata Adam tidak menemukan disitu di binatang dan burung itu penolong yang sepadan. plan A tidak cocok lalu. Tuhan cari solusi yang berikut, dikatakan akhirnya Tuhan membuat manusia itu tidur lalu dia mengambil salah satu rusuk dari padanya. ini cerita yang terkenal penciptaan perempuan dari rusuk manusia. baru setelah itu Adam mengatakan inilah dia tulang dari tulangku, baru itu solusinya benar-benar pas. jadi mau dikatakan kelihatan memang diceritakan ya secara amat manusiawi disini oleh pencerita kejadian, bahwa Tuhan mengevaluasi ciptaannya, mencari solusi, mencoba solusi yang pertama tidak cocok, coba solusi yang terbaik akhirnya dapat. pesannya itu jelas ya. dia tidak ngomong tentang Tuhan yang maha-maha besar itu, pasti dia percaya. Tapi yang dia ceritakan itu justru mau mengajak pembaca mengajak manusia Tuhan sendiri dulu mengevaluasi jadi penciptanya tetap terbuka untuk terus disempurnakan. tugas manusia untuk selanjutnya mengevaluasi menyempurnakan membawa ciptaannya yang sudah punya pola yang bagus yang baik dari Allah itu menuju penyempurnaannya. jadi ada proses ada evaluasi ada penyempurnaan ciptaan itu dari awal. cerita yang bagus.
Yang kedua, berapa hari? katakanlah Tuhan berhenti hari keberapa terkenal, hari ke tujuh dia berhenti. ini juga artinya apa Tuhan menghormati proses. kan bisa cukup satu detik jadi segala-galanya ngapain perlu tujuh hari? tapi diceritakan bahwa Tuhan juga berproses, tujuh hari. Tuhan juga menghargai proses dalam penciptaannya. tentu ini banyak penjelasannya secara historis biasanya dijelaskan ini semacam legitimasi teologis atas irama hidup dan sabat orang Yahudi, yang waktu itu sudah harus dijalankan. mereka harus menjalankan sabat karena apa? karena Tuhan berhenti pada waktu penciptaan. Di Kitab ulangan diberi alasan, lain karena kamu juga dulu budak di Mesir. tapi ini macam penjelasan untuk memperkuat keabsahan aturan sabat. tapi jangan lupa ada makna juga yang lebih teologis bahwa Allah menghargai dan mengikuti proses dan irama waktu. Ia memilih untuk berkarya dalam ruang dan waktu dan kalau berkarya dalam ruang dan waktu pasti ada batasnya. ini menarik bahwa bagaimana Allah pencipta yang maha besar dilukiskan mengikuti irama manusia. dari segitu yang kita sebut tadi, penciptaan perlu penyempurnaan, meskipun baik tapi dia harus terus disempurnakan.
juga hal yang lain adalah bahwa Tuhan mencipta dengan memanfaatkan materi yang sudah ada. ini juga menarik dikatakan kenapa? kalau lihat kisah kejadian 1, air kan sudah ada, samudera semesta sudah ada. airnya sudah ada: harus dipisahkan air di atas dan air di bawah oleh rakiah, itu yang kita terjemahkan dengan cakrawala untuk memisahkan, tapi airnya sudah ada dari awal, materinya sudah ada. juga laut, air diminta untuk surut supaya daratan muncul. jadi secara tidak langsung mau dikatakan bahwa daratan itu sudah ada, tinggal dimunculkan dengan air surut. jadi materinya sudah ada. itu di salah satu kitab Deuteronon, di kebijaksanaan Salomo secara eksplisit dia katakan itu, “tanganmu yang maha kuasa yang telah menciptakan alam semesta dari bahan tak berbentuk” atau dari materi tak berbentuk. dia ingin mengungkapkan bahwa itu mereka tidak ada soal. tradisi Yahudi melihat biasa saja. sudah ada materi, Tuhan memang membentuknya dari air yang sudah ada, dia pisahkan laut, dia sudah surutkan, dengan itu daratan muncul. nanti masuk di kitab Kejadian dia juga buat ya, manusia diciptakan dari apa? dari tanah, dari nafasNya. dari awal penulis sudah menekankan bahwa penciptaan itu proses kreatif proses yang dinamis bukan tindakan sekali jadi dan statis, tapi juga proses yang terbuka. karena dia manfaatkan katakanlah materi bahan yang ada maka penciptaan juga orang bilang tidak bebas dari risiko. karena dia melibatkan hal yang katakanlah terbatas. jadi pokoknya dia mau memberikan kemampuan untuk berkembang, dan dia tidak hanya mau sendiri. kalau dia mau sendiri saja semua. tapi kelihatan dalam kitab kejadian ini dia memanfaatkan materi yang sudah.
Ada juga yang lebih menarik, dia menggunakan ciptaan yang sudah ada untuk menghadirkan ciptaan-ciptaan yang baru. Kejadian 1:11, “berfirmanlah Allah hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda tumbuhan yang berbiji segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi dan jadilah demikian”. dia berfirmanlah Allah hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda tumbuh-tumbuhan yang berbiji segala jenis pohon buah-buahan. jadi Tuhan mempersilahkan tanah. jadi tanah ini sudah diciptakan, tapi dia persilahkan: hendaklah tanah menumbuhkan. jadi dia memberdayakan ciptaan yang sudah ada untuk menghadirkan ciptaan-ciptaan yang baru. ada satu lagi di ayat 20, “berfirmanlah Allah hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup dan hendaklah burung berterbangan di atas bumi berintasi cakrawala”. Atau di ayat 24, “hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis mahluk yang hidup ternak dan binatang melata, dan segala jenis binatang liar” ini dia Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar. Ini cara berbahasa. Ada yang mengatakan ini ada yang mengatakan ini lokasi, Tempat, habitat ya. Tapi dia pakai bahasa yang Kelihatan memang Tuhan Ingin melibatkan Bumi itu untuk keluarkan Segala jenis makhluk yang hidup. Tentu dia yang memerintah, Dia yang meminta. Tapi tetap dia sumbernya. Tapi dia libatkan Bumi untuk keluarkan Ini cara berbahasa Yang menarik Bahwa dia melibatkan Atau memberdayakan ciptaan yang lain. Jadi sejak awal ini memang bukan, Orang bilang ciptaan dari satu Sepihak aja, Tapi dia memilih untuk Melibatkan, saling bergantung Ciptaan. bukan manusia aja Dia libatkan Maka ada yang melihat Ini sebenarnya terus terjadi dalam sejarah, Bahwa ciptaan baru Bahkan spesies yang baru, Muncul lewat pelbagai aktivitas Ciptaan yang sudah ada. Seperti kadang-kadang meletusnya gunung berapi, Glaser, gempa bumi, Bahkan tsunami, Itu sering menghasilkan Jenis atau spesies yang baru. Makanya ada yang melihat Gempa bumi atau bencana alam Yang sering kita lihat Bisa juga dilihat dari sudut pandang itu, Dari perspektif itu. Jadi kelihatan memang Dari kejadian satu ini, Allah memilih Untuk mengembangkan, Menyempurnakan, Mengevaluasi ciptaannya Agar semakin sempurna. Tidak dari awal langsung baik, Langsung sempurna, gak usah dibetulin lagi. Tapi dia membuka, Katakanlah Kemungkinan untuk disempurnakan, Di evolusi terus-menerus. Dan dengan itu dia melibatkan entah materi yang sudah ada, Entah ciptaan-ciptaan yang lain, Untuk menghadirkan ciptaan yang lain. Ini tentu punya banyak implikasi, Orang bilang ya Karena dia melibatkan hal yang terbatas Maka pasti ada Keterbatasan. Ciptaannya jadi terbatas. Kita secara fisik terbatas. Karena kita secara fisik terbatas Maka kita terbuka Untuk penderitaan. sebagaimana tadi Adam terbatas Dia sendirian Kesepian, Dalam perjanjian baru Allah menjadi manusia Dalam diri Yesus juga terbatas Sebagai manusia. Dia menderita, dia sakit, Di Injil Yohanes dikatakan dia haus. Jadi itu keterbatasan fisik. belum lagi ketika kita bicara soal dosa, Itu hanya keterbatasan Itu semacam konsekuensi Dari Tuhan yang membiarkan Ciptaannya Untuk berkembang Untuk menyempurnakan dirinya sendiri.
Lalu Kalau Kaitkan dengan penderitaan, Keterbatasan itu membuat Kita melihat penderitaan Secara lebih Bernuansa. Kalau Waktu Setelah Kejatuhan di Kajadian 3, apa Katakanlah kutukan terhadap Hawa? di Kejadian 3. Terkutuklah tanah Karena engkau, itu Untuk Adam. Jadi Adam mesti Bekerja setengah mati Supaya tanah itu menghasilkan. Berarti apa? Waktu di awal di kejadian Pekerjaan itu sesuatu yang harus Dilakukan, disuruhkan Kerjakan, usahakan tanah, Kerjakan Berdayakan tanah. Itu kan perintah, jadi pekerjaan itu Sesuatu yang harus dibuat. Hanya akibat dosa Pekerjaan itu menjadi lebih berat. Jadi pekerjaan bukan karena manusia berdosa, Tapi Penderitaan atau beratnya pekerjaan itu, Itulah yang dibuat oleh dosa. Membuatnya lebih berat. Kalau terhadap Hawa, di ayat 16 “Susah payahmu Waktu mengandung Akan kubuat sangat banyak Dan kesakitan Engkau akan melahirkan anakmu Namun engkau akan berlahir kepada suamimu”. Jadi susah payahmu Waktu mengandung akan kubuat sangat banyak, Atau akan kulipat gandakan. Jadi dosa hanya membuat Sakit itu Bertambah, Sebelumnya sudah ada. Sakit itu hukum alam. Bahwa Melahirkan pasti sakit, Tapi dosa Menurut kejadian 3, Membuat penderitaan itu bertambah. Demikian juga pekerjaan Pasti ada Sebelum kejatuhan, Hanya dengan dosa pekerjaannya menjadi susah. Jadi harus berkeringan, Harus lembur dan lain sebagainya. Demikian juga hukum alam yang biasa, Sebelum berdosa pun Kalau Adam dan Hawa Naik pohon lepas tangan Ya jatuh lah. Itu belum berdosa. Baru di kejadian 3, Tapi ada hukum alam Ada konsekuensi dari Allah Yang membiarkan Ciptaannya berkembang. Menurut pola, Menurut hukum alam Menurut hukum moral. Wajar sekali Ombak yang diciptakan, Air yang dipisahkan Jadi laut dan lain sebagainya, Tetap berombak, Tetap berbahaya. Juga ada ciptaan tentang binatang-binatang buas. Jelas Bisa memangsa Adam, Bisa memangsa Hawa, Itu sebelum mereka jatuh. Jadi tetap ada ancaman; Ada bahaya. Tetap itu semua Ciptaan yang baik, Sebab belum berdosa. Belum di kejadian 3. Jadi binatang buas dapat memangsa Manusia, Dosa hanya menambah resikonya. Tapi Sering orang Campurkan itu, Sebelumnya itu gak ada resiko. Tapi justru karena Tuhan Melibatkan hal-hal yang bukan dia, Maka ciptaannya itu Tidak bebas lagi resiko. Dunia jadi dinamis, Berproses Ada gempa bumi, gunung berapi, badai. Sekarang mungkin orang tahu: Bakteri, virus, Dilihat sebagai punya peran Dan fungsi dalam dunia Yang terus menjadi. Dalam dunia ciptaan Yang terus berproses seperti itu. Dan manusia Yang juga bagian dari proses Alam itu Pasti juga ikut terkena Dari proses alam itu. Maka itu juga bagus Kalau kita menempatkan Penderitaan Dalam kacamata itu. Apalagi memang orang bilang, Karena katakan “Dunia atau bumi dan manusia Dilepaskan untuk berkembang, Dan Tuhan tidak Intervensi secara detil” Ada perkembangan Yang bisa diprediksi, Tapi ada perkembangan yang Orang bilang acak. Nah itu kitab pengkhotbah Sudah akui itu.
Pengkhotbah 9:11, Jadi ini sebenarnya Langsung dia mengatakan Ciptaan itu berproses Dan dunia ini terus menjadi, Kadang-kadang tidak bisa dipegang, Orang bilang acak. Pengkotba 9: 11, “Lagi aku melihat di bawah Matahari Bahwa kemenangan perlombaan Bukan untuk yang cepat Dan keunggulan perjuangan Bukan untuk yang kuat Juga roti bukan Untuk yang berhikmat Kekayaan bukan untuk yang Cerdas dan karunia Bukan untuk yang cerdik Cendekia Karena waktu dan nasib dialami mereka semua.” Jadi menurut pengkotbah, Ada hal-hal yang tidak bisa diprediksi. Random saja Acak saja. Orang yang berlomba kadang-kadang Yang cepat tidak menang. Dalam pertempuran Bukan untuk yang kuat yang menang. Yang berhikmat Tidak selalu Dia dapat roti. Jadi ada banyak hal di dunia ini, dalam irama ciptaan ini yang random, Yang acak. Ini juga yang membuat Kita mengalami penderitaan Atau apapun namanya Itu yang terjadi. Kalau ada badai, kempah bumi, virus Dan lain sebagainya Manusia maksimal hanya bisa Memprediksi. Ada juga itu termasuk dalam ciri yang Acak. Kita hanya bisa mengalaminya Tidak lagi bisa Mengontrolnya secara Pasti. Nah itu konsekuensi tadi. Karena “Tuhan melibatkan Para pembantunya”, Entah materi Entah makhluk yang lain Bahkan waktu dia ciptakan manusia Dia juga libatkan Isi surga, para Elohim, “marilah sekarang kita Menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita”. Itu juga cara Tuhan Mengalibatkan makhluk-makhluk lain Dalam penciptaan. Itu punya resiko Dan lain sebagainya. Kira-kira itu yang saya mau katakan Dengan dunia ciptaan Yang baik Tapi Belum sempurna. Perlu terus terbuka Untuk dievaluasi; Diperbarui; Dikembangkan Sampai pada kesempurnaan Definitif nanti Atau kelak. Kita semua berjalan dengan pasti Ke arah itu Pada kesempurnaan Definitif. Nanti, Kelak.
Closing statement Cerita Penciptaan di Kejadian 1 dan 2 ini Secara sederhana saja, Jadi kita bersama penulis tentu Ingin mengatakan Menegaskan bahwa memang Segala sesuatu berasal Dari Tuhan. Jadi dialah yang Mengasali segala, Originating ,Tapi juga dia Dalam proses juga melengkapi, Menopang ciptaannya. Dia tidak hanya Di titik dulu itu saja berhenti Tidak menciptakan lagi Tapi dia terus melengkapi, menopang Kita dan ciptaan Dan juga dia pasti akan menyelesaikannya Menyempurnaannya. Jadi kita sebagai ciptaannya Kita ikut irama itu Sebagai manusia tentu yang paling bertanggung jawab Kita ikut mengevaluasi Membarui ciptaannya. Mendukung Aneka ciptaan Dan ikut menyempurnakan Dunia dan ciptaan Bersama Tuhan. Saya kira itu yang bisa kita lihat dari Kisah asali seperti kejadian 1, 2 ini.





















