SEMUANYA "BAIK", TETAPI "BELUM SEMPURNA"!

Artikel | 7 Apr 2026

SEMUANYA "BAIK", TETAPI "BELUM SEMPURNA"!


(Membaca Kisah Penciptaan di Kejadian 1-2)

Bincang Alkitab | Hortensius F. Mandaru, SSL


Kisah penciptaan dalam kitab Kejadian 1-2 selalu memikat untuk direnungkan. Dalam narasi ini, Allah menilai ciptaan-Nya “baik” pada setiap tahap proses penciptaan. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan “baik”? Apakah “baik” berarti ciptaan sudah lengkap, sempurna, dan bebas dari risiko sejak awal? Bp. Hortensius F. Mandaru, SSL, menekankan bahwa pembacaan Kejadian harus dilihat sebagai narasi teologis tentang penciptaan, bukan sekadar doktrin tentang asal-usul atau penciptaan ex nihilo. Menurutnya, menilai “baik” dalam konteks ini lebih berhubungan dengan fungsi, tujuan, dan keteraturan ciptaan.


Dua Narasi Penciptaan

Kitab Kejadian menyajikan dua narasi penciptaan yang sering menjadi fokus studi: Kejadian 1:1-2:4a dan Kejadian 2:4b–25. Kedua versi ini berbeda dalam gaya dan penekanan.


Pada Kejadian 1, Allah digambarkan sebagai entitas transenden yang berfirman, dan dengan firman-Nya, segala sesuatu terjadi. Pola repetitif “Jadilah… dan jadilah demikian” menekankan kekuasaan dan keteraturan sabda Tuhan, serta refleksi liturgis dari lingkungan imam-imam Yahudi. Sedangkan Kejadian 2 menampilkan Allah secara lebih antropomorfis: Allah membentuk manusia dari tanah, berinteraksi langsung, dan terlihat seperti seorang pengrajin yang terlibat dalam proses penciptaan. Para ahli menilai versi kedua lebih tua secara tradisi, dan menekankan keterlibatan langsung Allah dalam penciptaan manusia, menonjolkan aspek evaluatif dan kreatif-Nya.


Konsep “Baik” dan Fungsi dalam Kosmologi Kuno

Untuk memahami makna “baik” dalam kisah penciptaan, kita perlu terlebih dahulu masuk ke dalam cara berpikir masyarakat Timur Tengah kuno yang melatarbelakangi narasi Kejadian 1-2. Berbeda dengan cara pandang modern yang sering menekankan aspek materi, apa unsur pembentuknya dan bagaimana proses terjadinya, dunia kuno lebih melihat segala sesuatu dari segi fungsinya. Sesuatu dipahami sebagai “ada” dan bermakna sejauh ia memiliki peran dalam kehidupan.


Dalam cara pandang ini, matahari dan bulan tidak terutama dipahami dari hakikatnya, melainkan dari fungsinya: memberi terang dan mengatur ritme siang dan malam. Demikian pula air, daratan, tumbuhan, dan hewan dilihat dalam kaitannya dengan perannya sebagai ruang dan penopang kehidupan. Dengan demikian, kisah penciptaan tidak dimaksudkan sebagai penjelasan ilmiah tentang asal-usul materi, melainkan sebagai kesaksian iman tentang keteraturan dan makna ciptaan dalam kehidupan.


Cara pandang ini juga berkaitan dengan kosmologi tripartit yang umum pada masa itu. Alam semesta dipahami dalam tiga lapisan: alam atas (langit; šāmayim), yang dibatasi oleh raqiaʿ—sebuah kubah cakrawala; alam tengah (bumi; ’eretz ḥayyim), tempat manusia dan makhluk hidup; serta alam bawah (’eretz taḥtiyyot), yaitu bagian terdalam atau dunia bawah. Dalam kerangka ini, setiap bagian ciptaan memiliki tempat dan perannya masing-masing dalam keseluruhan tatanan yang teratur. Penilaian ini pertama-tama menunjuk pada nilai yang melekat pada ciptaan itu sendiri. Setiap ciptaan sudah dinilai baik bahkan sebelum dimanfaatkan. Dengan kata lain, ciptaan itu bernilai bukan karena kegunaannya bagi manusia, melainkan karena ia ada sesuai dengan kehendak dan rancangan Allah.


Namun, kisah ini tidak berhenti pada penilaian “baik” atas masing-masing ciptaan. Pada akhirnya, setelah seluruh ciptaan tersusun, barulah dikatakan bahwa semuanya itu “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Ungkapan ini mengajak kita melihat sesuatu yang lebih utuh. Pertama, seluruh ciptaan telah lengkap dan berada pada tempatnya, masing-masing menjalankan fungsi yang sesuai dalam suatu keteraturan yang saling melengkapi.


Kedua, penilaian “sangat baik” ini muncul setelah tindakan terakhir Allah, yaitu membagikan makanan kepada seluruh makhluk hidup (Kejadian 1:29-30). Di sini tampak bahwa kehidupan seluruh ciptaan bersumber dari Allah, dan pada saat yang sama setiap makhluk memperoleh bagian yang cukup untuk hidup. Dalam gambaran ini, tercermin suatu keteraturan yang tidak hanya teologis, tetapi juga menyentuh dimensi kehidupan yang sangat konkret. Dengan demikian, “sangat baik” menggambarkan suatu tatanan ciptaan yang utuh dan harmonis: setiap ciptaan berada pada tempatnya, menjalankan perannya, hidup dalam relasi yang saling bergantung dan saling menopang. Tidak ada yang perlu merebut atau merampas, karena semuanya telah menerima bagiannya.


Melalui cara pandang ini, kita dapat melihat bahwa “kebaikan” dalam kisah penciptaan bukanlah kesempurnaan yang statis.


Penciptaan sebagai Proses Dinamis

Verba yang digunakan dalam Alkitab untuk penciptaan sangat bervariasi: bara (menciptakan), asah (menjadikan), yatzar (membentuk), banah (membangun), dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa penciptaan dipahami sebagai proses kompleks dengan banyak nuansa dan aspek. Kejadian 1 menekankan kekuasaan Allah melalui sabda-Nya, sedangkan Kejadian 2 menekankan keterlibatan Allah dalam interaksi langsung dengan ciptaan, khususnya manusia.


Menariknya, narasi Kejadian memperlihatkan ‘evaluasi’ terhadap ciptaan. Setiap tahap dinilai “baik”, tetapi setelah penciptaan manusia dan pembagian makanan bagi semua makhluk, barulah dinyatakan “sangat baik” (Kejadian 1:31). Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan dicapai dalam integrasi, keterpaduan, dan keseimbangan seluruh ciptaan.


Sempurna vs. Baik: Keterbatasan dan Proses Penyempurnaan

Kata “sempurna” dalam bahasa Indonesia berarti utuh, lengkap, dan komplit. Dalam Kejadian, penciptaan tidak digambarkan sebagai sempurna sejak awal. Allah mengevaluasi ciptaan-Nya dan menambahkan penolong bagi manusia (Kejadian 2:18-24) setelah manusia sendiri ada, menunjukkan proses perbaikan dan penyempurnaan. Tuhan mencoba beberapa solusi sebelum menemukan yang tepat, yang mencerminkan proses kreatif dan evaluatif.


Konsep hari ketujuh, saat Allah berhenti bekerja, juga menekankan penghargaan terhadap proses dan irama waktu. Allah mengikuti proses yang bertahap, bukan sekadar instan, menunjukkan bahwa penciptaan adalah aktivitas dinamis yang menghormati ruang dan waktu.


Ciptaan dan Keterlibatan Materi

Hortensius menekankan bahwa Allah menggunakan materi yang sudah ada dalam ciptaan-Nya. Air, tanah, dan bahan-bahan lain dimanfaatkan untuk membentuk daratan, tumbuhan, hewan, dan manusia. Dengan demikian, ciptaan bukanlah tindakan sekali jadi yang statis, melainkan proses kreatif yang terbuka, melibatkan risiko, keterbatasan, dan interaksi dengan unsur-unsur yang sudah ada.


Allah bahkan memberdayakan ciptaan itu sendiri: tanah menumbuhkan tumbuhan (Kej. 1:11), air menampakkan makhluk hidup (Kej. 1:20), bumi mengeluarkan binatang (Kej. 1:24). Hal ini menegaskan bahwa ciptaan saling terkait, bergantung, dan terus berkembang.


Penderitaan, Keterbatasan, dan Hukum Alam

Keterbatasan ciptaan menimbulkan risiko dan potensi penderitaan. Bahkan sebelum dosa manusia, hukum alam sudah ada: manusia dapat jatuh dari pohon, binatang buas dapat memangsa manusia, bencana alam dapat terjadi. Dosa Adam dan Hawa menambah beban, tetapi tidak menciptakan risiko baru; hanya memperberatnya (Kej. 3:16–19). Dengan demikian, ciptaan baik namun terbuka untuk perkembangan dan penyempurnaan.


Kitab Pengkhotbah 9:11 menegaskan bahwa dunia ini berproses dan memiliki unsur acak: keberhasilan dan nasib manusia tidak selalu dapat diprediksi. Hal ini menegaskan bahwa kehidupan manusia dan ciptaan lainnya terjadi dalam keterbatasan, risiko, dan dinamika yang Allah izinkan untuk mengembangkan ciptaan menuju kesempurnaan definitif di masa depan.


Penutup

Kisah penciptaan Kejadian 1-2 menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan niat dan tujuan yang baik. Namun, “baik” bukan berarti sempurna atau bebas risiko. Penciptaan adalah proses yang dinamis, melibatkan evaluasi, keterbatasan, interaksi dengan materi dan ciptaan lain, serta terbuka untuk penyempurnaan. Manusia diajak untuk ikut serta dalam proses ini, menilai, mengembangkan, dan menjaga ciptaan agar mencapai kesempurnaan yang definitif.


Dengan kata lain, seluruh ciptaan “baik”, tetapi belum sempurna. Proses kreatif, evaluatif, dan terbuka inilah yang menuntun ciptaan, termasuk manusia, menuju penyempurnaan yang akan tuntas kelak. Narasi Kejadian mengajak kita untuk memahami dunia sebagai ciptaan yang bernilai, dinamis, dan penuh makna, yang menantang kita untuk menghargai proses, keterbatasan, dan tanggung jawab dalam menjaga keseimbangan ciptaan Allah.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia