Iman kepada Kristus adalah sebuah perjalanan yang dilalui sepanjang kita hidup di dunia. Maka ia bukanlah sebuah titik pasti yang didalamnya kita bertemu dengan segala kepastian kehidupan dan jawaban atas berbagai pertanyaan yang seringkali mampir serta merasuk dalam hidup. Dalam perjalanan tersebut mungkin kita akan berdialog dengan tantang/pergumulan dan derita, tetapi di kesempatan yang lain sukacita serta kebahagiaan datang mewarnai kehidupan. Ia berada dalam dialog dengan peristiwa-peristiwa yang seringkali sulit untuk kita jelaskan. Tentang mengapa orang benar harus menderita, kekerasan yang merajalela, keserakahan yang tidak bisa dihentikan, hingga kerusakan lingkungan yang meluluh lantakkan dunia. Iman datang untuk memberikan sudut pandang pemahaman yang baru sehingga di tengah ketidakpastian pun kita berani untuk berjalan dan melangkah. Bahkan kerendahan hati untuk berkata bahwa kita tidak memiliki semua jawaban atas pertanyaan yang ada.
Proses beriman inilah yang juga diperkenalkan oleh Yesus kepada para murid. Saat sepertinya para murid tengah merengkuh kepastian atas segala pertanyaan mereka, Tuhan membawa mereka kembali kepada ribuan pertanyaan dan ketidakpastian akibat peristiwa-peristiwa tertentu yang hadir dalam kehidupan. Kemudian ketika para murid telah yakin betul akan pengajaran serta keteladanan Sang Guru, Yesus harus mengalami derita, sengsara, dan kematian. Saat kematian itu perlahan mereka cerna, rupanya kubur itu telah kosong dan tersiarlah kabar tentang kebangkitan-Nya. Penampakan demi penampakan Kristus seolah memberi secercah petunjuk bahwa kehidupan murid dan Yesus akan segera kembali seperti dahulu. Berkeliling Yudea, memberitakan penyelamatan Allah dan mengerjakan banyak kebaikan bagi umat-Nya. Justru di saat itulah Yesus harus kembali berpisah dengan para murid-Nya.
Ketegangan proses beriman antara kepastian dan ketidakpastian ini pada akhirnya menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Justru dalam ketegangan itulah kita diundang untuk menjadi rendah hati dan tunduk sepenuhnya pada Allah yang mencipta serta menghadirkan segala sesuatu, Hal ini agar iman seorang percaya menjadi iman yang dewasa karena ia tidak hanya meminta kepada Tuhan tetapi mengolah berbagai pengalaman dalam terang kasih pemeliharaan serta tuntunan Tuhan. Dengan demikian iman menjadi sesuatu yang hidup serta dinamis.
Dalam bacaan kita, ketegangan iman yang sebelumnya dirasakan karena kematian serta kebangkitan-Nya tidak dibiarkan berlalu tanpa penjelasan. Bacaan kita kali ini menjelaskan bahwa Yesus membuka pengetahuan dan pengertian para murid tentang kitab suci sehingga pada akhirnya murid-murid memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah penggenapan dari apa yang tertulis. Yesus harus menderita, bangkit, dan kemudian naik ke surga supaya dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan (ay. 47). Maka kenaikan Kristus dalam Injil Lukas dimaknai fase baru dalam relasi antara orang percaya dengan Yesus serta perutusan lebih lanjut para murid untuk meneruskan karya Kristus. Sebelum naik ke Surga,Yesus yang naik ke Surga itu menegaskan pengharapan dan pembebasan atas dosa, bahwa ada kehidupan dan pilihan bagi manusia. Maka kini tugas para murid untuk bersaksi yang seringkali tidak mudah karena kita harus mencoba meraba segala peristiwa dalam kacamata iman yang kita miliki, seraya tetap melihat kasih serta kebaikan Tuhan.
Dalam dunia yang bergejolak ini seringkali kita harus berhadapan dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan iman yang mengusik batin. Namun pertanyaan itu bukanlah tanda ketidakberimanan kita, melainkan kita tengah berada dalam sebuah ketegangan kreatif untuk senantiasa menghidupi iman bersama dengan Tuhan Sang Sumber Iman kita. Hal tersebut dimungkinkan karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang bangkit serta naik ke surga. Ia adalah Tuhan yang Hidup. Dengan demikian dalam iman yang terus bertumbuh itu, pada saat yang sama kita juga mengumandangkan kebaikan dan penyelamatan Allah kepada dunia melalui segala hal yang kita kerjakan. Karya Kristus kita lanjutkan dalam bentuk kesaksian kita. Maka kenaikan bukan hanya tentang penghayatan akan Ia yang hidup dan berkuasa, melainkan panggilan untuk menyatakan karya-Nya.
Pertanyaan reflektif: Bagaimanakah cara kita bersaksi dalam konteks kehidupan sehari-hari yang kita jalani?
























