Pembajakan Sabat: Hilangnya Waktu Istirahat Ciptaan.

Artikel | 22 Mei 2026

Pembajakan Sabat: Hilangnya Waktu Istirahat Ciptaan.


Membaca Praktik Perbudakan Modern Anak Buah Kapak (ABK) di Pelabuhan Tanjung Priok dalam Teropong Teologi Pembebasan

"Sabat bukan sekadar ritual hari perhentian yang kaku, melainkan sebuah manifesto agung tentang keadilan, pembebasan, dan pemulihan martabat kemanusiaan yang paling radikal."

Di balik kisah gemerlapnya industri maritim Jakarta, wilayah pesisir seperti Tanjung Priok ternyata banyak menyimpan kisah suram yang luput dari perbincangan. Banyak pemuda dari kelas ekonomi bawah tergiur oleh janji manis lowongan kerja di atas kapal perikanan domestik. Bahkan kejatuhan mereka kadang kala juga akibat peran serta keluarga, yang ingin anak-anaknya segera meraih hidup sukses dengan bekerja di bidang industri maritim. Alih-alih mendapatkan kesejahteraan, para muda-mudi ini justru kerap terjebak dalam lingkaran perbudakan (modern slavery).


Hak Dasar Yang Dirampas

Di tengah laut lepas, sering terdengar kabar bahwa para Anak Buah Kapal (ABK) ini mendapat perlakuan tak layak. Bentuk-bentuk perlakuan tak layak ini cukup beragam. Mulai dari waktu kerja, di mana mereka harus bekerja belasan hingga puluhan jam tanpa jeda. Tak hanya itu, penahanan upah secara sepihak hingga bayaran tak layak juga menjadi isu yang kerap muncul. Belum lagi, kondisi sanitasi dan makanan yang jauh dari kata layak. Hak-hak mendasar mereka seolah dirampas oleh kaki-tangan korporasi, yang hanya mementingkan keuntungan perusahaan. 


Reinterpretasi Sabat

Inilah salah satu bentuk keresahan, yang resonan dengan gugatan tajam dalam buku "Reinterpretasi Sabat (Keluaran 20:8-11)" karya Pdt. Dr. Yohanes R. Suprandono.

Dengan pendekatan teologi Perjanjian Lama kontemporer, sang penulis melakukan dekonstruksi menyeluruh terhadap institusi Sabat. Selama berabad-abad, institusi ini kerap kali direduksi menjadi hari larangan beraktivitas demi kesucian ritual semata.


Hak Bagi Semua Mahluk

Sesungguhnya, mandat Sabat bisa jadi lebih besar dari itu. Perintah ini menegaskan bahwa hak untuk beristirahat bersifat mutlak serta berlaku universal bagi semua lapisan makhluk ciptaan. Di hadapan hukum Sabat, stratifikasi sosial runtuh seketika: sang majikan, hamba, buruh upahan, bahkan hewan ternak sekalipun, wajib mendapatkan hak perhentian yang setara. Semua setara! Dalam hal ini, Sabat dapat dipandang sebagai kritik sosial yang sangat keras dari Tuhan terhadap segala bentuk sistem eksploitasi manusia atas sesamanya.


Kembalikan Kekudusan Sabat!

Melalui pandangan posmodern ini, isu eksploitasi ABK di Jakarta Utara bukan lagi sekadar potret buram masalah ekonomi atau pelanggaran hukum ketenaga kerjaan biasa. Secara teologis, pembajakan waktu istirahat dan penindasan fisik terhadap para pekerja (maritim) adalah bentuk penajisan nyata terhadap kekudusan esensi Sabat yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.


Di tengah jeritan senyap di tengah lautan ini, kita semua diajak untuk lebih peka, karena sebuah pertanyaan profetik kembali menggema ke permukaan: Apakah gereja akan diam saja, atau lebih buruknya, turut mengglorifikasi fenomena ini sebagai bagian dari “berkat Tuhan” dalam bentuk lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi yang terasa baik?


Apakah gereja cukup bangga dengan mengatakan bahwa jemaat diberkati karena punya pekerjaan bagus, nama baik bagus, tapi perlahan jiwa mereka sedang menuju penghabisan? Apakah cukup memberkati ketika kita mengatakan bahwa "harusnya bersyukur masih dapet pekerjaan di zaman sekarang!"?


Epilog: Panggilan Bagi Gereja Modern

Dengan reintrepetasi terhadap arti Sabat, isu eksploitasi ABK di Tanjung Priok bukan lagi sekadar potret buram masalah ekonomi atau pelanggaran hukum ketenagakerjaan biasa. Secara teologis, pembajakan waktu istirahat dan penindasan fisik terhadap para pekerja maritim adalah bentuk penajisan nyata terhadap kekudusan esensi Sabat yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.


Pada akhirnya, kontekstualisasi ini harusnya mengusik kesadaran kita agar gereja tidak terjebak dalam kesalehan domestik yang acap kali abai terhadap polemik kemanusiaan. Gereja dan masyarakat beriman dipanggil untuk tidak menutup mata. Merayakan Sabat berarti berani bersuara dan bertindak melawan segala bentuk rantai perdagangan manusia di sekitar kita. Sudah saatnya gema pembebasan Sabat tidak hanya berhenti di dalam batas-batas dinding gereja yang megah ataupun reot, melainkan harus turun membongkar struktur penindasan di pelabuhan-pelabuhan yang bisu.


Kiranya, jika gereja betul-betul digerakkan oleh Roh Kudus, implementasi nyata akan hal ini tak cukup hanya berupa bahasa-bahasa Roh ataupun manifestasi fisik dalam ruang ibadah. Lebih dari itu, seharusnya Roh Kudus juga mengusik kepekaan kita akan isu sosial yang terus bergeming, menunggu agar keadilan semakin ditegakkan.(hizkia)

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia