Paulus dan Petrus: Bersaing atau Bermitra?

Artikel | 2 Jul 2026

Paulus dan Petrus: Bersaing atau Bermitra?


Di antara tokoh-tokoh Perjanjian Baru, Rasul Petrus dan Rasul Paulus merupakan dua figur yang paling berpengaruh dalam perkembangan gereja mula-mula. Namun, hubungan keduanya kerap menjadi bahan perdebatan. Tidak sedikit penelitian modern yang menggambarkan Petrus dan Paulus sebagai dua tokoh yang mewakili dua kubu berbeda: Petrus dianggap mempertahankan Kekristenan yang bercorak Yahudi, sedangkan Paulus dipandang sebagai pelopor Kekristenan yang terbuka kepada dunia non-Yahudi. Gambaran tersebut semakin menguat ketika pembaca menjumpai kisah konfrontasi Paulus terhadap Petrus di Antiokhia (Galatia 2:11-14), yang sekilas menunjukkan adanya pertentangan tajam di antara keduanya.

 

Pandangan demikian telah berkembang sejak abad ke-19 dan masih memengaruhi sejumlah karya populer hingga saat ini. Beberapa penulis bahkan berpendapat bahwa Paulus telah mengubah ajaran Yesus dan menjadi “pendiri agama Kristen”, sedangkan Petrus, Yakobus, dan Yohanes dianggap sebagai penerus cita-cita Yesus yang sesungguhnya. Akan tetapi, benarkah Perjanjian Baru mendukung gambaran tersebut? Ataukah konflik yang terjadi justru merupakan bagian dari dinamika gereja yang sedang bertumbuh?

 

Para Rasul sebagai Saksi Kristus

Yesus secara khusus memilih dua belas murid untuk menyertai-Nya sepanjang pelayanan-Nya. Mereka bukan sekadar pengikut, melainkan saksi mata yang melihat karya, mendengar pengajaran, serta menyaksikan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Tradisi mengenai kedua belas rasul memiliki dasar historis yang kuat karena muncul secara konsisten dalam Injil-injil Sinoptik maupun tulisan-tulisan Perjanjian Baru lainnya.

 

Keberadaan kedua belas rasul memiliki fungsi yang sangat penting bagi gereja mula-mula. Mereka menjadi penjamin keaslian tradisi tentang Yesus pada masa ketika pewartaan masih berlangsung secara lisan. Karena menyaksikan sendiri seluruh perjalanan pelayanan Yesus sejak baptisan-Nya hingga kenaikan-Nya ke surga, mereka berperan menjaga kesinambungan antara Yesus historis dan Kristus yang bangkit.

 

Hal ini juga tampak ketika para rasul mencari pengganti Yudas Iskariot (Kisah Para Rasul 1:21-22). Syarat utama bagi seorang rasul adalah pernah hidup bersama Yesus sejak awal pelayanan-Nya dan menjadi saksi kebangkitan-Nya. Dengan demikian, kerasulan sejak awal berkaitan erat dengan kesaksian yang dapat dipercaya.

 

Paulus dan Legitimasi Kerasulannya

Berbeda dengan Petrus, Paulus tidak termasuk dalam kelompok Dua Belas. Karena itu, hampir semua suratnya diawali dengan penegasan bahwa dirinya adalah “rasul Yesus Kristus”. Penekanan tersebut bukan sekadar bentuk perkenalan, melainkan pembelaan terhadap legitimasi pelayanannya.

 

Paulus menyatakan bahwa panggilannya berasal langsung dari Allah, bukan melalui penunjukan manusia ataupun persetujuan para rasul di Yerusalem. Dalam Galatia 1:1 ia menegaskan bahwa dirinya adalah rasul “bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah Bapa.” Dengan demikian, otoritas pewartaannya tidak bergantung pada pengakuan manusia, tetapi pada panggilan ilahi.

 

Penegasan itu muncul karena status kerasulannya memang sering dipersoalkan oleh lawan-lawannya. Sebagai orang yang tidak pernah mengikuti Yesus selama pelayanan-Nya di Galilea, Paulus dianggap tidak memenuhi syarat sebagai rasul. Karena itulah ia berkali-kali menegaskan bahwa Kristus yang bangkit telah menampakkan diri kepadanya (1Korintus 15:5-8). Penampakan tersebut menjadi dasar bahwa ia pun termasuk dalam lingkaran para saksi kebangkitan.

 

Dengan demikian, Paulus tidak menempatkan dirinya di luar komunitas para rasul, tetapi memahami dirinya sebagai rasul yang dipanggil langsung oleh Kristus untuk melayani bangsa-bangsa bukan Yahudi.

 

Paulus dan Para Tiang Utama Gereja Yerusalem

Meskipun menegaskan independensi panggilannya, Paulus tidak pernah memutuskan hubungan dengan para pemimpin gereja di Yerusalem. Dalam Galatia 1:18-19 ia menceritakan bahwa tiga tahun setelah pertobatannya ia pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas (Petrus) dan tinggal selama lima belas hari bersamanya. Ia juga bertemu dengan Yakobus, saudara Tuhan.

 

Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Paulus menghargai otoritas para saksi mata. Bahkan, kata Yunani historeō yang digunakan dalam Galatia mengandung makna menyelidiki atau belajar secara mendalam. Selama berada di Yerusalem, Paulus berkesempatan mengenal lebih dekat tradisi tentang Yesus yang dipelihara oleh Petrus sebagai salah seorang saksi utama.

 

Hubungan itu memperlihatkan keseimbangan yang menarik. Paulus mempertahankan independensi kerasulannya, tetapi tetap mengakui pentingnya relasi dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes sebagai “tiang-tiang jemaat”. Ia tidak memandang dirinya sebagai lawan mereka, melainkan sebagai rekan sekerja yang memperoleh panggilan berbeda.

 

Sidang Yerusalem dan Pembagian Pelayanan

Perbedaan utama yang dihadapi gereja mula-mula bukanlah persoalan siapa pemimpin yang paling berwenang, melainkan bagaimana menerima orang-orang bukan Yahudi ke dalam umat Allah. Persoalan sunat, makanan halal, dan pelaksanaan Taurat menjadi isu yang sangat sensitif karena berkaitan dengan identitas bangsa Israel.

 

Sidang Yerusalem (Kisah Para Rasul 15) menjadi titik penting dalam sejarah gereja. Dalam sidang tersebut disepakati bahwa Paulus dan Barnabas melanjutkan pelayanan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, sedangkan Petrus bersama para pemimpin Yerusalem lebih berfokus kepada orang Yahudi. Pembagian tersebut bukanlah pemisahan gereja menjadi dua kubu, melainkan pembagian fokus pelayanan.

 

Sidang itu juga menegaskan bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi tidak diwajibkan menjalani sunat untuk menjadi pengikut Kristus. Sebaliknya, Paulus diminta tetap memperhatikan orang-orang miskin sebagai wujud solidaritas di dalam tubuh Kristus. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa gereja mula-mula mampu mencari titik temu tanpa menghilangkan keberagaman pelayanan.

 

Konflik di Antiokhia: Perselisihan atau Perbedaan Penafsiran?

Peristiwa di Antiokhia (Galatia 2:11-14) sering dijadikan bukti bahwa Petrus dan Paulus saling bermusuhan. Paulus menceritakan bahwa Petrus sebelumnya makan bersama orang-orang bukan Yahudi, tetapi kemudian menarik diri setelah datang beberapa orang dari kalangan Yakobus. Menurut Paulus, tindakan tersebut tidak sejalan dengan kebenaran Injil.

 

Namun demikian, perlu diingat bahwa yang tersedia hanyalah laporan dari sudut pandang Paulus. Perjanjian Baru tidak mencatat tanggapan Petrus atas peristiwa tersebut. Karena itu, banyak ahli menilai bahwa konflik ini tidak dapat dipahami sebagai permusuhan permanen, melainkan sebagai sebuah insiden dalam dinamika gereja mula-mula.

 

Dari perspektif Paulus, tindakan Petrus dianggap menciptakan kembali sekat antara orang Yahudi dan bukan Yahudi. Sebaliknya, beberapa penafsir berpendapat bahwa Petrus mungkin sedang berusaha menjaga efektivitas pelayanannya kepada orang Yahudi yang masih sangat sensitif terhadap persoalan kemurnian ritual. Dengan kata lain, yang dipersoalkan bukanlah Injil itu sendiri, melainkan bagaimana keputusan Sidang Yerusalem diterapkan dalam situasi konkret. Karena itu, konflik tersebut lebih tepat dipahami sebagai perbedaan penafsiran pastoral daripada pertentangan teologis yang mendasar.

 

Bermitra bagi Kemajuan Injil

Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa Petrus dan Paulus memiliki panggilan yang saling melengkapi. Petrus menjadi penghubung antara gereja dengan Yesus historis sekaligus menjaga akar-akar Yahudi Kekristenan. Sebaliknya, Paulus menjadi pelopor misi kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi dan membuka jalan bagi tersebarnya Injil ke seluruh dunia Mediterania.

 

Perbedaan karakter, latar belakang, dan strategi pelayanan tidak menghalangi keduanya untuk menjadi bagian dari karya Allah yang sama. Bahkan, ketegangan yang sempat muncul justru mendorong gereja memperjelas pemahamannya mengenai universalitas Injil. Kekristenan tidak lagi dipandang sebagai sekadar salah satu kelompok dalam Yudaisme, melainkan sebagai kabar baik yang ditujukan bagi seluruh bangsa.

 

Dengan demikian, pertanyaan “siapa yang menang?” sesungguhnya tidak menemukan jawabannya pada pribadi Paulus ataupun Petrus. Yang memperoleh kemenangan adalah Injil Kristus sendiri, yang terus melintasi batas etnis, budaya, dan tradisi demi menjangkau semua orang.

 

Penutup

Relasi Paulus dan Petrus tidak dapat disederhanakan menjadi kisah persaingan antara dua pemimpin besar gereja. Sekalipun pernah mengalami ketegangan, keduanya tetap berada dalam kesatuan panggilan sebagai rasul Kristus. Petrus menjaga kesinambungan gereja dengan kesaksian para saksi mata, sedangkan Paulus membawa Injil melampaui batas-batas Yudaisme menuju dunia yang lebih luas.

 

Kisah mereka menunjukkan bahwa gereja sejak awal tidak lahir tanpa perbedaan pendapat. Justru melalui dialog, pergumulan, dan bahkan konflik yang dikelola dengan bertanggung jawab, gereja semakin memahami keluasan karya penyelamatan Allah. Karena itu, warisan terbesar Paulus dan Petrus bukanlah perdebatan mereka, melainkan kesaksian bersama bahwa Injil Yesus Kristus adalah kabar baik bagi semua bangsa. Dalam terang itulah, keduanya lebih tepat dipahami bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai mitra dalam karya Allah bagi dunia.

 

Materi ini disusun berdasarkan Seminar Alkitab LAI “PAULUS DAN PETRUS: BERSAING ATAU BERMITRA?”: https://www.youtube.com/live/Bxe6uhmjha0?si=OvQObQWr5ks7Ij7y 

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia