Dalam tradisi Arab, Boutros adalah padanan nama Petrus. Nama itu berarti batu karang—lambang keteguhan yang tidak mudah digoyahkan ombak. Di dalam Alkitab, Petrus memang pernah jatuh. Ia pernah menyangkal Yesus. Namun setelah dipulihkan, ia menjadi pribadi yang kokoh, tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut, melainkan oleh keyakinan akan kebenaran. Menariknya, makna nama itu seolah menjelma menjadi kisah hidup Boutros Boutros-Ghali. Di tengah badai politik internasional, ketika begitu banyak pemimpin memilih mengikuti arus kekuasaan, ia justru berdiri seperti batu karang. Jabatan boleh hilang, tetapi integritas tidak pernah ia lepaskan.
Namun, kisah Boutros-Ghali bukan hanya mengingatkan kita pada Rasul Petrus. Ada sosok lain yang bayangannya berulang kali muncul dalam perjalanan hidupnya yakni Daniel. Seorang minoritas yang dipercaya mengelola urusan negara adidaya, tetapi tidak pernah membiarkan kekuasaan menguasai hati nuraninya.
Dari Rumah Seorang Pelayan Bangsa
Lahir di Kairo pada 14 November 1922, Boutros-Ghali berasal dari keluarga Kristen Koptik yang telah lama berkiprah dalam pemerintahan Mesir. Kakeknya pernah menjadi Perdana Menteri, ayahnya Menteri Keuangan, sementara pamannya menduduki berbagai posisi strategis negara. Ia lahir di lingkungan yang akrab dengan kekuasaan, tetapi keluarganya mewariskan sesuatu yang lebih penting daripada jabatan: keyakinan bahwa kehormatan bukanlah hak istimewa, melainkan tanggung jawab untuk melayani masyarakat.
Alih-alih segera terjun ke dunia politik, Boutros-Ghali terlebih dahulu membangun fondasi intelektualnya. Ia belajar hukum di Universitas Kairo, melanjutkan doktor di Sorbonne, Prancis, kemudian mengabdikan hampir tiga puluh tahun hidupnya sebagai profesor hukum internasional. Dunia akademik membentuk cara berpikirnya: tajam dalam analisis, hati-hati dalam mengambil keputusan, tetapi berani mempertahankan prinsip ketika prinsip itu diuji. Ia percaya bahwa diplomasi bukan seni menyenangkan semua orang, melainkan seni mencari keadilan di tengah benturan kepentingan.
Kesempatan menguji keyakinan itu datang pada tahun 1977. Presiden Anwar Sadat memutuskan melakukan sesuatu yang belum pernah dibayangkan dunia Arab: membuka jalan damai dengan Israel. Langkah itu memicu kemarahan banyak pihak. Menteri Luar Negeri bahkan memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Dalam situasi genting itulah Boutros-Ghali justru melangkah maju mendampingi Sadat menuju Yerusalem. Keputusan itu menjadikannya salah satu arsitek Perjanjian Camp David yang kelak mengubah sejarah Timur Tengah.
Tidak sedikit yang mempertanyakan keberanian seorang Kristen Koptik mengambil peran sebesar itu dalam konflik yang didominasi identitas Arab, Islam, dan Yahudi. Tetapi justru sebagai seorang minoritas, Boutros-Ghali memahami bahwa perdamaian tidak pernah lahir dari kemenangan satu pihak atas pihak lain. Perdamaian hanya mungkin lahir ketika setiap manusia dipandang lebih berharga daripada identitas politiknya.
Lembah Nil menggemakan kisah Babel.
Daniel hidup sebagai orang buangan di Babel, kerajaan terbesar pada zamannya. Ia bukan bangsawan Babel. Ia bukan pula penyembah dewa-dewa kerajaan. Namun justru Daniel dipercaya mengelola pemerintahan karena kecerdasan dan integritasnya. Ia melayani raja dengan sepenuh hati, tetapi tidak pernah menjual hati nuraninya kepada kekuasaan. Ketika perintah raja bertentangan dengan imannya, Daniel memilih gua singa daripada mengkhianati keyakinannya.
Boutros-Ghali menempuh jalan yang serupa. Ketika dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PBB pada tahun 1992, dunia baru saja keluar dari Perang Dingin. Banyak orang berharap PBB akan memasuki era baru sebagai penjaga perdamaian dunia. Boutros-Ghali menyambut harapan itu dengan melahirkan An Agenda for Peace, sebuah gagasan besar yang memperluas peran PBB dari sekadar menghentikan perang menjadi membangun perdamaian yang berkelanjutan. Di bawah kepemimpinannya, jumlah pasukan penjaga perdamaian meningkat berkali-kali lipat dan PBB semakin aktif mencegah konflik sebelum berubah menjadi peperangan terbuka.
Semakin besar tanggung jawab yang dipikulnya, semakin besar pula tekanan yang datang. Tragedi di Somalia, Rwanda, dan Bosnia mengguncang wibawa PBB. Banyak pihak mencari kambing hitam. Di saat yang sama, negara-negara besar ingin menjadikan organisasi dunia itu sebagai alat bagi kepentingan politik mereka.
Di sinilah karakter "batu karang" itu benar-benar tampak. Boutros-Ghali menolak tunduk. Ia secara terbuka mengkritik standar ganda negara-negara adidaya yang begitu cepat mengirim pasukan ketika kepentingan mereka terganggu, tetapi lamban bertindak ketika jutaan rakyat Afrika menjadi korban perang dan kelaparan. Ia bahkan mengingatkan bahwa perdamaian dunia tidak boleh ditentukan oleh siapa yang paling kuat, melainkan oleh keadilan yang berlaku bagi semua bangsa. Sikap itu membuat banyak negara berkembang menghormatinya, tetapi sekaligus membuat Washington semakin tidak nyaman.
Ketegasan dan sikap independen diplomat Koptik ini akhirnya harus dibayar mahal. Amerika Serikat, yang saat itu menunggak iuran PBB lebih dari satu miliar dolar, menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan untuk menggagalkan pencalonan Boutros-Ghali pada masa jabatan kedua. Ia pun tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya Sekretaris Jenderal PBB yang ditolak untuk menjabat dua periode. Dalam memoarnya, Unvanquished, ia melontarkan sindiran yang tajam, "Kekaisaran Romawi tidak membutuhkan diplomasi. Begitu pula Amerika Serikat."
Ia menjadi satu-satunya Sekretaris Jenderal PBB yang gagal memperoleh masa jabatan kedua bukan karena kehilangan kepercayaan dunia, melainkan karena menolak kehilangan kebebasan moralnya.
Ironisnya, justru kekalahan politik itulah yang mengukuhkan warisannya. Setelah meninggalkan PBB, Boutros-Ghali tetap aktif memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang melalui Organisation Internationale de la Francophonie dan South Centre. Ia terus menulis, mengajar, serta mengingatkan dunia bahwa diplomasi bukanlah seni melayani negara paling kuat, melainkan keberanian membela mereka yang suaranya paling lemah.
Pada akhirnya, dunia tidak terutama mengenang Boutros Boutros-Ghali karena banyaknya resolusi yang ia tandatangani atau lamanya ia memimpin PBB. Dunia mengenangnya karena keberaniannya untuk berkata "tidak" ketika kekuasaan menuntut kepatuhan.
Nama Boutros berarti batu karang. Namun batu karang tidak menjadi kokoh karena kerasnya dirinya sendiri, melainkan karena tetap berdiri ketika ombak datang silih berganti. Demikian pula kehidupan Boutros Boutros-Ghali. Seperti Daniel yang teguh di istana Babel dan Petrus yang tetap setia di tengah penganiayaan gereja mula-mula, ia memilih mempertahankan integritas sekalipun harus membayar harga yang mahal. Baginya, jabatan dapat berakhir, tetapi prinsip tidak boleh ditinggalkan.
Karena itulah, ketika Boutros Boutros-Ghali menghembuskan napas terakhir di Kairo pada 16 Februari 2016 dalam usia 93 tahun, dunia tidak sekadar kehilangan seorang mantan Sekretaris Jenderal PBB. Dunia kehilangan seorang negarawan sejati, cendekiawan ulung, dan diplomat yang membuktikan bahwa integritas mungkin tidak selalu memenangkan pertarungan politik, tetapi pada akhirnya integritaslah yang membuat seorang pemimpin dikenang oleh sejarah. (per)
























