Bagi orang Yahudi, mengajar dan belajar merupakan salah satu hal terpenting sedari awalnya agama ini berdiri. Perintah untuk “ajarlah anak-anakmu” pertama kali muncul di Ulangan 6:5-9, dimana hal tersebut akhirnya juga menjadi komponen penting dalam doa-doa agama Yahudi ataupun dalam pengakuan iman. Dalam kitab Kejadian ketika Beit Yakov meninggalkan Kanaan, hal pertama yang mereka lakukan adalah mendirikan sekolah. Dalam sejarahnya yang panjang, pendidikan Yahudi mengalami beberapa perubahan yang signifikan, dan pendidikan yang didapat tiap orang bisa saja berbeda-beda tergantung dari posisi dalam lapisan masyarakat.
Peran Imam dan Nabi dalam Pendidikan Yahudi
Sebelum pembuangan ke Babilonia, sosok pengajar adalah sosok guru di dalam suku atau di dalam keluarga. Dalam hal ini orang tua sangat berfokus dalam mendidik anak mereka. Walau terdapat sosok guru, orang tua tetap memegang peranan besar dalam mendidik anak mereka. Kaum Yahudi yang hidup secara nomaden melibatkan anak mereka dalam berbagai pekerjaan agraris seperti bertani, memancing dan membuat peralatan menjadi bentuk pelatihan dan pendidikan. Pengetahuan tersebut yang diwariskan turun temurun dalam bentuk cerita dan alegori. Metode tersebut juga digunakan oleh Yesus dalam menyampaikan pengajaran, yaitu melalui cerita dan perumpamaan.
Ketika jabatan imam dan nabi mulai muncul dalam kehidupan orang Yahudi, maka budaya belajar mengalami perubahan, dari yang awalnya melalui lisan menjadi metode tertulis. Dengan munculnya metode tertulis, maka kebutuhan untuk bisa membaca menjadi hal penting di masa tersebut, sehingga para imam kerap dianggap sebagai guru komunitas. Tidak hanya imam, para nabi juga dianggap sebagai sosok guru. Para nabi dilihat sebagai saluran Tuhan berbicara, maka para nabi juga memiliki peran untuk mengajar, terutama dalam hal keagamaan dan permasalahan pribadi.
Pendidikan di Masa Pembuangan
Saat Yerusalem dihancurkan oleh Babilonia pada tahun 586/587 SM, keluarga masih memiliki peran besar dan terpusat dalam mendidik anak-anak. Bagi orang Yahudi anak-anak merupakan anugerah dari Tuhan, sehingga penting bagi orang tua untuk fokus dalam mendidik anak-anak demi masa depan anak itu sendiri. Selama masa pengasingan pendidikan yang formal mulai hadir, dimana anak laki-laki mulai diajarkan untuk membaca dan menulis. Pada masa kanak-kanak, anak laki-laki akan belajar mengenai Tanach terutama bagian Taurat. Pada pendidikan dasar anak-anak tersebut akan belajar mengenai sejarah Musa, pada tingkatan yang lebih tinggi mereka akan belajar belajar mengenai hukum dan praktiknya.
Berbeda dengan anak laki-laki, anak perempuan diajarkan mengenai hal-hal rumah tangga seperti, memintal, menenun, menyiapkan makanan serta mengasuh anak. Dalam hal formal, anak perempuan juga dilatih mengenai hal kebidanan dan kedokteran. Di kelas sosial lebih yang lebih unggul kesempatan pendidikan akan hal lain juga akan tersedia bagi anak perempuan.
Periode Bait Suci Kedua
Setelah kembali ke Yerusalem, peran pendidikan menjadi lebih penting dan berkembang jugalah sistem-sistem instruksional. Di samping tugas-tugas seremonial dan administrasi di Bait Suci, para Imam mempertahankan peran mereka sebagai seorang pendidik. Namun, seiring berjalannya waktu fungsi dari Bait Suci menjadi lebih kompleks yang menyebabkan fungsi Imam sebagai guru mulai diberikan kepada para Ahli Taurat.
Karakter Seorang Guru
Sosok guru sangat dihormati dalam pendidikan orang Yahudi. Dalam kasus tertentu, rasa hormat kepada seorang guru dapat melampaui rasa hormat pada orang tua. Guru juga memiliki kualifikasi dalam mengajar seperti harus laki-laki yang sudah menikah, tidak bermalas-malasan, diperbolehkan untuk marah pada kasus tertentu dan memiliki standar moral yang tinggi. Karakter seorang guru dinilai lebih penting dibanding standar akademiknya.
Walaupun isi dan metode yang berubah sesuai dengan tuntutan waktu dan tempat. Pendidikan tetap menjadi fokus utama di rumah, budaya dan masyarakat Yahudi. Pendidikan menjadi struktur yang meneruskan ajaran dan tradisi suci bagi orang Yahudi. Maka dari itu pendidikan menjadi salah satu hal penting dan mendasar dalam kehidupan sehari-hari dan iman orang Yahudi.
Orang tua berperan penting dalam mendidik anak. Peran mendidik anak tidak bisa serta merta dilimpahkan pada pihak sekolah.
























