Anak di zaman Yunani-Romawi
Dalam perspektif Yunani-Romawi kuno, anak kerap kali tidak dianggap sebagai sosok “manusia utuh”. Hal tersebut terjadi karena sosok anak sering dinilai belum memiliki perkembangan yang sempurna ataupun keterbatasan pengetahuan. Pada masa tersebut sekalipun anak-anak memiliki potensi, potensi anak pada masa tersebut juga sangat bergantung pada status sosial dan jenis gender mereka. Sebagai contoh, anak-anak yang diperbudak pada masa tersebut tidak memiliki potensi untuk mencapai kedewasaan utuh maupun hidup bebas.
Menariknya di dalam Alkitab anak-anak juga digambarkan memiliki keterbatasan dan juga perkembangan yang belum lengkap. Namun, tidak semua teks di Alkitab melihat anak dari sisi keterbatasannya saja, tapi terdapat juga teks-teks di Alkitab yang berfokus pada peran penting anak dan memberi ruang bagi anak sebagai subjek.
Yesus dan Anak-anak di Dalam Perjanjian Baru
Kisah-kisah Yesus berjumpa dan merangkul anak-anak bisa ditemukan dalam beberapa ayat dalam Perjanjian Baru. Dalam Injil Sinoptik terdapat juga beberapa kisah yang berfokus pada sosok anak-anak antara lain, Yesus menyembuhkan dan mengusir setan dari beberapa anak (Matius 15:21-28; Markus 9:14-29, Lukas 7:1-10). Terdapat juga cerita mengenai Yesus membangkitkan anak-anak dari kematian (Matius 9:18-26; Markus 5:21-43, Lukas 7:11-17). Dari kisah-kisah tersebut, secara umum para pembaca hanya berfokus pada mujizat yang dilakukan Yesus, tapi anak-anak dalam narasi tersebut dilihat hanya sebagai sosok pelengkap dalam narasi tersebut, yang padahal anak-anak tersebut seharusnya menjadi pusat dari narasi, dimana reaksi dan tindakan mereka terdapat pengajaran yang diberikan oleh Yesus.
Sejak tahun 2000an muncul sebuah fokus untuk membaca Alkitab dari perspektif anak yang dikenal sebagai Childist Biblical Interpretation. Terbit juga sebuah buku yang berjudul T&T Clark Handbook of Children in the Bible and the Biblical World, yang bertujuan untuk mendorong pesan-pesan tentang perlindungan terhadap anak serta menggali kembali isi dari Alkitab untuk membantu mengeksplorasi dinamika anak sebagai subyek dalam teks dan juga dalam masyarakat.
Agensi Anak di Dalam Injil Lukas
Agensi anak adalah kemampuan seorang anak untuk bertindak, memilih, berpikir, merasakan, dan mempengaruhi lingkungan atau hubungan di sekitarnya sebagai seorang pribadi yang aktif, bukan hanya sebagai penerima perintah. Dalam Lukas 11:11-13 terlihat adanya interaksi dari sang anak kepada ayahnya, yang meminta makanan yang dibutuhkannya yaitu ikan dan telur. Interaksi antara anak dan ayah, merupakan interaksi yang baik dimana sang ayah melihat, mengakui dan berusaha memenuhi kebutuhan dari anaknya sebagai subjek. Dari gambaran tersebut dapat diambil sebuah pesan, dimana seorang ayah mau memberi kepada anaknya apa yang dibutuhkannya.
Dalam membaca Lukas 11:11-13, kerap kali pembaca luput melihat fokus bagaimana melihat sosok anak dari narasi tersebut. Peran anak di dalam narasi tersebut digunakan sebagai memberikan pengajaran kepada pembaca ataupun pendengar. Anak dalam kisah ini bukanlah sekedar hiasan dari ajaran yang Yesus ajarkan, melainkan tokoh anak berperan secara positif untuk mengajarkan para murid dan juga pembaca ataupun pendengar dari ayat tersebut.
Namun, seringkali fokus pembaca hanya melihat bagaimana Tuhan mau memberi dan memenuhi kebutuhan umatNya. Dalam ayat tersebut pembaca bisa melihat bagaimana adanya agensi dimana umat sebagai anak bisa menyatakan kebutuhan kepada Tuhannya.
Agensi Anak di Dalam Injil Matius
Berbeda dengan Injil Lukas, Dalam Injil Matius 7:9-11, tertulis mengenai adanya relasi mutual, yang tidak bergantung pada sosok ayah saja tapi bisa juga sosok ibu ataupun orang lain secara umum yang dilihat dari adanya kata “seorang”. Dalam Lukas 11:11-13, memang terlihat jelas adanya relasi antara anak dan ayah, namun agensi dari sang anak juga terbatas, sang anak tetap bergantung pada otoritas sang ayah untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Jika dilihat dari sisi positif sang ayah tentu saja berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, dimana hal tersebut menjadi pesan penting untuk pembaca menggunakan agensinya untuk berdoa meminta pada Tuhan.
Agensi Anak dalam Perumpamaan Anak yang Hilang
Secara umum, ketika membaca perumpamaan mengenai anak yang hilang, sosok yang dilihat negatif adalah sang Anak Bungsu. Disisi lain ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda ketika sang Anak Bungsu mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dalam hal ini keluar dari rumah ayahnya, merupakan cara sang Anak Bungsu sedang mempraktekkan agensi, yang kemudian membuat dirinya bertobat. Dalam hal ini agensi anak ditampilkan melalui proses hidupnya.
Agensi Anak Bukan Sekedar Menurut
Kebanyakan anak menurut pada orang tua bukan karena rasa sadar, melainkan adanya rasa takut. Alkitab mengajarkan untuk orang tua untuk menghormati agensi anak, mendengarkan kebutuhan dan pilihan dari seorang anak. Orang tua bisa berperan untuk menasihati dan menjabarkan sisi negatif maupun positif dari pilihan yang anak ambil. Dalam hal tersebut anak dan orang tua akan sama-sama belajar dan memiliki hubungan yang kooperatif antara satu sama lain.
























