Ketika membaca Kitab Ester, perhatian kita hampir selalu tertuju kepada Ester. Ia adalah perempuan Yahudi yang menjadi ratu di kerajaan Persia dan kemudian mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan bangsanya dari ancaman pemusnahan. Karena itu, Ester lazim dikenang sebagai pahlawan. Namun, di balik kisah kepahlawanan Ester terdapat seorang perempuan lain yang sering kali hanya menjadi catatan pembuka: Wasti. Ia adalah ratu sebelum Ester, perempuan yang menolak titah Raja Ahasyweros untuk menghadap dan mempertontonkan kecantikannya. Penolakan itu membuatnya kehilangan kedudukannya sebagai ratu dan menghilang dari kisah.
Apakah dengan demikian Wasti adalah perempuan yang gagal, sedangkan Ester adalah perempuan yang berhasil? Apakah seorang perempuan disebut pahlawan hanya ketika ia berhasil mempertahankan atau menggunakan ruang kekuasaan? Ataukah keberanian juga dapat ditemukan dalam tindakan sederhana untuk mengatakan “tidak” terhadap kekuasaan yang memperlakukan manusia sebagai objek?
Ketika Imperium Merembesi Kehidupan
Untuk memahami kisah Wasti dan Ester, kita perlu terlebih dahulu memperhatikan dunia kekuasaan tempat keduanya hidup. Kitab Ester bukan sekadar kisah tentang kehidupan dua perempuan di istana. Kisah tersebut berlangsung di dalam Kerajaan Persia, sebuah imperium dengan kekuasaan yang sangat tersentralisasi pada raja. Karena itu, pengalaman Wasti dan Ester tidak dapat dipisahkan dari struktur kekuasaan yang membentuk kehidupan mereka.
Di sinilah perspektif pascakolonial menjadi penting. Salah satu tokoh yang menjadi rujukan dalam studi ini adalah Edward Said. Said menunjukkan bahwa imperialisme modern memiliki daya jangkau yang sangat luas. Imperialisme tidak hanya menguasai wilayah tertentu, tetapi merembesi berbagai lapisan kehidupan sehingga hampir tidak ada aspek kehidupan yang sepenuhnya terlepas dari pengaruhnya. Dalam konteks pembacaan teks kitab suci, gagasan tersebut mengundang pertanyaan penting: adakah hubungan antara teks-teks budaya dan agama dengan imperialisme? Jika ada, bagaimana hubungan itu bekerja dan apa implikasinya bagi komunitas pembaca pada masa kini?
Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan Alkitab sebagai teks imperialistik. Justru, pembacaan pascakolonial mengajak pembaca mengidentifikasi kemungkinan hubungan antara teks, kekuasaan, dan struktur sosial yang melingkupinya. Karena itu, Kitab Ester dapat dibaca bukan hanya untuk mengetahui apa yang terjadi kepada Ester dan Wasti, tetapi juga untuk melihat bagaimana sebuah sistem kekuasaan bekerja melalui tubuh, relasi sosial, identitas, dan kehidupan kelompok yang berada di bawah kekuasaan imperium.
Musa W. Dube, salah seorang teolog feminis pascakolonial dan ahli biblika yang menjadi rujukan dalam pendekatan ini, melihat imperialisme sebagai suatu proses yang masif, terukur, dan konsisten dalam membangun sistem kekuasaan pada berbagai tingkatan politik, ekonomi, dan sosial. Imperialisme dapat tampak dalam hubungan dominasi antara satu bangsa dan bangsa lain, antara satu negara dan negara lain, bahkan antara kelompok ras dan wilayah geografis yang berbeda. Dengan demikian, imperium bukan hanya persoalan siapa yang secara formal memegang pemerintahan, tetapi juga mengenai bagaimana dominasi tersebut dibangun dan dipertahankan.
Dube menggunakan tiga kata yang dikenal dalam sejarah studi misi untuk membaca mekanisme imperialisme: God, Gold, dan Glory. Ketiganya menunjuk pada persilangan antara legitimasi keagamaan, kepentingan ekonomi, dan pencarian kejayaan atau nama besar. Letty Russell kemudian menambahkan satu dimensi penting, yaitu gender. Dengan demikian, imperialisme tidak hanya beroperasi melalui politik dan ekonomi, tetapi juga melalui relasi antara laki-laki dan perempuan. Keempat unsur tersebut dapat saling melekat dan bekerja secara bersamaan.
Dalam perspektif ini, membaca Kitab Ester berarti memperhatikan bagaimana imperium dan patriarki dapat berkelindan. Kerajaan Persia tidak hanya memiliki struktur kekuasaan politik yang berpusat pada raja; struktur tersebut juga bekerja melalui aturan tentang bagaimana perempuan harus bersikap terhadap laki-laki. Kekuasaan raja atas kerajaan memiliki resonansi dengan kekuasaan laki-laki atas rumah tangga. Apa yang terjadi di istana kemudian ditegaskan melalui dekret yang mengatur bahwa setiap laki-laki harus menjadi kepala dalam rumah tangganya. Dengan demikian, tubuh dan perilaku perempuan menjadi salah satu ruang tempat kekuasaan imperium dan hegemoni maskulin bertemu.
Wasti dan Tubuh Perempuan yang Dijadikan Objek
Kisah Wasti dimulai ketika Raja Ahasyweros mengadakan pesta besar di istananya. Pada saat yang sama, Wasti mengadakan perjamuan bagi para perempuan. Raja kemudian memerintahkan agar Wasti datang menghadap dengan mengenakan mahkota kerajaan untuk memperlihatkan kecantikannya kepada para tamu. Dalam perintah tersebut tampak bagaimana tubuh perempuan ditempatkan sebagai objek yang dapat dipertontonkan.
Hal yang menarik adalah kata kerja yang digunakan untuk Wasti: ia dibawa menghadap raja. Wasti tidak tampil sebagai subjek yang menentukan sendiri kehendaknya. Ia dipanggil, dibawa, dan diperlihatkan. Kecantikannya menjadi alasan mengapa ia harus hadir. Dengan demikian, sejak awal kisah, persoalan yang dihadapi Wasti bukan sekadar persoalan kepatuhan seorang istri terhadap suaminya. Persoalannya adalah bagaimana tubuh perempuan ditempatkan dalam mekanisme kekuasaan dan dijadikan objek bagi pandangan pihak yang berkuasa.
Penolakan Wasti karena itu memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar pembangkangan pribadi. Ketika ia menolak menghadap, para penasihat raja melihat tindakannya sebagai ancaman terhadap tatanan sosial. Mereka khawatir bahwa jika para perempuan mengetahui bahwa Wasti dapat menolak raja, para istri juga akan melakukan hal yang sama terhadap suami mereka. Karena itu, persoalan Wasti segera diperluas menjadi persoalan tentang stabilitas relasi laki-laki dan perempuan dalam seluruh kerajaan.
Di sinilah hubungan antara imperium dan patriarki menjadi semakin jelas. Sentralitas raja sebagai penguasa kerajaan seolah-olah harus memiliki padanannya dalam sentralitas laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Penolakan Wasti terhadap raja dipandang berbahaya karena dapat merembes dari istana ke rumah tangga. Dengan kata lain, tubuh dan tindakan seorang perempuan di ruang istana dianggap mampu mengganggu struktur kekuasaan laki-laki di ruang privat.
Wasti akhirnya disingkirkan. Ia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan dirinya dan setelah itu tidak lagi terdengar dalam narasi. Namun, kesenyapan tersebut tidak harus dibaca sebagai ketiadaan suara. Dalam pembacaan feminis pascakolonial, kesenyapan Wasti dapat dibaca sebagai kesenyapan yang subversif. Ia mengatakan “tidak” kepada kekuasaan yang mengobjektifikasi dirinya dan menggunakan kecantikannya sebagai objek tontonan.
Ester: Dari Objek Menjadi Subjek yang Bertindak
Setelah Wasti disingkirkan, pencarian ratu baru dimulai. Perempuan-perempuan muda yang cantik dan wangi dikumpulkan dari seluruh wilayah kerajaan. Ester, seorang perempuan Yahudi yang telah menjadi yatim piatu dan diasuh Mordekhai, kemudian dibawa masuk ke istana. Ia ditempatkan dalam lingkungan khusus perempuan, dipersiapkan secara fisik dengan berbagai wewangian, lalu dibawa ke hadapan raja. Akhirnya, raja mengasihi Ester, mengenakan mahkota kepadanya, dan mengangkatnya menjadi ratu menggantikan Wasti.
Jika dibaca secara kritis, kenaikan Ester menjadi ratu tidak serta-merta berarti bahwa ia telah memperoleh kebebasan. Sebagaimana Wasti, Ester juga berada dalam struktur yang menentukan kapan ia boleh datang menghadap raja. Ia menjadi objek dari kasih sayang raja dan tetap tunduk pada aturan istana. Bahkan identitas Yahudinya disembunyikan atas perintah Mordekhai. Dengan demikian, pada tahap awal kisah, Ester lebih banyak tampil sebagai perempuan yang dibawa, diproses, dan ditempatkan oleh struktur kekuasaan daripada sebagai perempuan yang menentukan arah hidupnya sendiri.
Namun, keadaan berubah ketika Haman merancang pembinasaan orang Yahudi di seluruh kerajaan. Di sini persoalan Ester tidak lagi hanya berkaitan dengan dirinya sebagai seorang perempuan di istana. Identitasnya yang selama ini disembunyikan ternyata berhubungan dengan nasib sebuah komunitas yang berada dalam ancaman. Keberadaan Ester di pusat kekuasaan memperoleh makna baru karena ia membawa serta identitas dan kehidupan orang-orang yang tidak memiliki akses langsung kepada raja.
Ketika Mordekhai meminta Ester menghadap raja, ia menghadapi risiko yang sangat nyata. Siapa pun yang datang tanpa dipanggil dapat dihukum mati. Karena itu, keputusan Ester bukanlah tindakan spontan tanpa perhitungan. Ia mengetahui risiko yang harus ditanggungnya. Ia bahkan sangat mungkin mengetahui bahwa Wasti telah disingkirkan setelah menolak titah raja. Walaupun teks tidak menyatakan hubungan langsung antara kedua perempuan tersebut, pembacaan hermeneutical imagination membuka ruang untuk membayangkan bahwa kisah Wasti dapat menjadi bagian dari kesadaran Ester tentang risiko yang sedang dihadapinya.
Mordekhai kemudian mengatakan bahwa mungkin justru “untuk saat yang seperti ini” Ester memperoleh kedudukan sebagai ratu. Ungkapan ini dapat dibaca sebagai kairos, sebuah momentum yang menuntut keberanian mengambil keputusan. Ester akhirnya meminta seluruh orang Yahudi di Susan berpuasa selama tiga hari. Ia dan para dayangnya juga akan berpuasa. Sesudah itu, ia akan menghadap raja. Keputusannya jelas: “Kalau aku harus mati, biarlah aku mati.”
Di sinilah Ester mengalami perubahan penting. Perempuan yang sebelumnya dibawa masuk oleh sistem kini mengambil tindakan atas kehendaknya sendiri. Ia masih berada di dalam struktur kekuasaan, tetapi mulai menggunakan ruang tersebut untuk memperjuangkan kehidupan. “Ya” Ester bukanlah ketaatan kepada kekuasaan, melainkan “ya” kepada risiko demi pembebasan kaum yang tertindas.
Mendengarkan Wasti dan Ester Secara Polifonik
Pada titik ini, Wasti dan Ester tidak perlu ditempatkan sebagai dua perempuan yang saling berlawanan. Pendekatan polifonik justru memungkinkan keduanya didengarkan secara bersamaan. Seperti dalam musik polifonik, setiap suara memiliki kekhasan sendiri, bahkan dapat terdengar kontras, tetapi ketika didengarkan bersama, masing-masing suara memperkaya keseluruhan komposisi. Dalam Kitab Ester, satu suara dibungkam, sementara suara lainnya berkembang dan akhirnya dicatat. Namun, keduanya tetap dapat dibaca sebagai bagian dari satu kesaksian tentang perjuangan melawan ketidakadilan.
Wasti berkata “tidak” terhadap kekuasaan yang hendak menjadikan tubuhnya sebagai objek. Ester berkata “ya” terhadap risiko ketika dirinya dan kehidupan umat Yahudi dipertaruhkan. Wasti melawan dengan menolak berada dalam mekanisme objektifikasi. Ester melawan dengan memasuki ruang kekuasaan dan menggunakan posisinya bagi mereka yang terancam. Karena itu, “tidak” dan “ya” bukanlah dua bentuk keberanian yang harus dipertentangkan. Keduanya merupakan tindakan yang lahir dari kesadaran akan ketidakadilan.
Pembacaan ini penting karena kecenderungan untuk hanya memusatkan perhatian kepada Ester dapat membuat Wasti terlupakan. Sebaliknya, memberi perhatian kepada Wasti tidak berarti meninggalkan Ester. Keduanya perlu didengar bersama, sebab suara perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada perempuan yang melawan dengan berkata “tidak”; ada yang melawan dengan berkata “ya” kepada suatu risiko. Ada yang bersuara keras; ada yang suaranya hadir justru dalam kesenyapan. Polifoni memungkinkan semua suara tersebut didengarkan tanpa saling membungkam.
Kemerdekaan: Dari Pembebasan Menuju Perayaan
Kisah Ester kemudian bergerak menuju pembebasan orang Yahudi dari rancangan Haman. Namun, pembebasan tersebut tidak berhenti pada keberhasilan menggagalkan sebuah konspirasi. Pada pasal 9, pembebasan menjadi sesuatu yang harus diingat dan dirayakan. Dukacita berubah menjadi sukacita dan hari perkabungan menjadi hari kegembiraan. Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam Hari Raya Purim.
Purim memperlihatkan bahwa kemerdekaan memiliki dimensi ingatan dan komunal. Umat tidak hanya mengingat bahwa mereka selamat, tetapi juga merayakannya melalui perjamuan, saling mengirim makanan, dan memberi kepada orang miskin. Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari rancangan kematian, tetapi juga berarti membangun kehidupan bersama setelah pembebasan. Mereka yang telah mengalami keselamatan dipanggil untuk membagikan sukacita itu kepada sesama.
Pada bagian akhir, identitas Ester yang sebelumnya disembunyikan akhirnya disebutkan secara terbuka. Suaranya pun dicatat ketika ia bersama Mordekhai menetapkan perayaan Purim. Wasti memang tidak memperoleh kesempatan untuk berbicara kembali. Namun, jika kedua tokoh ini dibaca secara polifonik, suara Wasti yang tidak tercatat secara langsung dapat tetap didengar melalui keseluruhan narasi. Dengan demikian, kitab ini tidak hanya mewariskan suara perempuan yang terdengar, tetapi juga mengajak pembacanya mendengar suara perempuan yang dibungkam.
Merdeka dari Apa, untuk Apa, dan untuk Siapa?
Pada akhirnya, kisah Wasti dan Ester membawa kita kepada pertanyaan yang lebih luas tentang arti kemerdekaan. Menjadi orang merdeka tidak hanya berarti bebas dari penjajahan atau ancaman. Kemerdekaan juga harus diuji melalui cara kita memperlakukan orang lain. Apakah kita sungguh merdeka jika kita masih menindas orang lain? Kita perlu bertanya: kita merdeka dari apa, dari siapa, untuk apa, dan untuk siapa?
Pertanyaan tersebut juga berlaku terhadap cara kita memandang tubuh dan kecantikan. Dalam kisah Wasti dan Ester, kecantikan dapat menjadi sarana objektifikasi ketika tubuh perempuan ditentukan nilainya oleh pandangan orang lain. Namun, kecantikan itu sendiri tidak harus dipandang negatif. Yang perlu ditolak adalah ketika kecantikan menjadi alat untuk menguasai dan mengendalikan perempuan. Kecantikan dapat dipahami sebagai bagian dari keberadaan dan martabat yang diberikan Allah. Karena itu, setiap orang memiliki kebebasan untuk mengenali dan menghayati dirinya tanpa harus tunduk kepada definisi yang dipaksakan oleh orang lain.
Dalam terang ini, Wasti dan Ester kembali bertemu. Wasti mengatakan “tidak” ketika kecantikannya hendak dijadikan objek. Ester mengatakan “ya” ketika kecantikannya membawa pada kedudukan yang dapat menjadi jalan bagi pembebasan kaumnya. Keduanya menunjukkan bahwa kekuasaan yang dimiliki seseorang tidak harus digunakan untuk mempertahankan diri sendiri. Kekuasaan dapat menjadi ruang untuk menggugat ketidakadilan dan menghadirkan kehidupan.
Penutup: Dua Suara, Satu Panggilan Pembebasan
Jadi, siapa sang pahlawan: Ester atau Wasti? Pertanyaan itu akhirnya tidak perlu dijawab dengan memilih salah satu. Wasti dan Ester adalah dua suara yang berbeda dalam satu narasi pembebasan. Wasti mengajarkan keberanian untuk berkata “tidak” terhadap kekuasaan yang mengobjektifikasi dan menindas. Ester mengajarkan keberanian untuk berkata “ya” terhadap risiko ketika kehidupan kaum tertindas dipertaruhkan.
Keduanya juga mengingatkan bahwa perempuan tidak boleh direduksi menjadi objek di dalam struktur kekuasaan. Mereka adalah subjek yang mampu mengambil keputusan, menggugat, bertahan, dan memperjuangkan kehidupan. Bahkan ketika suara mereka dibungkam, suara tersebut tidak harus hilang. Pembaca dapat kembali mendengarnya melalui pembacaan yang peka terhadap relasi kuasa, gender, dan pengalaman mereka yang berada di pinggir.
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan sekadar keadaan bebas bagi diri sendiri. Kemerdekaan adalah panggilan untuk menolak ketidakadilan dan menghadirkan kehidupan bagi sesama. Karena itu, suara Wasti dan Ester terus relevan. Ada saat ketika kita harus mengatakan “tidak”. Ada saat ketika kita harus mengatakan “ya”. Yang menentukan bukan sekadar kata yang kita pilih, melainkan kepada apa kita berkata “tidak” dan kepada apa kita berkata “ya”.
Jika “tidak” kita diarahkan kepada ketidakadilan dan “ya” kita diarahkan kepada kehidupan, maka suara kita pun dapat menjadi bagian dari polifoni pembebasan. Sebab, orang yang sungguh-sungguh merdeka bukan hanya orang yang bebas bagi dirinya sendiri, melainkan orang yang menggunakan kebebasannya untuk ikut menghadirkan kebebasan bagi mereka yang masih tertindas.
Link: https://www.youtube.com/live/0sw_N_0ldDk?si=Fiv4bv-qOyJr9RaQ
























