Narasumber: Hortensius F. Mandaru, SSL
Editor: Juan Nicohlas
Bukan hanya manusia saja, binatang juga harus merdeka. Indonesia sebagai negara bisa dikatakan sebagai negara dengan peringkat penyiksaan binatang yang tertinggi di dunia. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana maraknya konten penyiksaan binatang yang tersebar di media sosial dan juga maraknya perdagangan ilegal satwa liar. Dalam daerah tertentu juga bisa ditemukan bagaimana penyiksaan binatang terjadi dalam bentuk hiburan seperti topeng monyet, sabung ayam, adu jangkrik dan adu kerbau. Tidak asing terjadi juga, bagaimana sebuah kebun binatang di suatu daerah, yang lalai dan melakukan korupsi sehingga binatang dalam tempat kebun binatang tersebut tersiksa.
Dikotomi Manusia dan Binatang
Secara biologis, 98% DNA manusia, serupa dengan binatang sehingga manusia bisa dikatakan termasuk dalam “kelas binatang”. Dalam beberapa hal karena keserupaan tersebut manusia bisa disebut sebagai binatang yang berakal budi. Maka dari itu, munculah penyebutan lainnya juga yang menyebut manusia mengatakan kelompok “binatang manusia” dan juga ada sebutan kelompok “binatang bukan manusia”.
Secara penyebutan tersebut, bisa dipilah ada kelompok binatang yang bisa mengalami rasa senang, sakit, nikmat ataupun gangguan mental seperti rasa takut, cemas dan stress, pada kasus tertentu binatang-binatang tersebut bisa berfirasat dan berintuisi. Perasaan-perasaan tersebut disebut dengan sentiensi, golongan binatang yang memiliki kemampuan untuk merasa tersebut antara lain mamalia, reptil, burung, ikan dan amfibi. Sedangkan untuk serangga belum bisa dibuktikan memiliki perasaan seperti golongan binatang lainnya.
Binatang dalam Narasi Penciptaan dan Air Bah
Dalam Kitab Kejadian, binatang telah terlebih dahulu diciptakan dibanding Manusia. Pada hari ke-5 binatang sudah diciptakan, dan manusia baru diciptakan pada hari ke-6. Dimana pada hari ke-5 binatang-binatang laut dan segala jenis burung diciptakan, lalu pada hari ke-6 barulah Allah menciptakan binatang-binatang darat dan manusia. Dari narasi tersebut, Allah terlebih dahulu ada bersama-sama dengan binatang sebelum adanya manusia. Penciptaan pada hari ke-6 binatang dan manusia juga diciptakan di hari yang sama, menggambarkan bahwa binatang dan manusia adalah kerabat yang tidak bisa dipisahkan.
Dalam narasi Kisah Air Bah, dituliskan bahwa bukan hanya manusia saja yang Allah selamatkan dengan memasuki bahtera, melainkan juga binatang. Tiap binatang masuk secara sepasang-sepasang, bahtera tersebut bisa digambarkan sebagai sebuah “Mini Kosmos” sebuah dunia kecil, dimana manusia diwakili oleh keluarga Nuh dan juga para binatang-binatang. Ketika mereka keluar dari Bahtera (Kejadian 9), Tuhan Allah tidak hanya membuat perjanjian dengan Keluarga Nuh saja, melainkan binatang-binatang yang keluar dari Bahtera Nuh, ikut terlibat dalam perjanjian.
Berbeda dengan kebanyakan narasi penciptaan kebanyakan di dunia Timur Tengah Kuno seperti Epos Gilgames dan Enuma Elis. Binatang tidak mendapat perhatian yang cukup besar dalam narasi-narasi tersebut.
Binatang dan Akal Budi
Apakah binatang memiliki akal budi? Apakah hanya manusia yang memiliki akal budi? Kejadian 3 tertulis bagaimana ular memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan inteligensi. Ular yang berdialog dengan perempuan dalam Kejadian 3, menjadi dialog pertama yang terjadi di dalam Alkitab. Dialog ini membuat pembaca berpikir, apakah manusia saja yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi? Kisah binatang berbicara lainnya terdapat dalam Bilangan 22. Bilangan 22 menulis kisah antara Nabi Bileam dengan hewan keledai yang ia naiki. Dialog yang terjadi antara Bileam dan keledainya adalah ketika keledai tersebut mempertanyakan kenapa Bileam memukulnya sebanyak 3 kali, yang padahal keledai tersebut sedang berusaha menghindari Malaikat Tuhan yang menghadang Bileam.
Penelitian modern juga menemukan bahwa binatang seperti lumba-lumba dan paus pembunuh (orca), bisa dikatakan sebagai binatang terpintar pada saat ini. Kedua binatang tersebut memiliki bahasa tersendiri untuk berkomunikasi bahkan bisa mengatur sebuah strategi untuk berburu. Hal tersebut menggambarkan bahwa binatang-binatang tersebut memiliki akal budi atau kecerdasan sosial yang tinggi.
Kurban Dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, terdapat banyak kisah yang menuliskan mengenai kurban persembahan. Untuk memahami makna kurban, pembacaan tidak hanya bisa berhenti dan berfokus pada penyembelihan hewan saja. Penyembelihan tersebut memiliki aturan yang jelas, penyembelihan bukan berdasarkan kekejaman melainkan dengan niatan yang baik. Pada intinya binatang yang dikurbankan mewakili diri manusia. Dalam artian lain terlihat adanya kesejajaran antara binatang dan manusia.
Beberapa teks dalam Perjanjian Lama juga memperhatikan kesejahteraan dari binatang:
Imamat 22:28: Seekor lembu atau kambing atau domba janganlah kamu sembelih bersama dengan anaknya pada satu hari juga. Terlepas dari mungkin maksud aslinya dari teks tersebut adalah untuk mengatur persediaan makanan, studi lanjut menilai makna dari teks juga memperhitungkan perasaan dari binatang tersebut.
Keluaran 23:5 Apabila engkau melihat rebah keledai musuhmu karena berat bebannya, maka janganlah engkau enggan menolongnya. Haruslah engkau rela menolong dia dengan membongkar muatan keledainya. Teks tersebut mengajarkan bagaimana manusia tidak boleh menyakiti binatang, manusia diminta juga untuk peduli pada penderitaan binatang, terlepas dari sosok kepemilikan binatang tersebut.
Aturan pada Hari dan Tahun Sabat, kerap kali hanya dilihat sebagai hari libur atau hari istirahat bagi manusia saja. Dalam Keluaran 20 dan Imamat 25, juga menuliskan bagaimana Hari dan Tahun Sabat, mengharuskan binatang untuk libur. Kesejahteraan pekerja baik manusia maupun binatang dilihat sebagai kesejahteraan yang harus sama-sama dimiliki kedua golongan. Kesejahteraan yang adil lainnya adalah hasil yang tumbuh pada Tahun Sabat dapat dinikmati sebagai makanan baik oleh manusia ataupun ternak dan juga binatang liar.
Ulangan 25:4 Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik.”
Makna Lembu yang sedang mengirik adalah ketika lembu menginjak-injak hasil panen dengan tujuan untuk melepas biji-bijian dari hasil panen tersebut. Dengan memberangus atau menutup mulut lembu tersebut, maka lembu tersebut tidak bisa memakan hasil yang sedang dia injak. Teks tersebut mengajarkan bahwa lembu tersebut juga bekerja layaknya manusia, sehingga ia juga berhak atas makanan dan tidak perlu untuk takut untuk rugi karena peduli pada binatang yang dipekerjakan.
Ulangan 22:6-7 Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya. Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu. Kisah mengenai keluarga burung, mengajarkan pembaca untuk memiliki empati terhadap binatang. Binatang juga
Binatang sebagai Simbol
Di dalam Alkitab terdapat beberapa narasi dimana Binatang dijadikan sebagai simbol:
Amos 1:2 Berkatalah ia: ” Tuhan mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya; keringlah padang-padang penggembalaan dan layulah puncak gunung Karmel.” Penggambaran Tuhan sebagai Singa memiliki arti bahwa Bangsa Israel dapat berlindung di belakangNya. Sebagai perumpamaan, sosok singa adalah sosok yang ditakuti dan tidak ada yang berani menyerang seekor singa.
Yesaya 1:3 Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.”
Lembu dan Keledai digambarkan sebagai sosok yang lebih tinggi dari manusia (Bangsa Israel). Perumpamaan ini menggambarkan bahwa binatang tau dimana harus mendapat makanan sebagai sumber hidup. Berbeda dengan lembu dan keledai, orang Israel di mata Tuhan dianggap tidak tahu dimana mereka harus mendapatkan makanan, yang dimana makanan yang dimaksud adalah Tuhan sebagai pemilik dan pemberi kehidupan.
Binatang sebagai Agen Allah
Bukan sebagai simbol, terdapat beberapa kisah lainnya dimana Binatang menjadi Agen Allah seperti yang terdapat dalam Bilangan 21:6 dimana ular digunakan untuk menghukum manusia. Kisah lainnya mengenai binatang sebagai Agen Allah, adalah kisah dari Kitab Yunus, dimana dalam kisah tersebut terdapat 2 binatang yang menjadi Agen Allah. Binatang pertama adalah Ikan Besar yang menelan Yunus, yang dimana di dalam perut ikan besar tersebut Yunus berdoa dan tersadar akan perbuatannya. Perut Ikan tersebut menjadi ruang doa dan tempat pertobatan bagi Yunus. Binatang lainnya yang menjadi Agen Allah dalam kisah Yunus adalah seekor ulat yang menggerogoti pohon jarak yang digunakan Yunus untuk menaunginya. Dalam kitab Yunus, Ikan besar dan Ulat dipergunakan Tuhan untuk menobatkan dan mendidik Yunus.
Dalam Kitab Ayub, binatang dipergunakan sebagai sarana untuk mendidik manusia. Allah menampilkan hidup dari binatang singa, anak singa, rusa, keledai, lembu hutan, burung unta, kuda dan burung elang. Tujuan Allah menampilkan binatang-binatang tersebut adalah agar Ayub berhenti berpikir bahwa manusia adalah pusat dari semesta (antroposentris). Allah mengajarkan Ayub untuk ia memperluas wawasan dan pemikirannya dengan menggambarkan kehidupan dari binatang-binatang tersebut, yang dimana mereka diciptakan dengan kebebasan dan memiliki kepribadiannya sendiri.
Yesus dan Binatang
Setelah Yesus dibaptis, Yesus pergi ke Padang Gurun dan Ia hidup bersama binatang-binatang liar. Hal tersebut menggambarkan bagaimana adanya relasi yang bersahabat antara Yesus dan binatang-binatang, seperti yang dikatakan nabi-nabi sebelumnya bahwa akan ada masa dimana semua akan hidup damai bersama-sama, Yesus dalam Injil Markus memperlihatkan terjadinya perkataan nabi-nabi dimana kedatangannya menjadi harmoni yang tergenapi.
Yesus juga dalam pengajarannya kerap kali menggunakan binatang dalam mengajar orang-orang. Dimana manusia kerap digambarkan dalam pengajarannya sebagai domba dan Yesus adalah gembalanya. Contoh lainnya adalah ketika Yesus mengajak orang-orang yang khawatir untuk belajar dari burung-burung yang Tuhan beri makan dan pelihara.
Yohanes 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Makna hidup harus dilihat secara umum, bukan hanya hidup dalam diri manusia saja. Hidup yang sejati dan berkualitas bukan hanya untuk manusia saja, melainkan juga pada seluruh makhluk termasuk binatang.
Penutup
Seluruh isi dunia ini saling terkoneksi dan bergantung, manusia tidak hanya hidup sendiri di dunia ini. Bumi dan segala isinya adalah milik dari sang Pencipta yang memiliki hak atas segala yang ada di dalam Bumi termasuk binatang. Manusia harus berhati-hati dalam memperlakukan apa yang bukan menjadi milik dan hak dari manusia.
























