Oleh Pastor Alfred Lansana
Sahabat-sahabat Alkitab yang terkasih, ada sebuah cerita yang ingin kubagikan padamu.
Meskipun kita belum pernah bertemu secara langsung, aku bisa merasakan doa-doamu. Aku telah melihat sendiri bagaimana hadiah firman Allah yang engkau berikan membawa perubahan nyata di tempat-tempat seperti tanah airku, Sierra Leone.
Melalui tulisan ini, aku ingin menceritakan bagaimana benih-benih iman yang engkau tanam—lewat doa dan kemurahan hatimu yang terus mengalir—telah menghasilkan tuaian yang luar biasa di Afrika Barat, membawa Injil sampai ke berbagai pelosok yang belum pernah terjamah sebelumnya!
Aku Merasakan Sendiri Hadiah Terbaik Itu
Sejak kecil di Sierra Leone, aku dan teman-temanku suka berlari dari rumah ke rumah untuk mengobrol dengan warga dan mengundang mereka ke gereja. Saat itu aku tidak tahu bahwa apa yang kami lakukan disebut "misi"; aku bahkan tidak pernah bercita-cita menjadi seorang pastor. Aku hanya ingin membagikan kasih Yesus.
Bertahun-tahun kemudian, aku pindah ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan. Aku meraih beberapa gelar akademis dan membangun karier yang sukses. Di kemudian hari, aku dan istriku, Florence, memulai sebuah pelayanan dari ruang bawah tanah rumah kami. Pelayanan kecil itu berkembang menjadi jemaat yang bertumbuh pesat di dekat Atlanta. Selama bertahun-tahun, aku mencurahkan seluruh hidupku untuk berkhotbah, memberikan konseling, pelayanan ibadah di kapel, hingga penjangkauan di penjara. Namun, jauh di dalam hati, aku selalu merasa ada sesuatu yang masih kurang.
Semua itu berubah dua tahun lalu, ketika aku mengenal pelayanan yang engkau dukung melalui Lembaga Alkitab Amerika (American Bible Society-ABS)!
Kala itu, aku dan istriku sedang berada di Kenya untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh ABS bersama mitra pelayanan lainnya. Kami diperkenalkan dengan program End-to-End dan bagaimana program tersebut bertujuan menyebarkan Injil melalui media visual, audio, serta Alkitab cetak. Kami sama sekali tidak menyangka bahwa hati kami sendiri akan tersentuh begitu dalam oleh pelayanan ini.
Aku ingat betul momen ketika duduk di samping istriku sambil memegang sebuah perangkat audio. Kami mendengarkan Alkitab "hidup" dan bersuara dalam bahasa Mende—bahasa ibu kami, bahasa keluarga kami, serta bahasa yang kami gunakan sejak kecil untuk berpikir, berdoa, dan bermimpi. Sungguh mustahil mengungkapkan betapa menakjubkannya perasaan itu!
Dalam bahasa Inggris, kami paham Alkitab. Namun dalam bahasa Mende, kami merasakan firman Allah menyalakan sesuatu yang baru di dalam jiwa kami. Meskipun saya memiliki begitu banyak pengalaman dan latar belakang pendidikan, saya belum pernah mengalami pertemuan dengan Alkitab seperti ini. Rasanya seolah-olah kami baru pertama kali mendengarkan Injil, dan hati kami meluap dengan sukacita.
Satu-satunya hal yang ada di pikiran saya saat itu adalah: Inilah yang selama ini aku cari! Dan saat itu juga, aku tahu persis apa yang Allah inginkan untuk kulakukan.
Engkau Membuka Jalan Bagi Kami Membawa Injil ke Desa-desa Yang Belum Percaya
Setelah menyadari betapa besarnya potensi program End-to-End untuk membagikan Injil kepada orang-orang dari suku kami, kami tidak sabar untuk segera memulainya.
Setibanya di Sierra Leone, kami langsung bekerja sama dengan seorang sahabat misionaris bernama Musa dan beberapa rekan lainnya untuk menjangkau masyarakat lokal. Perkembangan pelayanan kami sangat pesat, namun sebuah tantangan besar menanti di depan mata.
Sekitar 80 persen penduduk Sierra Leone beragama Islam. Umat Kristen lain sudah pernah mencoba membawa Injil ke desa-desa di sana. Bahkan Musa sendiri sudah berulang kali mencoba, tetapi selalu ditolak.
Padahal, justru orang-orang inilah yang Allah inginkan untuk kami jangkau.
Ketika aku memberi tahu Musa ke mana tujuan kita selanjutnya, dia ragu dan berkata bahwa mereka mungkin tidak akan mengizinkan kami masuk. Namun, aku telah merasakan sendiri keajaiban dari hadiah firman Allah dalam bahasa ibuku. Walaupun tidak yakin 100% apakah kami akan berhasil, aku berkata kepada Musa, "Saat kita pergi nanti, kita akan memberikan Alkitab audio sebagai hadiah bagi mereka, agar mereka mulai mendengar bahwa Yesus yang selama ini mereka jauhi ternyata bisa berbicara dalam bahasa mereka sendiri."
Dengan misi tersebut, kami mengendarai sepeda motor menuju desa pertama untuk menemui kepala desa dan imam setempat. Tanpa persetujuan dari kedua tokoh ini, tidak ada jalan bagi kami untuk menjangkau warga. Satu-satunya hal yang kubawa hanyalah Alkitab audio tersebut. Aku menyerahkannya kepada kepala desa sebagai hadiah sambil berkata, "Ini adalah sesuatu yang telah mengubah hidup saya, dan saya ingin membagikannya kepada Anda."
Sahabatku, engkau tidak bisa membayangkan betapa bahagianya kami ketika kembali ke sana keesokan harinya dan mendengarkan pengakuan kepala desa. Beliau bukan hanya telah mendengarkan Alkitab audio itu, tetapi juga berkata kepada kami, "Ada kebenaran di dalam alat ini."
Malam harinya, atas izin dan restu dari kepala desa serta sang imam, seluruh warga desa berkumpul untuk menyaksikan kisah hidup Yesus dalam bahasa Mende. Saat mereka melihat perjalanan hidup Yesus yang disampaikan dalam bahasa mereka sendiri, kami melihat raut wajah mereka berubah. Mereka menginginkan lebih.
Kemudian, sang kepala desa mengajukan satu pertanyaan yang tidak akan pernah kulupakan: "Bisakah Anda membangun gereja di sini?"
Warga desa ingin segera memulainya. Semua orang terlibat: anak-anak kecil mengangkut ember berisi air, kaum pria dan wanita mencetak batu bata dengan tangan mereka sendiri, hingga tukang kayu lokal yang membuat bangku jemaat dan mimbar. Bahkan ketika hujan lebat merobohkan bangunan yang belum selesai itu, semangat masyarakat tidak surut sedikit pun. Sekian lama orang-orang ini menganggap Alkitab sebagai sesuatu yang asing dari luar. Namun karena belas kasih Anda, para donatur, mereka bisa melihat dan mendengar Injil dalam bahasa Mende, dan mereka sadar bahwa Kabar Baik ini memang ditujukan untuk mereka.
"Ini adalah kebenaran," kata kepala desa kepada kami. "Kami ingin anak-anak kami mempelajari cara baru untuk mengenal Allah ini."
Jemaat desa tersebut menggunakan Alkitab audio darimu untuk terus belajar tentang Allah hingga akhirnya mereka menemukan seorang pastor yang menetap. Tak lama kemudian, warga dari komunitas-komunitas tetangga mulai bertanya kepada kami, "Kapan Anda akan membawa dan mendirikan gereja di desa kami?" Dari sinilah, pada suatu pagi Paskah, kami menyaksikan sendiri apa yang sanggup Allah lakukan bahkan dari benih iman yang paling kecil sekalipun.
Kami Menyaksikan Mukjizat Paskah!
Ketika tiba waktunya untuk meresmikan gereja kedua di desa tetangga, momennya bertepatan menjelang Paskah. Namun, warga desa itu tidak ingin merayakannya sendirian—mereka ingin mengundang desa-desa di sekitarnya untuk bergabung. Satu-satunya kendala adalah Minggu Paskah jatuh tepat di puncak bulan Ramadan.
Orang-orang mulai menasihatiku, "Langkah ini terlalu berisiko dan berani. Anda ingin meresmikan gereja di tengah-tengah waktu yang sangat suci bagi umat Muslim."
Jujur saja, aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun aku sangat yakin bahwa kita melayani Allah yang penuh mukjizat—Dia yang telah membawa langkah kami sejauh ini.
Maka, pada hari Minggu Paskah itu, kami tetap meresmikan gereja baru tersebut dengan dihadiri oleh puluhan tamu dari desa-desa lainnya. Jumlah pengunjung yang datang begitu membludak hingga kami harus menambah kursi ekstra di luar ruangan. Dalam ibadah yang tak terlupakan itu, kami mendengarkan Alkitab audio berbahasa Mende bersama-sama. Allah mengerjakan mukjizat, tanda-tanda heran, dan keajaiban. Orang-orang mengalami kesembuhan dalam nama Yesus.
Kemudian, kami mengundang siapa saja yang ingin menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Hampir seluruh jemaat mengacungkan tangan mereka, termasuk sang kepala desa yang pertama kali menerima hadiah Alkitab dalam bahasa daerahnya!
Seusai ibadah, meskipun sedang menjalan puasa Ramadan, semua orang yang sudah percaya menikmati hidangan perjamuan yang telah kami siapkan untuk merayakan kebangkitan Yesus—serta kehidupan baru yang engkau hadirkan ke desa ini melalui Injil.
Sebelum pulang ke rumah masing-masing, para tamu berbisik dan berkata kepada kami, "Kami siap. Kami ingin Allah yang sama ini hadir juga di desa kami."
Hadiahmu Terus Berkelipatan!
Setelah Minggu Paskah yang penuh mukjizat itu, aku tahu betul bahwa tugas dari Allah untukku adalah melanjutkan pelayanan yang mengubah jalan hidup banyak orang ini.
Kami telah melihat sendiri tuaian rohani yang lahir dari iman dan kesetiaan Anda kepada Allah. Dari kasih dan kesetiaan Anda mendukung pelayanan Kabar Baik. Di desa pertama yang kami kunjungi, sang kepala desa bercerita bahwa Alkitab telah membantunya menjadi pemimpin dan mediator yang lebih baik. Keluarga-keluarga yang telah bermusuhan bertahun-tahun kini telah berdamai. Angka kriminalitas menurun drastis. Bahkan, Allah menjawab doa-doa warga dengan memberkati ladang pertanian desa lewat hasil panen yang melimpah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Seorang pria menuturkan kepada kami, "Sejak gereja berdiri di komunitas ini, kami telah dibawa keluar dari kegelapan menuju terang melalui ajaran-ajaran yang menyingkapkan kebenaran kepada kami."
Hari ini, kami merayakan berdirinya 14 gereja yang dibangun di desa-desa di Sierra Leone sejak tahun 2023!
Namun Kabar Baik ini tentu saja bukan hanya untuk Sierra Leone saja, melainkan untuk Kerajaan Allah. Itulah sebabnya kami juga melatih orang-orang percaya di negara-negara Afrika Barat lainnya seperti Senegal, Guinea, Gambia, dan Liberia tentang cara menggunakan program End-to-End. Mereka melintasi medan yang berat, menantang cuaca ekstrem, bahkan siap menghadapi risiko penganiayaan karena mereka tahu betapa besarnya kuasa dari apa yang mereka bawa. Injil akan mengubah kehidupan banyak orang ke mana pun ia melangkah. Dan Allah senantiasa memberkati pelayanan kami melalui mitra-mitra yang setia seperti Anda!
Terima Kasih Telah Menabur Benih-Benih Iman!
Setiap kali seorang anak mendengarkan firman Allah di ruang kelas sekolah mereka; setiap kali seorang ibu menyaksikan kisah Injil terhampar di layar kaca; setiap kali sebuah desa berkumpul untuk mendengarkan Alkitab dalam bahasa sehari-hari mereka, di situlah benih-benih sedang ditaburkan.
Engkau telah membukakan pintu ke tempat-tempat yang belum pernah dijangkau oleh Injil sebelumnya!
Baik melalui donasi, doa, atau bahkan menyebarkan kisah karya Allah ini dengan membagikan ceritaku kepada sahabatmu, tidak ada yang sia-sia. Setiap benih yang ditabur di Afrika sedang menghasilkan buah manis, dan saya menyaksikan hal itu dengan mata kepala saya sendiri.
Karena dukungan Anda, kini saya dapat mengutip perkataan Rasul Paulus dengan penuh keyakinan:
Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya." (Roma 15:20-21, TB)
Syukur kepada Allah!
























