Ada cerita dari Tiongkok tentang seorang petani tua, yang punya seekor kuda tua untuk mengerjakan ladangnya. Pada suatu hari kuda itu lari, menghilang di pegunungan dan ketika semua tetangga petani itu mencoba menghibur dan menyatakan perasaan kasih sayang terhadap orang tua yang bernasib buruk itu, si petani menjawab,”Nasib buruk? Nasib baik? Siapa yang tahu?”
Seminggu kemudian kuda kembali membawa kawanan kuda liar dari pegunungan dan kali ini para tetangga mengucapkan selamat kepada petani itu karena nasib untungnya. Jawab si petani tua,”Nasib baik? Nasib buruk? Siapa yang tahu?”
Kemudian, ketika anak si petani itu mencoba menjinakkan salah satu dari kuda-kuda liar itu, ia terjatuh dari punggung kuda dan kakinya patah. Semua orang merasa kali ini nasib si petani sungguh malang. Tetapi tidak demikian menurut si petani. Katanya,”Nasib baik? Nasib buruk? Siapa yang tahu?”
Beberapa minggu sesudah itu, tentara masuk ke desa, dan mendaftar semua orang muda yang sehat badannya, yang ditemukan di sana. Mereka harus menjalani wajib militer dan akan dikirim ke medan pertempuran. Ketika itulah para teteangga melihat anak si petani yang patah kaki dilepaskan dari kewajiban bertempur. Apakah itu nasib baik? Nasib buruk? Siapa yang tahu?
Cerita di atas terdapat dalam buku Burung Berkicau (Song of Bird), karya Anthony de Mello. Siapakah Anthony de Mello?
Anthony de Mello, SJ—atau yang lebih akrab disapa Tony de Mello—adalah seorang imam Yesuit, psikoterapis, dan penulis asal India yang karya-karyanya menjangkau jutaan pembaca di seluruh dunia. Melalui pendekatan yang unik, ia memadukan teologi Katolik, psikologi modern, serta kearifan mistik Timur dan Barat. Di Indonesia buku-bukunya terjual ribuan kopi dan dicetak ulang berkali-kali. Sebut saja: Doa Sang Katak (jilid 1 dan 2), Burung Berkicau, Awareness, Sejenak Bijak, Sadhana ataupun Mencari Tuhan dalam Segala.
Anthony de Mello lahir pada 4 September 1931 di Bombay (sekarang Mumbai), India. Ia tumbuh dalam keluarga Katolik Konkani Goan yang taat. Panggilan hidupnya sebagai pelayan Tuhan tampak sejak usia muda. Pada usia 16 tahun, de Mello memutuskan untuk bergabung dengan Serikat Yesus (Yesuit) di Seminari Vinalaya, Bombay.
Sebagai bagian dari proses pembentukan Formasi Yesuit, ia dikirim ke Barcelona, Spanyol, pada tahun 1952 untuk mendalami ilmu filsafat. Rekan-rekannya mengenangnya pada masa-masa awal ini sebagai sosok yang sangat kaku, konservatif dalam berteologi, dan enggan berdialog dengan tradisi agama lain. Namun, keterbukaannya terhadap dunia luar mulai mengikis kekakuan tersebut. Sekembalinya ke India, ia melanjutkan studi teologi di De Nobili College, Pune, hingga akhirnya ditahbiskan menjadi imam pada Maret 1961.
Setelah penahbisannya, Fr. de Mello mengabdikan waktunya di dunia pendidikan calon imam hingga diangkat menjadi Rektor Seminari Vinalaya pada tahun 1968. Ketertarikannya pada penggabungan antara kesehatan mental dan perjalanan jiwa mendorongnya mendirikan Institute of Pastoral Counselling pada tahun 1972 di Poona (yang kemudian berkembang menjadi Sadhana Institute of Pastoral Counselling).
Melalui Sadhana Institute, de Mello melatih para imam, biarawan, dan awam dalam integrasi antara psikoterapi modern dan doa contemplative. Pada tahun 1978, ia menerbitkan buku pertamanya yang legendaris, Sadhana – A Way to God. Dalam buku tersebut, ia memperkenalkan "Latihan Doa Kristiani berbalut tradisi Timur".
"Satu pelajaran besar dari Inkarnasi adalah bahwa Allah ditemukan dalam hal-hal biasa. Anda ingin melihat Allah? Lihatlah wajah orang di sebelah Anda. Anda ingin mendengar-Nya? Dengarkan tangisan bayi, gelak tawa di pesta, atau angin yang berdesir di pepohonan."
Demikian tulisnya dalam buku tersebut. Buku ini menjadi salah satu pembuka jalan yang mempopulerkan praktik kesadaran penuh dan kontemplasi khas Timur di kalangan komunitas Kristen Barat.
Pada dekade 1980-an, pelayanan de Mello berkembang pesat secara internasional. Ia memimpin berbagai konferensi dan retret spiritual di Amerika Serikat, Latin Amerika, dan Eropa. Karismanya terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan rohani melalui kisah-kisah humoris, perumpamaan, dan anekdot.
Dalam retret-retretnya, ia tidak hanya mengutip Santo Yohanes dari Salib atau Santo Ignatius dari Loyola, tetapi juga mengintegrasikan pemikiran para penyair sufi seperti Rumi, penyair Hindu Kabir, kisah humoris Nasreddin dari tradisi Islam, kisah hidup Sang Buddha, hingga teknik kesadaran (awareness) yang dipelajarinya dari guru meditasi Vipassana, S.N. Goenka.
Bagi de Mello, cerita adalah jembatan tercepat menuju hati manusia. Sebagaimana dituliskannya dalam karya kumpulannya: "Jarak terpendek antara kebenaran dan manusia adalah sebuah cerita."
Melalui cerita-cerita sederhana, ia membongkar ilusi, prasangka, dan dogma kaku yang sering kali menghalangi orang untuk mengalami kehadiran Ilahi secara nyata.
Misalnya, untuk mengkritisi angka-angka statistik yang sering menyesatkan, De Mello dalam Doa Sang Katak 1 menulis anekdot pendek, demikian:
Rombongan seratus penebang kayu bekerja di hutan selama enam bulan. Ada dua orang wanita yang bekerja mencuci pakaian dan memasak untuk mereka. Pada akhir masa kerja, dua orang pekerja penebang kayu menikahi dua wanita itu. Suratkabar lokal menulis berita bahwa dua persen laki-laki menikahi seratus persen wanita.
Puncak pesan spiritual Anthony de Mello terangkum dalam gagasan tentang Awareness (Kesadaran Penuh) dan Waking Up (Bangun dari Tidur Panjang Spiritual). Bagi de Mello, mayoritas manusia menjalani hidup dalam kondisi "tertidur"—dikendalikan oleh penderitaan, proyeksi pikiran, dan keterikatan emosional.
"Spiritualitas berarti terbangun. Kebanyakan orang, tanpa menyadarinya, hidup dalam keadaan tertidur. Mereka lahir dalam tidur, menikah dalam tidur, membesarkan anak dalam tidur, dan mati dalam tidur tanpa pernah benar-benar bangun."
Ia menekankan bahwa penderitaan manusia tidak disebabkan oleh situasi eksternal, melainkan oleh keyakinan palsu dan keterikatan kita terhadap persepsi diri sendiri. De Mello sering mengingatkan bahwa gambaran kita tentang Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri. "Setiap kata, setiap citra yang digunakan untuk menggambarkan Allah lebih merupakan sebuah distorsi daripada deskripsi," tulisnya dalam Sejenak Bijak Konsep kita tentang Allah bisa menjadi penghalang utama untuk benar-benar mengalami Allah.
Dalam bukunya Sadhana ia menegaskan bahwa cinta sejati hanya hadir ketika seseorang telah membebaskan dirinya dari ketergantungan dan harapan akan balasan orang lain. Cinta bukanlah tentang kepemilikan, melainkan tentang keterbukaan tanpa rasa takut.
Pada 2 Juni 1987, Anthony de Mello meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung di New York City pada usia 55 tahun. Jenazahnya ditemukan di kamar dalam posisi meringkuk. Ia dimakamkan di Bombay. Pemakamannya dipimpin oleh sahabatnya, Pater Lisbert D'Souza, SJ.
Terhadap orang-orang yang sering meragukan pandangan de Mello, Pater Lisbert D'Souza menegaskan bahwa jika dipahami dalam konteksnya, gagasan de Mello tidak bermasalah dan tetap konsisten dalam tradisi Latihan Rohani Ignasian. Saat ini, buku-buku de Mello tetap dijual bebas di berbagai toko buku Katolik dengan catatan bahwa karya tersebut ditulis dalam konteks dialog lintas agama.
Meskipun perjalanannya di dunia terhenti di usia yang relatif muda, warisan pemikiran Anthony de Mello, SJ tetap menginspirasi. Buku-bukunya seperti Doa Sang Katak, Burung Berkicau, Sadhana, Awareness, Dipanggil untuk Mencinta, Mencari Tuhan dalam Segala, dan Sejenak Bijak diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dan hingga hari ini terus dicetak ulang.
Ia dikenang bukan hanya sebagai seorang rohaniwan atau pembicara yang ulung, melainkan sebagai penunjuk jalan yang mengajak setiap orang untuk membuka mata, membebaskan diri dari belenggu ilusi, dan mengalami keindahan hidup dalam kekinian bersama Sang Pencipta.
De Mello menulis, setiap orang percaya semestinya belajar dan menggali sendiri iman yang ia percayai. Karena, iman bukan sekadar mengikuti dan percaya penuh tuturan pengkhotbah dan para imam. Iman adalah perjalanan untuk menemukan dan menjumpai Kristus secara pribadi. Tentang hidup seorang Kristen, dalam Burung Berkicau de Mello menulis sebuah kisah:
Wawancara antara seorang yang baru saja bertobat dan mengikut Kristrus dengan seorang temannya yang tidak beriman.
“Jadi, kau sudah bertobat menjadi pengikut Kristus?”
“Ya.”
“Kalau begitu tentu kau tahu banyak tentang Dia. Misalnya, di negara mana Ia dilahirkan?”
“Aku tidak tahu.”
“Berapa usianya waktu Ia meninggal?”
“Aku tidak tahu”
“Berapa kali Ia berkhotbah?”
“Aku tidak tahu.”
“Lho, bagi orang yang menyatakan telah bertobat menjadi pengikut Kristus, kau mengetahui sedikit sekali.”
“Kau memang benar. Aku malu karena begitu sedikit pengetahuanku tentang Dia. Tetapi, sekurang-kurangnya aku tahu tentang hal ini: Tiga tahun yang lalu aku seorang pemabuk. Hutangku banyak. Keluargaku berantakan. Anak isteriku selalu takut, setiap kali aku pulang. Tetapi sekarang aku sudah tidak minum lagi. Hutang-hutangku sudah lunas. Keluarga kami bahagia. Anak-anak senang menantiku pulang ke rumah setiap sore. Ini semua karya Kristus bagiku. Sebanyak inilah yang saya ketahui tentang Kristus.”
De Mello mengajak kita merenungkan makna dari mengenal Kristus, mengetahui berarti: diubah oleh apa yang diketahuinya. Pertanyaannya, sudahkah kita diubah oleh Dia yang kita kenal?
























