“Tidak disangka air itu makin besar. Larilah kami ke jalan besar itu, datanglah air dari sungai sebesar-besarnya, kereta (motor) anakku hanyut, tidak sampai setengah jam hanyut pula rumahku. Semua barang-barang tidak ada yang sempat dibawa,” ujar Inang Nurlina Sitompul, salah satu yang terdampak akibat banjir Sibolga.
"Sekarang, kalau turun hujan deras kami takut. Rasa trauma itu masih ada sampai sekarang," kata salah satu warga. Kenangan akan banjir dan tanah longsor yang melanda Sibolga dan Tapanuli Tengah pada November 2025 sangat membekas di hati mereka. Bagaimana tidak, kejadiannya begitu mendadak. Pagi itu warga melakukan aktivitas seperti biasa. Ada yang hendak berangkat ke sekolah, ada pula yang bersiap menuju tempat kerjanya.
Tiba-tiba banjir melanda. Suasana menjadi sangat kacau, listrik dan komunikasi terputus, jalan-jalan terputus. Warga berlarian mengungsi. Tidak ada harta benda yang sempat dibawa. Bahkan, banyak dari mereka yang terpisah dari keluarganya.
Namun di tengah duka dan kehilangan yang masih membekas, secercah harapan hadir perlahan. Pada Desember 2025, tim dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) datang untuk menyalurkan bantuan berupa bahan makanan, pakaian, juga pendampingan trauma kepada warga yang terdampak. Kini, LAI kembali hadir untuk memberikan penguatan iman melalui pendistribusian Alkitab sebanyak 3.974 eksemplar (eks) kepada gereja-gereja dan umat Tuhan di Sibolga dan Tapanuli Tengah. Bantuan Alkitab ini merupakan hasil dukungan dari umat Tuhan di perkotaan, dengan rincian sebagai berikut:
· Bibel Bahasa Toba = 1.634 eks
· Alkitab 062 TI SL = 630 eks
· Alkitab 052 TI = 850 eks
· Alkitab 032 TI = 860 eks
Saat Alkitab dibagikan, beberapa jemaat tampak menahan haru. Kini mereka menemukan kembali pegangan yang sempat hilang bersama arus banjir dan tertimbun longsor. Bagi mereka, Alkitab yang mereka dapatkan ini merupakan sebuah hadiah terindah. “Kami bersyukur kepada Tuhan, bahwa di tengah situasi yang tidak menentu kami masih punya pegangan, yaitu firman Tuhan. Harta benda kami boleh hilang, tetapi iman percaya kami kepada Tuhan Yesus harus tetap teguh,” ujar salah satu umat dengan suara bergetar. (zvp)
























