Ibadah Bulan Doa Alkitab 2026
JAKARTA, LAI — Suasana khidmat dan hangat menyelimuti aula Gedung Pusat Alkitab, pada Rabu pagi, 9 September 2026. Sekitar 200 orang—terdiri dari keluarga besar Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) mulai dari organ yayasan, karyawan aktif, pensiunan, hingga para mitra dan relawan—berkumpul bersama dalam Ibadah Bulan Doa Alkitab 2026. Peristiwa tahunan ini menjadi momen penting untuk mengucap syukur atas pertolongan Tuhan dalam menyertai setiap pelayanan LAI dan mitra-mitranya dalam menerjemahkan dan menyebarkan Kitab Suci agar senantiasa hadir dalam bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami serta dekat di hati setiap umat.
Ibadah ini tak hanya dirasakan oleh mereka yang hadir secara fisik, tetapi juga menjangkau banyak mitra di berbagai penjuru tanah air yang bergabung melalui media Zoom dan saluran penyiaran daring. Ketua Umum LAI, Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang (Pdt. Erry), dalam sambutan pembukanya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam atas dukungan seluruh gereja dan lapisan masyarakat terhadap pelayanan LAI, khususnya dalam Bulan Doa Alkitab.
Pdt. Erry menggarisbawahi pentingnya semangat oikumenis dalam pelayanan menghadirkan firman Allah. "Kita juga bersyukur bahwa di bulan September ini saudara-saudara umat Katolik pun merayakan Bulan Kitab Suci," tuturnya penuh kehangatan. Maka, perayaan Bulan Doa Alkitab ini merupakan bentuk sinergi dan ucapan syukur bersama untuk mendukung setiap usaha menghadirkan Alkitab ke dalam bahasa ibu.
Sebagai pelayan firman adalah Pdt. Yerry Pattinasarany, hamba Tuhan dan sekaligus influencer yang dikenal lewat tagline “Allah Hadir”. Membuka khotbah beliau menyampaikan harapan agar Ibadah Bulan Doa Alkitab pada akhirnya tidak berhenti seremonial belaka, melainkan menjadi tonggak sejarah baru bagi pelayanan menghadirkan dan menghidupkan Alkitab di Indonesia.
”Kita berterima kasih dan bersyukur atas pelayanan rekan-rekan di LAI, karena kita telah melihat begitu banyak dampak-dampak besar yang terjadi ketika firman Tuhan hadir, menginspirasi dan mentranformasi kehidupan umat,”terangnya di awal khotbah.
Mengangkat tema kerja LAI tahun 2026, "Sabda Ilahi Menginspirasi Budaya Digital" yang berakar pada nats Yohanes 1:14 (TB-2), Pdt. Yerry Pattinasarany menegaskan bahwa inkarnasi Kristus—Firman yang menjadi manusia—adalah bukti nyata bahwa Tuhan selalu memilih untuk hadir dan berelasi langsung di tengah ruang kehidupan manusia. Penetrasi Injil telah terbukti mampu meretas batas-batas budaya, mengubah tatanan sosial, hingga menerobos bahasa-bahasa ibu yang paling terpencil dan sulit terjangkau di pelosok Nusantara.
Di era modern saat ini, Pdt. Yerry memaparkan sebuah realitas baru. Ada satu kelompok atau "suku" yang sangat unik, yang kini menjadi pusat perhatian dunia industri, sosial, dan kebudayaan. Suku ini tidak dibatasi oleh garis geografis terdepan atau terbelakang, melainkan terikat dalam satu ekosistem.
"Bapak, Ibu, Saudara, ada satu suku yang sangat unik. Suku ini memiliki bahasa ibu yang unik," katanya. "Dia bukan suku terbelakang, terdepan, terkanan, atau terkiri. Representasinya sangat kuat. Nama suku ini adalah netizen, Bapak, Ibu... Netizen yang maha benar dan maha suci," tuturnya berseloroh yang disambut tawa para hadirin.
Pdt. Yerry menjelaskan bahwa "bahasa ibu" dari suku netizen ini mewujud dalam bentuk platform digital seperti Instagram, Facebook, YouTube, Threads, hingga TikTok. Kebiasaan hidup masyarakat di era digital pun telah bergeser secara drastis dari budaya privat menuju budaya serba terbuka.
Menghadapi fenomena dunia digital yang dinamis ini, Pdt. Yerry mengingatkan bahwa ruang digital sebenarnya tidak pernah menutup pintu bagi Injil. Suku netizen memberi ruang yang sangat luas, meskipun sering kali ditumpangi oleh algoritma industri serta arus perdebatan yang tak jarang membingungkan.
Maka, di tengah pusaran perdebatan jempol dan narasi simpang siur tersebut, LAI dipanggil untuk berdiri kokoh sebagai digital platform yang menghadirkan Kristus yang asli dan sejati—firman Allah yang mengedepankan kasih karunia dan kebenaran, tanpa harus menjatuhkan orang lain.
Bulan Doa Alkitab 2026 menjadi momen bagi LAI dan para mitranya untuk mempertegas komitmennya: memastikan bahwa Firman Allah tidak pernah berhenti disuarakan dan diteruskan kepada semua orang tanpa memandang latar belakang. Termasuk di dalamnya mereka yang berkebutuhan khusus yang memerlukan Alkitab dalam media dan bahasa yang khusus. Untuk perayaan Bulan Doa Alkitab 2026 ini LAI mengajak mitra-mitranya gereja di seluruh Indonesia untuk mendukung upaya Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Isyarat.
Harapannya tentu saja, agar nantinya teman-teman tuli juga memperoleh kemudahan akses kepada Kitab Suci dalam bahasa dan media yang dapat mereka mengerti dan dekat di hati.
Terima kasih untuk dukungan para mitra pelayanan LAI yang telah setiap pelayanan Kabar Baik ini melalui doa, tenaga, pewartaan dan dana. Semopga Sabda Ilahi akan terus hadir, diam di antara kita, dan mengubah peradaban manusia menuju hormat dan kemuliaan-Nya.
























