Ada sebuah pendapat umum yang mengatakan bahwa dalam setiap percakapan, yang paling menentukan bukanlah apa yang kita katakan, melainkan bagaimana dan kapan kita mengatakannya. Kata-kata yang benar sekalipun bisa melukai jika disampaikan dengan cara yang salah atau pada waktu yang tidak tepat. Sebaliknya, kalimat sederhana dapat membawa penghiburan yang mendalam ketika diucapkan dengan empati dan kepekaan. Inilah sebabnya komunikasi bukan sekadar keterampilan berbicara, tetapi seni memahami hati, baik hati sendiri maupun hati orang lain.
Amsal 15:23 menyatakan, “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan pada waktu yang tepat.” Ayat ini menegaskan bahwa kata-kata yang bijak adalah kata-kata yang tepat. Bukan hanya benar isinya, tetapi juga tepat cara dan waktunya. Dalam konteks Amsal ini, dapat dipahami bahwa yang dimaksud adalah nasihat yang disampaikan dengan kebijaksanaan. Ketika kata-kata itu diterima dan efektif, orang yang mengucapkannya pun mengalami sukacita, karena ia berhasil membuahkan komunikasi yang membangun, bukan merusak.
Pada Amsal sebelumnya juga telah ditegaskan bahwa mulut (kata-kata) orang benar menjadi sumber kehidupan (bdk. Amsal 10:11) dan bahwa jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman (bdk. Amsal 15:1). Ini menunjukkan bahwa kata-kata adalah medium pengetahuan dan kebenaran. Orang benar bukan hanya berkata benar, tetapi menjadikan ucapannya sarana disiplin, hikmat, dan kehidupan. Sebaliknya, kata-kata yang diucapkan tanpa kendali dapat membangkitkan amarah dan memecahkan keharmonisan, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.
Sahabat Alkitab, komunikasi yang bijak lahir dari kesadaran diri dan pengendalian emosi. Orang yang mampu menunda respons, mendengarkan dengan empati, dan memilih kata-kata dengan hati-hati cenderung memiliki relasi yang lebih sehat dan stabil. Mereka tidak berbicara untuk melampiaskan perasaan, tetapi untuk membangun pengertian. Maka, marilah menjadikan komunikasi sebagai pelayanan. Belajarlah berhenti sejenak sebelum berbicara. Mintalah hikmat Tuhan agar setiap perkataan kita menjadi saluran kasih-Nya. Sebab perkataan yang disampaikan tepat pada waktunya bukan hanya mendatangkan sukacita, tetapi juga menghadirkan kehidupan, bagi orang lain, dan juga bagi diri kita sendiri.




















