Dalam percakapan sehari-hari, seringkali kita mendengar cerita tentang seseorang yang dikemas dengan cara menarik. Awalnya kita hanya mendengar sepintas. Namun perlahan kita mulai memperhatikannya lebih sungguh. Cerita itu terasa “seru” dan memancing rasa ingin tahu. Tanpa disadari, apa yang semula hanya kata-kata di telinga mulai membentuk kesan di dalam hati. Sejak saat itu cara kita memandang orang tersebut perlahan berubah.
Penulis Amsal memahami dinamika batin ini. Ia menggambarkan perkataan pemfitnah seperti makanan yang lezat (ay. 22). Bukan hanya karena ada orang yang menyampaikannya, tetapi karena ada hati yang menikmatinya. Kata-kata itu tidak berhenti pada pendengaran; ia turun lebih dalam dan menetap di lubuk hati sebagai prasangka. Apalagi, kebanyakan orang memang memiliki kecenderungan lebih mudah tertarik pada hal-hal yang bernada negatif. Itulah sebabnya cerita buruk tentang orang lain sering terasa lebih menarik untuk didengar.
Pada saat yang sama, Amsal juga mengingatkan bahwa tidak semua kata yang terdengar manis berasal dari hati yang tulus (ay. 23-25). Penulis menggambarkannya seperti pecahan periuk yang disalut perak: tampak indah di luar, tetapi rapuh di dalam. Kata-kata yang lembut dapat menjadi penutup bagi hati yang menyimpan kebencian. Namun kebencian yang tersembunyi pada akhirnya akan terbuka juga (ay. 26). Bahkan orang yang menggali lubang bagi sesamanya dapat jatuh ke dalamnya sendiri (ay. 27).
Karena itu, hikmat mengajak kita untuk berhati-hati terhadap kata-kata, baik yang kita dengar maupun yang kita ucapkan. Apa yang kita biarkan masuk ke dalam hati akan membentuk cara kita memandang sesama. Marilah kita memelihara hati yang jernih dan perkataan yang tulus, sehingga apa yang turun dari kata ke dalam hati bukanlah prasangka, melainkan kebaikan yang menumbuhkan kehidupan.
























