Bagi kebanyakan orang, kekudusan itu hanya soal konsep untuk menjadi orang yang baik secara moral. Jadi Tuhan itu kudus karena Dia secara moral. Namun hal diatas hanya sebagian saja dari konsep kekudusan. Pertama, kekudusan secara teologis selalu berkaitan dengan keberadaan Allah. Dia adalah sumber kekudusan itu. Daya kreatif yang menciptakan dunia. Menariknya kekudusan Allah tersebut justru menghadirkan batas tertentu pada ciptaan yang terbatas dan penuh kerapuhan serta ketidakkudusan atau kecemaran. Contohnya Matahari: Matahari adalah sumber kehidupan kita. Tapi kita tidak bisa menghampiri matahari secara langsung. Berdiri di luar jam 1 siang lama-lama saja kita tidak kuat. Apalagi menghampirinya secara langsung.
Demikianlah hadirat Allah yang kudus. Ia tidak dapat didekati oleh kita yang cemar. Maka solusinya adalah seseorang perlu menjadi SUCI atau KUDUS. Suci secara moral dan suci secara ritual. Suci secara ritual ini yang sangat ditekankan oleh bangsa Israel. Seseorang harus memisahkan diri dari segala sesuatu yang menyimbolkan dan mendatangkan KEMATIAN. Seperti menyentuh orang dengan penyakit kulit, bangkai, cairan-cairan yang keluar dari tubuh. Hal tersebut membuat kita cemar secara ritual, tetapi bukan berarti berdosa. Menjadi salah saat dalam kondisi cemar itu kita melenggang ke hadirat Allah yang kudus. Dalam taurat maka diatur bagaimana caranya kita menyucikan diri sebelum masuk ke bait Allah.
Namun pemaknaan soal kekudusan ini berkembang. Sebagaimana yang terjadi pada Yesaya di bacaan kita kali ini. Yesaya berada di hadirat Allah. Ia paham betul bahwa seharusnya Ia tidak berada disana karena itu tadi Yesaya yang mungkin saja cemar tidak mungkin mendekati Allah yang kudus. Kemudian muncullah Serafim, makhluk surgawi, yang terbang mendekati Yesaya dengan sebuah bara panas dan menyentuhkannya ke mulut Yesaya. Lalu berkata, "Kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." Entah bagaimana bara dari Allah itu menguduskan Yesaya dan menghilangkan kecemarannya. Kemurnian/kekudusan Allah dipindahkan kepada Yesaya. Dengan demikian menjadi mungkin bagi Yesaya untuk melakukan tugas perutusan dari Allah. Ia dimampukan untuk melayani karena inisiatif Allah yang telah memurnikan, menguduskan dan memampukannya.
Sahabat Alkitab, berbahagialah jika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melayani-Nya. Sesungguhnya itu bukan karena segala kehebatan kita, melainkan Allah sendiri yang memampukan kita. Kesadaran tersebut menghadirkan sikap yang baru dalam melayani-Nya, baik itu melalui gereja-Nya atau aktivitas kehidupan sehari-hari. Kita dapat menjadi rendah hati dan menggantungkan hidup secara penuh kepada penyertaan-Nya. Itulah inti dari pelayanan dan hidup yang dipersembahkan kepada-Nya.
























