Ketika Kesetiaan Menjadi Harapan

Renungan Harian | 22 Sep 2026

Ketika Kesetiaan Menjadi Harapan

Belakangan ini, berita tentang karhutla, gempa susulan di Nusa Tenggara Timur, aktivitas Gunung Anak Krakatau, hingga anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan di sekolah datang silih berganti di layar gawai. Namun, bagi mereka yang mengalaminya, semua itu bukan sekadar berita, melainkan kenyataan yang harus dijalani: rumah yang rusak, pekerjaan dan penghasilan yang terganggu, anak yang harus dilindungi, serta hari esok yang sulit diperkirakan. Beban itu pun tidak dirasakan secara sama. Mereka yang memiliki sumber daya lebih sedikit seringkali memiliki ruang yang lebih sempit untuk menghadapi krisis. Ketika hidup terus-menerus menuntut kita untuk bertahan, dari mana harapan dapat bertumbuh?

 

Pertanyaan itu juga terasa dalam Yeremia 32:26-44. Setelah Yeremia membeli tanah sebagai tanda bahwa masih ada masa depan, Tuhan menjawabnya dengan terlebih dahulu menegaskan alasan kehancuran Yerusalem. Namun, kehancuran bukanlah akhir. Tuhan berjanji mengumpulkan kembali umat-Nya, menjadikan mereka umat-Nya, dan memberikan mereka “satu hati dan satu langkah hidup”. Ia bahkan berjanji untuk membuat mereka tumbuh kembali di negeri itu. Pemulihan, dengan demikian, bukan sekadar mengembalikan keadaan seperti semula, melainkan sebuah pembaruan hati dan cara hidup umat-Nya.

 

Pasal ini juga mengajak kita mengkritisi cara kita memahami pemulihan. Dalam kehidupan modern, kita sering diberi pesan bahwa selama seseorang cukup kuat, bekerja keras, dan berpikir positif, ia pasti dapat bangkit kembali. Cara berpikir seperti ini mudah mengabaikan kenyataan bahwa tidak semua orang memulai dari tempat yang sama. Ada orang yang memiliki tabungan, rumah yang aman, akses kesehatan, jaringan sosial, dan pekerjaan yang dapat menjadi penyangga ketika krisis datang. Ada pula yang hampir tidak memiliki ruang untuk jatuh. Karena itu, ketika seseorang mengalami kehilangan, kita tidak cukup hanya berkata, “Tetaplah kuat.” Pemulihan membutuhkan ruang, pertolongan, komunitas, dan kondisi yang memungkinkan seseorang kembali berdiri.

 

Sahabat Alkitab, mungkin hari ini kita belum melihat pemulihan itu. Masih ada hal-hal yang belum selesai, luka yang belum pulih, dan masa depan yang belum jelas. Namun, Yeremia mengingatkan bahwa kesetiaan Tuhan tidak berakhir ketika kehidupan mengalami kehancuran. Ia tetap bekerja, bahkan ketika kita belum dapat melihat hasilnya. Kesetiaan Tuhan menjadi harapan bukan karena Ia menjanjikan hidup tanpa krisis, melainkan karena di tengah krisis pun Ia tetap membuka jalan menuju kehidupan. Maka, ketika jalan di depan belum terlihat, kita dapat terus melangkah dengan percaya bahwa Tuhan tetap mengumpulkan, membentuk, dan menanam kembali kehidupan.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia