Ada hal-hal yang baru kita sadari berharga setelah tidak lagi kita miliki. Suara orang tua yang setiap hari memanggil dari rumah, meja makan yang dahulu selalu terisi, suara anak-anak bermain di halaman, perjalanan pulang yang dulu terasa biasa, atau sekadar bangun pagi dan mendapati semua orang yang kita kasihi masih ada. Selama semuanya tersedia, kita jarang menyebutnya sebagai berkat. Kita menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan. Sampai suatu hari sesuatu berubah, dan kita menyadari bahwa yang kita rindukan ternyata bukan kehidupan yang luar biasa, melainkan kehidupan yang dulu terasa biasa.
Mungkin itulah yang menarik dari Yeremia 33:1-13. Firman Tuhan datang kepada Yeremia ketika Yerusalem masih berada dalam kepungan Babel dan kehancuran belum berakhir. Rumah-rumah sedang diruntuhkan, kota berada dalam keadaan genting, dan masa depan tampak tidak menjanjikan. Namun, di tengah keadaan itu, Tuhan berbicara tentang sesuatu yang tampaknya sederhana: kota akan kembali dihuni, rumah-rumah akan dibangun, suara sukacita akan terdengar, pengantin laki-laki dan perempuan akan kembali merayakan kehidupan, dan orang-orang akan kembali membawa korban syukur kepada Tuhan.
Pemulihan dalam teks ini tidak digambarkan melalui sesuatu yang spektakuler. Ia justru tampak dalam kembalinya kehidupan sehari-hari. Kota yang sebelumnya dipenuhi kehancuran akan kembali dipenuhi suara manusia. Rumah kembali menjadi tempat tinggal. Ladang kembali dikerjakan. Gembala kembali menggembalakan ternaknya. Kehidupan yang pernah terhenti perlahan menemukan iramanya kembali. Bagi mereka yang mengalami kehancuran, dapat kembali menjalani kehidupan yang biasa bukanlah sesuatu yang sederhana. Justru di dalamnya terdapat tanda bahwa kehidupan telah diberikan kembali.
Sahabat Alkitab, barangkali kita terlalu terbiasa mengejar sesuatu yang lebih besar hingga lupa menghargai yang telah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kita menganggap kesehatan, pekerjaan, rumah, orang-orang yang menemani, bahkan kesempatan untuk menjalani satu hari mengingatkan bahwa bersyukur bukan berarti menganggap hidup baik-baik saja. Syukur adalah kemampuan mengenali kehidupan yang masih Tuhan berikan, bahkan ketika ada hal-hal yang belum pulih dan doa-doa yang belum terjawab. Maka, seandainya hari ini belum banyak yang berubah dalam hidup kita. Perhatikanlah, mungkin justru di dalam hal-hal yang tampak sederhana, seperti rumah untuk pulang, keberadaan orang yang kita kasihi, dan rutinitas yang masih bisa kita kerjakan, Tuhan sedang mengingatkan bahwa masih banyak yang layak kita syukuri.
























