Ketidakpastian adalah sesuatu yang membuat resah manusia. Bukankah hal tersebut tercermin melalui peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi dalam kehidupan kita. Mulai dari keresahan saat menunggu seseorang, menanti suatu kabar, atau hal lainnya. Maka secara naluriah manusia bertindak dan berlaku dengan mengarahkan dirinya untuk mengantisipasi ketidakpastian yang mungkin saja terjadi dalam kehidupannya.
Pada perikop yang kita baca saat ini bangsa Edom membangun perlindungan mereka di dalam celah-celah bukit batu. Letak geografis ibu kota mereka dikelilingi oleh tebing-tebing curam yang membuat pasukan musuh mustahil menembus masuk. Selain itu bangsa ini begitu bangga karena mereka memiliki orang-orang berkompeten pada bidangnya dan orang-orang bijaksana. Sekali lagi kita melihat pola yang serupa dari bangsa-bangsa yang kemudian dihukum oleh Allah. Amon juga demikian. Ia menjadi sombong dengan segala kekayaan miliknya. Kesombongan itu juga yang membuat mereka merampas kota-kota suku gad, salah satu suku Israel. Pada akhirnya Allah mendatangkan penghukuman atas kedua bangsa tersebut supaya mereka bertobat dan berbalik dari kesombongan yang telah mereka bangun selama ini.
Beberapa perikop sebelum pasal 49 seringkali juga mengungkapkan kejatuhan bangsa-bangsa karena kesombongan mereka. Sebuah pengingat yang sangat tegas bagi hidup keberimanan kita bahwa Allah tidak menyukai kesombongan karena dalam sikap tersebut terkandung rasa untuk tidak membutuhkan-Nya. Bertobatlah dan kembali kepada Tuhan dengan menyembahnya dalam kerendahan hati. Itulah yang menjadi panggilan hidup beriman kita.
























