Sebuah kenyataan dasariah bahwa seringkali kita merasa puas ketika melihat orang yang pernah menyakiti kita atau orang yang sombong akhirnya jatuh. Bahkan bahasa Jerman punya istilah tersendiri untuk menggambarkan rasa senang yang diam-diam muncul saat melihat orang lain menderita.
Itulah persisnya yang menjadi dosa serta kesalahan Moab. Saat Yehuda, negara tetangga sekaligus kerabat mereka, mengalami kejatuhan dan krisis, orang Moab tidak menghiraukan mereka bahkan cenderung merasa senang di atas penderitaan orang lain. Perikop kita menggambarkan Moab seperti berdiri di pinggir jalan dan tertawa. Ayat 27 mendeskripsikan situasi kebatinan Moab dengan baik, “Bukankah Israel tadinya menjadi tertawaan bagimu?” Moab mengira kejatuhan Israel adalah bukti kehebatan mereka sendiri. Karena kesombongan dan ejekan inilah, Tuhan berfirman bahwa Moab juga akan dihancurkan; mereka akan menjadi seperti pemabuk yang jatuh dalam muntahnya sendiri (ay.26).
Jika kita membaca kisah ini hanya pada titik awal saja, mungkin kita akan segera mengambil kesimpulan bahwa kisah tersebut hanyalah kisah balas dendam belaka. Namun rupanya ada hal lain yang ditunjukkan oleh Yeremia dalam nubuat yang disampaikan. Nabi Yeremia-yang berbicara mewakili hati Tuhan- tiba-tiba melantunkan lagu duka. “Oleh sebab itu aku meratap karena Moab..hatiku merintih…” Kontrasnya sungguh luar biasa. Saat Israel jatuh, Moab tertawa. Saat Moab jatuh, Tuhan “menangis”.
Tuhan yang Mahakuasa adalah hakim yang adil, Ia tidak bisa membiarkan kesombongan dan dosa tak terhukum. Allah yang penuh keadilan itu harus bertindak membongkar kejahatan demi menegakkan keadilan. Namun dalam didikan yang diberikan-Nya itu hati Allah tetap tercabik-cabik. Sekalipun manusia memberontak dengan begitu arogan, tetapi Allah bersedih melihat ciptaan-Nya binasa. Bahkan di ayat 47, Tuhan masih menyisakan janji pemulihan bagi Moab di akhir zaman.
Sahabat Alkitab, marilah kita membangun relasi serta persaudaraan yang betul-betul lahir dari kasih yang tulus ikhlas. Jangan-jangan selama ini mentalitas kita seperti bangsa Moab yang diam-diam bersukacita, menghakimi, dan menertawakan orang lain yang tengah terpuruk dan terjatuh. Semoga kita dapat memiliki keadilan dan belas kasihan seperti Tuhan dalam merangkul serta mengasihi umat-Nya. Marilah memohon kepada Tuhan agar Ia melembutkan hati kita sehingga dapat dengan sungguh menyatakan kasih kepada sesama.
























