Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan dosa di hadapan Allah. Namun tidak semuanya sadar dan menyatakan pertobatan kepada-Nya. Padahal jika setiap orang bersedia untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan, maka ia akan melihat teguran-teguran Allah yang membawanya kembali kepada Tuhan.
Yehezkiel 6 berisi nubuat yang keras yang dimulai dari kecaman terhadap gunung-gunung Israel. Di atas bukit-bukit dan di bawah pohon-pohon yang rimbun, umat membawa persembahan yang harum bagi berhala-berhala (ay. 13). Hati mereka seolah berzina dan menjauh dari Tuhan, sementara mata mereka selalu mengikuti berhala-berhala. Karena itu, Tuhan menyatakan bahwa tempat-tempat pemujaan itu akan dihancurkan, mezbah-mezbah menjadi sunyi sepi, dan buatan tangan mereka dilenyapkan (ay. 6).
Namun, di tengah penghakiman itu, Tuhan membiarkan sebagian orang tetap hidup. Di negeri pembuangan, mereka akan mengingat Tuhan “tatkala Aku menghancurkan hati mereka yang berzina itu” (ay. 9). Tuhan mematahkan keterikatan hati mereka pada berhala. Prosesnya menyakitkan. Mereka kehilangan tanah, Bait Suci, dan segala yang mereka banggakan. Tetapi justru di situ mereka mulai mengingat Tuhan. Mereka juga mulai melihat kejahatan mereka apa adanya, sampai merasa muak terhadapnya. Yang dulu tampak harum kini terlihat menjijikkan.
Firman pada saat ini menolong kita melihat bahwa Tuhan bahkan dapat memakai titik-titik terendah kehidupan kita untuk memulihkan arah hati serta ketaatan kita. Ketika sesuatu yang kita andalkan runtuh, entah pekerjaan, nama baik, atau rasa aman, kita diajak bertanya: kepada siapa sebenarnya hati kita selama ini melekat? Hati yang patah dan hancur, tidak dibiarkan remuk selamanya. Dalam kitab yang sama, Tuhan berjanji memberikan hati yang baru dan roh yang baru (Yehezkiel 36:26). Ia mematahkan hati yang berpaling supaya dapat menggantinya dengan hati yang setia. Marilah kita menyerahkan hati kita kepada-Nya, juga di saat-saat yang paling menyakitkan, sebab tangan Tuhan adalah tangan yang memulihkan.
























