Narasumber: Hortensius F. Mandaru, SSL
Editor: Vince Ellysabeth
Kemerdekaan merupakan kabar baik bagi mereka yang hidup dalam belenggu. Pengalaman Indonesia sebagai bangsa yang pernah berada di bawah penjajahan dan kemudian meraih kemerdekaan melalui perjuangan memberi gambaran bahwa kebebasan bukanlah sesuatu yang dapat dianggap remeh. Demikian pula kisah Israel dalam Alkitab memperlihatkan sebuah bangsa yang hidup dalam perbudakan di Mesir dan mengalami pembebasan oleh Allah. Namun, ketika berbicara mengenai kisah Eksodus, Alkitab tidak terutama menggunakan bahasa “kemerdekaan” sebagaimana yang lazim dalam dunia modern. Kosakata yang lebih dominan ialah membebaskan, melepaskan, dan membawa keluar dari Mesir.
Karena itu, perhatian terhadap narasi Eksodus menolong kita melihat bahwa kemerdekaan dalam perspektif biblis bukan sekadar perubahan status politik. Pembebasan adalah sebuah proses yang dikerjakan Allah untuk membawa umat keluar dari belenggu, membentuk mereka menjadi umat yang baru, dan mengajarkan bagaimana kebebasan itu harus dijalani. Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah seseorang telah dibebaskan, melainkan untuk apa ia dibebaskan dan bagaimana kebebasan itu diwujudkan dalam kehidupan bersama.
Allah, Sang Pelaku Utama Pembebasan
Dalam narasi Eksodus, Allah tampil sebagai protagonis utama. Sejak perjumpaan-Nya dengan Musa, Allah memperkenalkan diri sebagai Dia yang melihat kesengsaraan umat-Nya, mendengar teriakan mereka, mengetahui penderitaan mereka, dan turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir (Keluaran 3:7-8).
Gambaran ini menjadi penting apabila ditempatkan dalam konteks struktur sosial Mesir yang digambarkan secara piramida. Firaun berada di puncak, diikuti kelompok bangsawan dan masyarakat biasa, sementara para budak berada di lapisan paling bawah. Orang Israel yang diperbudak berada pada posisi paling rentan dalam tatanan tersebut. Struktur itu bukan hanya dianggap sebagai sistem sosial, tetapi juga memiliki legitimasi religius. Karena itu, ketika Allah membebaskan Israel, Ia bukan sekadar memindahkan sekelompok budak dari satu tempat ke tempat lain. Ia mengguncangkan sebuah tatanan yang dianggap kokoh dan bahkan “suci”, tetapi pada kenyataannya dibangun di atas penindasan.
Hal ini menjelaskan mengapa tulah-tulah dalam kisah Eksodus tidak semata-mata perlu dibaca sebagai hukuman. Dalam alur naratif Keluaran 1-15, tulah-tulah juga berfungsi sebagai proses pewahyuan: Firaun dan orang Mesir diperkenalkan kepada siapa Tuhan Israel sebenarnya. Pertanyaan “siapa Tuhan?” menjadi salah satu pertanyaan utama dalam narasi tersebut. Dengan demikian, kisah Eksodus sekaligus memperhadapkan dua bentuk kekuasaan: kekuasaan Firaun dan kekuasaan Allah. Kepada siapa Israel harus mengabdi menjadi persoalan yang menentukan identitas mereka.
Keluar dari Mesir: Memutus Masa Lalu
Allah tidak memilih untuk sekadar memperbaiki sistem Mesir atau mengganti penguasanya. Dalam narasi Eksodus, jalan pembebasan yang ditawarkan Allah adalah membawa Israel keluar. “Biarkanlah umat-Ku pergi” menjadi inti tuntutan Musa kepada Firaun. Pergi berarti memutus hubungan dengan kehidupan lama dan meninggalkan struktur perbudakan.
Namun, meninggalkan Mesir ternyata tidak mudah. Ironisnya, Israel yang telah dibebaskan justru berkali-kali merindukan kehidupan lama. Ketika melihat pasukan Mesir mengejar mereka, mereka bahkan berkata bahwa lebih baik bagi mereka bekerja sebagai budak di Mesir daripada mati di padang gurun (Keluar 14:11-12). Dalam perjalanan selanjutnya, rasa lapar, haus, dan ketidaknyamanan membuat mereka kembali mengingat Mesir sebagai tempat yang lebih aman dan lebih menjanjikan.
Di sinilah narasi Eksodus memperlihatkan bahwa pembebasan tidak hanya berarti mengeluarkan seseorang dari tempat penindasan. Belenggu dapat tetap tinggal dalam diri orang yang secara lahiriah telah dibebaskan. Israel harus dibebaskan bukan hanya dari Firaun, tetapi juga dari mentalitas budak yang membuat mereka takut terhadap kebebasan. Karena itu, penyeberangan Laut Teberau menjadi simbol penting. Dalam kegelapan malam, Israel meninggalkan masa lalu; ketika keluar dari laut menjelang pagi, mereka memasuki sebuah kehidupan yang baru.
Dengan demikian, pembebasan merupakan perubahan identitas. Israel masuk sebagai budak yang takut dan keluar sebagai umat yang percaya kepada Tuhan. Mereka bergerak dari ketakutan terhadap Firaun menuju sikap takut akan Tuhan. Mereka tidak lagi hidup di bawah kuasa tuan lama, melainkan belajar mempercayakan hidup kepada Allah yang membebaskan mereka.
Padang Gurun: Tempat Belajar Kebebasan dan Solidaritas
Jika penyeberangan Laut Teberau menggambarkan keterputusan dari masa lalu, pengalaman di padang gurun menjadi tahap berikutnya dalam pembentukan umat yang baru. Gurun adalah ruang tanpa struktur sosial Mesir. Di sana Israel tidak lagi hidup dalam masyarakat bertingkat yang membedakan tuan dan budak. Semua mengalami kelaparan, kehausan, kelelahan, dan ketergantungan yang sama kepada Allah.
Karena itu, gurun dapat disebut sebagai sekolah iman sekaligus sekolah solidaritas. Israel belajar bahwa kehidupan mereka bergantung pada penyelenggaraan Allah. Manna, misalnya, tidak dimaksudkan untuk ditimbun dan dikuasai oleh segelintir orang. Setiap keluarga menerima kebutuhan mereka. Dengan demikian, pengalaman gurun membentuk masyarakat yang senasib dan sepenanggungan.
Pada saat yang sama, Israel harus belajar membuang bukan hanya mentalitas budak, tetapi juga mentalitas Firaun. Jika mentalitas budak ditandai oleh ketakutan dan ketergantungan kepada penguasa, mentalitas Firaun ditandai oleh keinginan untuk menguasai, mendominasi, dan menindas orang lain. Kebebasan yang diberikan Allah tidak akan berarti apabila Israel yang dahulu menjadi korban kemudian menciptakan korban-korban baru.
Karena itu, kebebasan membutuhkan hukum. Taurat diberikan di padang gurun, bukan setelah Israel memiliki sebuah wilayah kekuasaan. Hal ini menegaskan bahwa hukum perjanjian bukan alat untuk mempertahankan kepentingan seorang penguasa atau kelompok pemilik tanah. Hukum diberikan untuk membentuk kehidupan bersama berdasarkan kehendak Allah. Yang menarik, pembebasan mendahului hukum: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” Dengan kata lain, rahmat mendahului tuntutan, kasih mendahului hukum. Allah terlebih dahulu membebaskan, kemudian memberikan hukum untuk memelihara dan menjamin kebebasan itu.
Umat yang Dibebaskan untuk Membebaskan
Pembebasan tidak berhenti ketika Israel tiba di tanah perjanjian. Justru setelah menetap, mereka terus diingatkan bahwa mereka pernah menjadi budak yang dibebaskan oleh Tuhan. Ingatan tersebut menjadi dasar etis bagi kehidupan mereka: umat yang telah dibebaskan dipanggil untuk membebaskan.
Prinsip ini terlihat jelas dalam hukum Tahun Sabat dan Tahun Yobel. Setiap tujuh tahun tanah harus beristirahat. Tanah tidak boleh terus-menerus dieksploitasi, melainkan diberi kesempatan untuk “beristirahat”. Apa yang tumbuh secara spontan dapat dinikmati oleh semua orang, termasuk orang miskin, orang asing, budak, bahkan ternak. Dengan demikian, kebebasan tidak hanya menyangkut manusia, tetapi juga berkaitan dengan cara manusia memperlakukan ciptaan.
Tahun Sabat juga berkaitan dengan pembebasan mereka yang terjerat utang dan perbudakan. Orang yang karena kemiskinan harus menjadi budak tidak boleh dibiarkan selamanya berada dalam kondisi tersebut. Bahkan menurut tradisi Ulangan, orang yang dibebaskan tidak boleh dilepas dengan tangan kosong, tetapi harus dibekali dengan kebutuhan dasar agar mampu melanjutkan hidupnya.
Prinsip yang sama mencapai bentuk lebih luas dalam Tahun Yobel. Setelah tujuh kali tujuh tahun, tanah yang pernah dijual atau hilang karena utang harus dikembalikan kepada pemilik asalnya. Dasarnya adalah keyakinan bahwa tanah bukan milik mutlak manusia. Tanah adalah milik Tuhan dan diberikan kepada umat untuk digunakan. Karena itu, tidak seorang pun berhak menguasai tanah sedemikian rupa hingga merampas masa depan keluarga lain.
Di balik hukum-hukum tersebut terdapat perhatian terhadap dua pilar kehidupan masyarakat Israel, yakni keluarga dan tanah. Keduanya bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi berkaitan dengan identitas, sejarah, keberlangsungan generasi, dan kehidupan bersama. Karena itu, Tahun Sabat dan Tahun Yobel mengandung dimensi sosial, ekonomi, kemanusiaan, dan ekologis sekaligus. Tanah dibebaskan dari eksploitasi, keluarga dibebaskan dari kehilangan hak hidup, dan masyarakat diingatkan kembali bahwa tidak seorang pun boleh menumpuk kuasa tanpa batas.
Kemerdekaan yang Terus Diperbarui
Kisah Eksodus akhirnya mengajak kita memahami kemerdekaan secara lebih mendalam. Kemerdekaan bukan hanya sebuah peristiwa masa lalu, melainkan panggilan yang harus terus dihidupi. Israel perlu terus “di-restart” agar tidak melupakan identitasnya sebagai umat yang dibebaskan. Tahun Sabat dan Tahun Yobel menjadi bentuk konkret dari ingatan tersebut: masyarakat terus-menerus diarahkan kembali kepada prinsip bahwa kehidupan tidak boleh dibangun di atas penindasan dan eksploitasi.
Dalam konteks kehidupan masa kini, pengalaman Israel menjadi cermin bagi umat beriman. Sebuah bangsa dapat secara politik telah merdeka, tetapi masyarakatnya masih dapat mengalami berbagai bentuk belenggu: ketakutan, ketidakadilan, kemiskinan, eksploitasi, ketimpangan, atau dominasi satu kelompok atas kelompok lainnya. Demikian pula seseorang dapat merasa bebas secara lahiriah, tetapi tetap hidup dalam “mentalitas budak”—takut kehilangan kenyamanan, takut mengambil risiko kebebasan, atau bahkan tergoda menjadi “Firaun” bagi sesamanya.
Karena itu, pertanyaan iman bukan hanya, “Apakah kita sudah merdeka?” Pertanyaan yang lebih mendasar ialah, “Apakah kita sungguh-sungguh hidup sebagai orang yang telah dibebaskan?” dan “Siapa yang ikut mengalami kebebasan melalui kehidupan kita?” Kisah Eksodus menegaskan bahwa Allah adalah Allah yang mendengar jeritan mereka yang tertindas dan bertindak membebaskan. Karena itu, umat yang telah menerima pembebasan tersebut tidak dipanggil untuk menikmati kebebasan secara individualistis. Mereka dipanggil untuk menjadi bagian dari karya pembebasan bagi sesama.
Pada akhirnya, kemerdekaan dalam perspektif iman bukan sekadar kebebasan dari sesuatu, tetapi kebebasan untuk membangun kehidupan yang adil, solider, dan berkenan kepada Allah. Israel dibebaskan dari Mesir agar menjadi umat Allah; demikian pula orang percaya menerima kebebasan agar hidupnya menjadi ruang bagi kebebasan orang lain. Inilah makna terdalam Eksodus: Allah membebaskan umat-Nya, dan umat yang telah dibebaskan itu dipanggil untuk terus menghadirkan pembebasan di tengah dunia.
Artikel ini disadur dari Seminar Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI: https://www.youtube.com/live/wkB9h5zxZk4?si=arSl_K2MzoJX5rRW
























