60 Tahun Percetakan LAI:”Kamu Harus Memberi Mereka Makan!”

Berita | 13 Feb 2026

60 Tahun Percetakan LAI:”Kamu Harus Memberi Mereka Makan!”


Februari 1966 datang dengan langit Jakarta yang kelabu dan hati rakyat yang diliputi kecemasan. Jalan-jalan ibu kota dipenuhi teriakan mahasiswa, poster-poster tuntutan, dan derap sepatu tentara yang tak pernah benar-benar berhenti. Dari Salemba hingga Istana Merdeka, dari Bogor hingga kota-kota satelit di sekitarnya, udara terasa berat oleh suasana ketidakpastian. Enam bulan pasca G30S, bangsa ini masih terguncang—antara harapan akan perubahan dan ketakutan akan kekacauan. Di sudut-sudut pasar, di ruang kelas, di rumah-rumah sederhana, orang-orang berbisik tentang harga yang melonjak, pemimpin yang goyah, dan masa depan yang kabur. Inilah masa ketika sejarah Indonesia sedang ditulis dengan suara demonstrasi, air mata, dan keberanian.

 

Rabu pagi 9 Febuari, menjelang pukul sepuluh, dalam sebuah helikopter militer terbang rendah di langit Bogor. Tak lama kemudian helikopter menukik turun dan mendarat di halaman luas sebuah bangunan baru seluas 5.124 meter persegi di Desa Ciluar, Kecamatan Kedunghalang, Kabupaten Bogor, sejarak hampir 50 km dari pusat kota Jakarta. Beberapa sosok keluar dari pesawat, salah satunya sosok terkenal dan dihormati, Wakil Perdana Menteri Johanes Leimena. Kali ini Leimena datang bukan untuk urusan politik atau pemerintahan. Beliau hadir untuk meresmikan Unit Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), percetakan khusus Alkitab pertama milik Lembaga Alkitab nasional.

 

Gagasan untuk memiliki dan mendirikan Unit Percetakan khusus Alkitab sudah dipikirkan oleh Sekretaris Umum LAI pertama, Giok Pwee Khouw, sejak awal 1959. Dari era penjajahan Belanda hingga masa awal kemerdekaan, penyediaan Alkitab dan bagian-bagiannya untuk memenuhi kebutuhan gereja dan masyarakat Kristen tidak selalu mudah. Pencetakan Alkitab pada masa itu dilakukan di luar negeri, antara lain di Inggris, oleh Lembaga Alkitab Inggris (BFBS) dan di Negeri Belanda, melalui Lembaga Alkitab Belanda (NBG). Penyediaan Alkitab dengan cara impor tersebut sering mengalami hambatan dalam pengirimannya ke Indonesia. Saat terjadi ketegangan dalam hubungan antara Pemerintah Belanda dan bekas daerah jajahannya, pengiriman Alkitab pun tidak berjalan lancar dan persediaan pun langka. Begitu pula, ketika timbul Perang Dunia II, pengiriman Alkitab, baik dari Inggris maupun Belanda, mengalami kelambatan. Bahkan, hingga masa LAI berdiri pada 9 Februari 1954, penyediaan Alkitab di dalam negeri masih sulit dipastikan, akibat ketegangan dalam hubungan Indonesia-Belanda. Padahal kebutuhan umat akan Alkitab dan bacaan-bacaan rohani semakin meningkat.

 

Pada 1962, pemerintah mengeluarkan larangan impor untuk buku berbahasa Indonesia. Presiden Soekarno menginginkan semua buku pelajaran dan buku-buku agama yang berbahasa Indonesia harus dicetak di dalam negeri. Presiden dalam pidatonya mencanangkan perlunya Indonesia berdiri di atas kaki sendiri (berdikari). Artinya, kalau bisa, semua barang harus diproduksi oleh bangsa sendiri, jangan sampai diproduksi atau didatangkan dari luar negeri.

 

Selain larangan impor oleh pemerintah, faktor lain yang mendorong pengadaan percetakan adalah untuk mewujudkan visi Lembaga Alkitab Indonesia, yakni menghasilkan Alkitab dengan harga yag terjangkau. Selain itu, pencetakan Alkitab memerlukan jenis kertas yang khusus (bible paper). Sementara percetakan-percetakan komersial yang ada di Indonesia pada masa itu belum bisa mencetak Alkitab dengan kertas khusus. Karena kesulitan mencari percetakan di dalam negeri yang mampu mencetak Alkitab, pemerintah memberikan dispensasi kepada LAI hingga 31 Desember 1963.

 

Atas arahan Ketua Umum LAI, Prof. Dr. Sutan Gunung Mulia, dalam rapat badan pengurus LAI 10 Desember 1963, rencana kerja pembangunan Percetakan LAI segera dikerjakan dan Satuan Tugas Pembangunan Percetakan segera dibentuk. Pembangunan Percetakan LAI dimulai pada awal 1964 dan selesai dua tahun kemudian. Dana pembangunannya diperoleh dari sumbangan umat kristiani Indonesia, bantuan Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Indonesia (United Bible Societies/UBS) dan uang hasil penjualan kantor lama LAI di Jalan Teuku Umar No. 34, Jakarta (sebelum pindah ke Jl. Salemba Raya No. 12, Jakarta).

 

Dalam ibadah persemian Gedung Percetakan LAI, Wakil Perdana Menteri (Waperdam) Republik Indonesia, Dr. J Leimena hadir memberikan sambutan utama peresmian mewakili Presidium Kabinet Dwikora. Dari unsur Badan Pengurus LAI memberikan sambutan adalah Ketua Umum LAI, Prof. Dr. Sutan Gunung Mulia.  Sementara pengguntingan pitanya dilakukan Nyonya Hartini Soekarno, yang berangkat dari kediamannya di Istana Bogor.

 

Hadir pada peresmian percetakan tersebut, antara lain Sekretaris Jenderal UBS, Dr. Oliver Beguin dan Sekretaris Jenderal Lembaga Alkitab Inggris (BFBS) Canon HM Arrowsmith. Hadir pula J.J. Kijne, Sekretaris Penerjemah Lembaga Alkitab Belanda (NBG) dan Sekretaris Jenderal Lembaga Alkitab India, Pendeta Dr A.E. Inbanathan, yang kebetulan sedang berada di Indonesia dalam kaitan dengan kegiatan penerjemahan Alkitab di Indonesia.

 

Hampir 30 tahun kemudian, tepatnya pada 4 Oktober 1995 gedung percetakan LAI yang baru di desa Nanggewer, Cibinong, Kabupaten Bogor selesai dibangun. Peresmian dilakukan oleh Menteri Agama, dr. Tarmizi Taher. Selain keluarga besar LAI, hadir dalam peresmian percetakan LAI yang baru: para aparat Muspida Provinsi Jawa Barat, Muspida Provinsi DKI Jakarta, Muspida Kabupaten Bogor, Pimpinan-pimpinan Gereja baik aras nasional maupun lokal, juga Panitia Aksi Sabda.

 

Upaya pengembangan percetakan LAI sudah dirintis sejak tahun 1990 berdasarkan hasil laporan Tim Studi Kelayakan. Rencana pembangunan ini didukung penuh berbagai pihak, antara lain kalangan pengusaha, eksekutif dan profesional yang kemudian membentuk Panitia Aksi Sabda. Tujuan kepanitiaan ini adalah melakukan upaya-upaya konkret dalam rangka memenuhi panggilan Sabda, yaitu menggalang dana dari umat kristiani di Indonesia untuk mendirikan percetakan Alkitab yang baru. Dengan demikian percetakan yang baru di Nanggewer tersebut 100 persen swadaya dalam negeri.

 

Dengan kehadiran percetakan yang baru ini diharapkan LAI dapat memenuhi harapan gereja dan umat Kristen akan Alkitab. Dalam sambutannya atas pendirian percetakan LAI, Ketua Umum LAI pada masa itu, Pdt. Prof. Dr. P.D. Latuihamallo menyatakan masyarakat Indonesia berubah cepat dari masyarakat agraris ke masyarakat modern. Perubahan cepat ini mempengaruhi mentalitas dan kerohanian manusia pada umumnya. Situasi ini menjadi tantangan bagi LAI  untuk menyediakan Alkitab dan bagian-bagiannya dalam berbagai perwajahan sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan.

 

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Pdt. Prof. Dr. Soelarso Sopater menyatakan, kehadiran gedung percetakan LAI yang baru akan memungkinkan LAI menunaikan tugas-tugasnya dengan lebih baik dalam menyediakan Alkitab baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Beliau menambahkan, kehadiran LAI dan terbitan-terbitannya juga vital dalam peran mendukung pendidikan masyarakat. Beliau menunjuk data yang menyebut banyak kelompok-kelompok masyarakat yang karena tidak tersedianya bahan-bahan bacaan yang cukup mereka kembali buta huruf. Tersedianya Alkitab maupun bacaan-bacaan rohani akan memampukan masyarakat melek huruf dan memotivasi mereka menimba isi Alkitab dengan lebih mendalam.

 

Tantangan zaman kita adalah manusia-manusia yang lapar. Bukan hanya perut yang ingin dikenyangkan, namun juga “hati” yang rindu untuk dilayani. Tatkala murid-murid datang kepada Tuhan Yesus  tentang orang banyak yang lapar, perintah-Nya jelas,”Kamu harus memberi mereka makan!” (Markus 6:37). Dunia saat ini rindu akan kebenaran. Berharap akan Kabar Baik. Menjadi tugas kita bersama untuk bergotong-royong memberi mereka “makan”!

 

Dirgahayu Percetakan LAI, dirgahayu Lembaga Alkitab Indonesia. Semoga Tuhan memberkati dan menolong pelayanan LAI dan mitra-mitranya dalam mewujudkan firman Allah hadir untuk semua generasi.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia