Jumat lalu, 2 Oktober 2026, Lembaga Alkitab Indonesia, yang tergabung dalam Persekutuan Literasi Kristen Indonesia (PLKI)—bersama Bina Kasih menyelenggarakan talkshow yang membahas tantangan pengasuhan (parenting) dan paparan pornografi di era digital. Kegiatan ini sebenarnya masih menjadi bagian dari Parenting Journey, yang merupakan rangkaian sosialisasi Alkitab Parenting Terjemahan Baru 2 (TB 2).
Acara kali ini berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), bersamaan dengan digelarnya Indonesia International Book Fair (IIBF). Sejak persiapan dimulai, area JCC sudah dipenuhi kalangan pencinta buku dan literasi. Walau tempatnya ramai, suasana acara tetap berlangsung tenang. Diskusinya pun terasa hidup karena audiens aktif mengajukan pertanyaan.
Dalam talkshow ini, dua narasumber, Pdt. Anwar Tjen, Ph.D., bersama Pdt. Christofer Tapiheru, membawa perspektif yang berbeda. Alhasil, topik berkembang dari sekadar pengawasan anak menjadi persoalan bagaimana orang tua membangun kepercayaan dan menjadi tempat yang aman bagi anak. Dipimpin oleh host dari Bina Kasih, seluruh rangkaian acara mengalir dengan baik.
Kegiatan yang berlangsung di Assembly Hall & Lower Level, Jakarta Convention Center (JCC Senayan), Jakarta ini dihadiri oleh kalangan orang tua dan remaja. Salah satu pembahasan mendalamnya adalah tentang bagaimana orang tua bersikap kepada anak di tengah persoalan yang mereka hadapi di era digital. Beberapa pertanyaan yang sering muncul antara lain:
- Sejauh mana orang tua perlu memantau aktivitas anak?
- Apakah orang tua perlu memasang CCTV atau melakukan pengawasan terus-menerus?
- Bagaimana menentukan batasan dalam pengasuhan?
- Bagaimana menyikapi akses internet anak?
- Bagaimana mendidik anak agar mampu mengasihi dan menghargai dirinya sendiri?
- Bagaimana orang tua bersikap ketika anak terpapar pornografi dari pihak lain?
Baik Pak Anwar maupun Bung Christofer memiliki sudut pandang masing-masing dalam merespons pertanyaan-pertanyaan tersebut. Uniknya, walau berbicara dari perspektif berbeda, pemikiran mereka tetap berkesinambungan dan saling melengkapi.
Namun, hal yang menjadi sorotan utama bukanlah seberapa intelek para narasumber ini, melainkan kemampuan empati mereka yang menjadi jembatan dengan para peserta. Salah satu dampaknya terasa ketika seorang audiens menceritakan kasus anak berusia 16 tahun yang mendapatkan paparan pornografi dari pengasuh yang sudah bekerja di keluarganya selama 16 tahun.
Pembahasan ini membuka mata bahwa perlindungan anak tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga lingkungan dan orang-orang yang berinteraksi langsung dengan anak. Berbagai upaya alternatif pun diusulkan, termasuk membangun nilai (value) anak sejak kecil agar menjadi fondasi, benteng, bahkan perisai bagi mereka.
Menurut Pak Anwar, tidak ada jawaban parenting yang serba instan, karena pengasuhan perlu dilakukan secara utuh dan berlandaskan nilai. Salah satu nilai penting yang perlu ditanamkan adalah bahwa anak merupakan ciptaan Tuhan yang berharga. Nilai diri anak tidak ditentukan oleh pencapaian atau penilaian orang lain; bahkan sebelum lahir, anak sudah memiliki nilai yang tak terhingga. Ia menambahkan, "Orang tua perlu menanamkan kepercayaan diri sekaligus mengajarkan bahwa setiap orang memiliki nilai yang sama dan perlu dihormati! Bahkan pengawasan tidak bisa menggantikan pembentukan nilai dalam diri anak!"
Sementara itu, Bung Christofer menyatakan bahwa orang tua tidak mungkin memonitor anak selama 24 jam. Karena itu, orang tua perlu menjadi "filter pertama" bagi anak dalam menghadapi berbagai informasi dan konten digital. Lebih dari itu, dalam menjalankan perannya, orang tua juga perlu memahami teknologi dan tidak bisa sepenuhnya 'gaptek' saat mendampingi anak.
Ketika anak terpapar pornografi, orang tua sebaiknya tidak menempatkan diri sebagai musuh atau pihak yang sekadar menghukum, melainkan menjadi sahabat dan tempat bersandar bagi anak untuk membicarakan persoalan tersebut beserta konteks yang menyertainya.
Pada akhirnya, pesan pengasuhan dalam konteks teknologi dan informasi bukan melulu soal ketatnya pengawasan orang tua terhadap anak, melainkan tentang membangun nilai (value) dan kepercayaan. Anak harus bisa memandang hubungannya dengan orang tua sebagai relasi yang tidak hanya sehat, tetapi juga menjadi tempat yang aman untuk berbicara saat persoalan berat menghantui pikirannya.























