Desa Lenggang, di Raren Batuah, Barito Timur malam itu begitu gelap, karena mati lampu. Di sebuah rumah tinggallah Ibu Arista, seorang wanita berusia hampir 60 tahun, bersama ibunya yang telah berusia 85 tahun dan kini terbaring sakit.
Di rumah itu, hanya mereka berdua yang tersisa. Tiga orang kakak dan tiga adiknya telah meninggal. Suaminya pun telah berpulang terlebih dulu. Dari empat anak yang pernah dilahirkannya, dua juga telah meninggal dunia. Orang-orang yang dahulu menjadi tempat mereka bersandar, satu demi satu pergi meninggalkannya. Meski demikian, Ibu Arista menjalani hidup dengan tabah.
“Saya harus kuat,”tuturnya. Kalimatnya terdengar sederhana, namun setelah mendengar kisah hidupnya, kalimat tersebut terasa begitu berat.
Suaminya meninggal pada 2018 karena serangan jantung. Pertemuan terakhir mereka begitu biasa: sang suami pamit untuk pergi memancing. Tak terduga, suaminya pingsan di tempat memancing. Sempat dibawa ke rumah sakit namun ternyata tidak tertolong. Tuhan memanggilnya pulang. Tak pernah terbayangkan, pagi itu menjadi perjumpaan terakhir mereka.
Sejak hari itu, hidupnya berubah. Ia harus menjadi orang tua tunggal bagi dua anak yang saat itu masih duduk di bangku SMP. Di saat yang sama, ia harus merawat ibunya yang semakin tua dan sakit-sakitan. Belum selesai rasa duka karena kehilangan suami, dalam tahun yang sama ia kembali kehilangan anggota keluarga terkasih—ibu mertua dan kakak iparnya.
Kesedihan datang bertubi-tubi. Tetapi hidup tidak memberinya kesempatan untuk mengeluh dan tenggelam dalam duka. Anak-anak harus makan. Sekolah harus terus berjalan. Ibunya harus dirawat. Maka Ibu Arista memilih untuk terus melangkah.
Ia pergi menyadap karet, sering kali berjalan kaki. Penghasilan dari karet menjadi tumpuan hidupnya. Ketika air sadapan cukup, ia bisa menjual hasil sadapan seminggu sekali. Ketika musim kering, hasilnya hanya bisa dijual sekitar dua kali sebulan.
Pekerjaan itu tidak selalu mudah. Tahun lalu ia pernah jatuh di kebun karet. Hingga kini lututnya masih sering mati rasa. Keadaan itu membuatnya kesulitan membawa hasil sadapan ke pengepul. Ia bahkan harus membayar orang lain untuk membawanya.
Pernah pula, ketika anaknya harus menjalani operasi sesar karena kejang saat hamil, Ibu Arista tidak punya cukup uang. Kebun karet pun terpaksa dijual untuk membiayai operasi.
“Hampir semua perjuangan hidup sudah saya alami, hanya tinggal mati saja yang belum saya rasakan,”katanya.
Delapan tahun terakhir menjadi tahun-tahun penantian yang panjang secara rohani.
Dulu, Ibu Arista rajin membaca Alkitab. Ia bahkan mengaku pernah menghafal banyak ayat. Namun setelah suaminya meninggal, Alkitab satu-satunya yang ia miliki ikut dimasukkan ke dalam peti mati sang suami—mengikuti tradisi setempat. Sejak saat itu, ia tidak lagi memiliki Alkitab untuk dibaca.
Meskipun tidak memiliki Alkitab lagi, ia tekun berdoa. Setiap malam ia tidak pernah putus memanjatkan doa. Doanya sederhana. Ia tidak meminta kekayaan. Ia hanya meminta kesehatan dan kekuatan untuk dirinya dan anak-anaknya. Ia meminta Tuhan membimbing dan melawat hidupnya.
Ia tetap pergi beribadah di gereja yang letaknya tepat di seberang rumah. Ia pun rajin mengikuti ibadah-ibadah keluarga dengan menumpang kendaraan warga jemaat. Tetapi ia mengakui, selama delapan tahun tanpa membaca Alkitab, ada sesuatu yang terasa berbeda.
“Rasanya tidak nyaman, hati saya rasanya kering,”tuturnya.
Ibu Arista tidak pernah berpikir untuk membeli Alkitab baru. Bukan karena tidak ingin memiliki Alkitab. Perjuangan hidup membuatnya harus memikirkan hal-hal yang jauh lebih mendesak: bagaimana anak-anaknya tetap hidup, bagaimana mereka bisa bersekolah, bagaimana ibunya yang renta dan sakit tetap terurus, dan bagaimana ia sendiri bisa terus bekerja.
Membeli Alkitab baginya belum menjadi prioritas. Bertahan hidup adalah prioritas utama. Namun, ternyata Tuhan tidak pernah berhenti memeliharanya. Ibu Arista berkali-kali mengalami masa ketika ia tidak bisa bekerja dan tidak memiliki uang. Tetapi selalu saja ada pertolongan yang datang.
“Kalau kita yakin dengan Tuhan, ada saja berkat Tuhan. Rezeki itu pasti ada karena Tuhan menolong.”
Sejak suaminya meninggal, ia belum pernah mengalami keadaan yang begitu parah sampai akhirnya tidak bisa bertahan. Maka ia percaya, bahwa Tuhan akan selalu menolongnya.
Setelah delapan tahun, doanya dijawab Tuhan. Sesuatu yang telah lama dirindukannya akhirnya kembali ke tangannya.
Beberapa hari lalu, ketika Tim LAI datang membawa Alkitab hasil dukungan para Sahabat Alkitab, pemberian itu bukan sekadar sebuah buku bagi Ibu Arista. Alkitab itu seperti membuka kembali sebuah pintu yang selama bertahun-tahun tertutup.
Pintu menuju firman Allah yang dahulu begitu akrab dengannya. Pintu menuju kerinduan yang selama ini ia simpan. Pintu menuju pengharapan.
Ada sukacita ketika ia menerima Alkitab itu. Kerinduan yang selama delapan tahun hanya bisa ia simpan dalam hati, akhirnya beroleh jawaban. Mulai sekarang, Ibu Arista bisa kembali membaca Alkitabnya sendiri.
Mungkin ia sudah lupa banyak ayat Alkitab yang dahulu dihafalnya. Kini, lembaran-lembaran itu kembali terbuka. Dan bersama setiap halaman yang ia baca, ada pengharapan baru bahwa ia tidak menjalani perjuangan hidup ini seorang diri.
Ia masih harus menyadap karet. Masih harus merawat ibunya yang terbaring sakit. Masih harus memikirkan anak-anak dan cucunya. Ia juga masih harus membayar cicilan pinjaman koperasi untuk memperbaiki rumah secara bertahap agar lebih nyaman ditinggali.
Hidup Bu Arista dan keluarganya memang tidak serta-merta menjadi mudah. Tetapi kini, di tengah perjuangan itu, ia memiliki kembali sesuatu yang selama delapan tahun dirindukannya: firman Tuhan yang bisa ia baca sendiri. Firman itu menjadi pelita dan penuntun langkah hidupnya.
Ibu Arista mungkin telah kehilangan suami, dua anak, enam saudara kandung, mertua, dan orang-orang terkasih lainnya. Pernah ia bertanya dalam hati: mungkinkah ia masih sanggup melanjutkan hidup, setelah kehilangan sebanyak itu?
Dalam segala pergumulan itu, ia tak pernah berhenti berdoa. Setiap malam ia menunduk dan bertelut. Ia meminta Tuhan memberikan kesehatan. Ia memohon Tuhan memberi kekuatan. Ia juga berharap Tuhan tidak berhenti menuntun langkahnya. Satu keyakinan selalu ia pegang erat: Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkannya.
Saat ditanya pesan apa yang ingin ia sampaikan kepada ibu-ibu lainnya yang masih memiliki anak-anak kecil, Ibu Arista tidak banyak berucap. Barangkali karena hidupnya sendiri telah mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada nasihat panjang.
“Percayalah kepada Tuhan. Tetaplah mengandalkan Tuhan,”tegasnya.
Itulah alasan yang memungkinkan Ibu Arista bangun setiap pagi dan melanjutkan perjuangan hidupnya. Bersama Alkitab yang kembali hadir di tangannya setelah delapan tahun, Ibu Arista teguh melangkah ke depan. Bukan karena hidupnya menjadi mudah. Tetapi karena ia percaya, dalam setiap langkah perjuangan, Tuhan selalu menyertainya. ‘’Tuhan selalu ada!” (evi larosa)
























