Secara sadar atau tidak, dunia digital telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Dunia digital membuat segala sesuatunya menjadi lebih cepat, mudah dan dekat. Peluang untuk mengembangkan ide, kreativitas dan pengetahuan juga sangat terbuka di era ini. Namun, bukan berarti tidak ada dampak negatif yang bisa saja mengancam kehidupan kita jika salah menggunakannya.
Masih dalam rangkaian kegiatan Pekan Alkitab yang berlangsung di Tentena, Sulawesi Utara, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam hal ini Departemen Pengembangan dan Pelayanan Digital kembali mengadakan Workshop Literasi Digital dengan tema “Becoming Christ-Fluencer to Tell His Tale”, bersama seorang Content Creator yang juga melayani dalam Digital Ministry di GKI Coyudan Solo, Reggy Leo. Reggy membagikan wawasannya mengenai bagaimana pentingnya membawa nilai-nilai yang bijak dalam bermedia sosial sehingga dapat memberikan manfaat yang baik. “Dunia digital tidak hanya terjadi di layar, tetapi harus berdampak pada kehidupan kita”, ujar Reggy.
Lebih lanjut, ia kemudian memperkenalkan empat pilar literasi digital yang dirangkum dalam istilah sederhana, C-A-B-E:
· Cakap: Kemampuan untuk memahami teknologi digital dengan bijaksana
· Aman: Menjaga privasi dan melindungi data pribadi agar terbebas dari ancaman dan tindakan yang merugikan
· Budaya: Nilai sopan santun harus dibawa ketika bermedia sosial
· Etika: Perilaku baik dan buruk yang menjadi dasar sebagai sebuah bentuk tanggung jawab ketika berinteraksi dengan orang lain dan atas setiap konten yang dibagikan.
Reggy juga mengajak para generasi muda ini untuk ‘berinkarnasi’ seperti halnya Kristus yang turun menjadi manusia untuk bertransformasi bagi dunia. Sebagai anak-anak Allah, kehadiran kita di dalam sosial media diharapkan bukan hanya pasif tetapi menghadirkan transformasi, berdampak dan membawa perubahan bagi dunia melalui konten-konten yang memberkati. Salah satunya dengan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI). Konten-konten menggunakan AI memang sedang sangat menjamur, namun diperlukan kehati-hatian menggunakan teknologi AI sebab AI dibangun dengan sebuah tujuan tertentu yang jika salah menggunakannya maka akan tersesat dalam halusinasi AI.
Menjawab keraguan ini, LAI membuat sebuah aplikasi berbasis AI bernama Alkitab Interaktif (ALIN). Segala sesuatu yang berhubungan dengan Alkitab dapat ditanyakan pada ALIN. Dengan memanfaatkan ALIN, para peserta yang sudah terbagi dalam kelompoknya masing-masing, ditantang untuk membuat sebuah video berdurasi satu menit. Ide script bisa dituangkan dalam ‘percakapan’ dengan ALIN yang kemudian diubah menjadi cerita yang menarik dalam bentuk video pendek.
Para peserta nampak sangat antusias dalam membuat video walaupun dalam waktu yang sangat terbatas. Di akhir sesi, diumumkan tiga video terbaik hasil pilihan juri, Reggy, juga Joseph dan Zegy (perwakilan Dep. Digital LAI) bagi masing-masing kelompok. Sampai jumpa pada Literasi Digital di kota selanjutnya! [zvp]
























