Keenam ayat sebagai bacaan hari ini merupakan prolog yang memberikan kejelasan kepada para pembaca seperti kita tentang alasan rangkaian doa Daniel. Pada ayat-ayat berikutnya kita akan melihat rentetan pengakuan dosa yang dilakukan oleh Daniel dan tujuan atau permintaannya kepada Tuhan Allah (bdk. Ayat 20, “Sementara aku berbicara dan berdoa dan mengaku dosaku dan dosa bangsaku, bangsa Israel, …”). Namun, pada bagian ini kita melihat bagaimana firman Tuhan begitu menyadarkan dan memengaruhi Daniel untuk membangun sikap penyesalan di hadapan Tuhan itu sendiri. Daniel menggunakan kesempatan untuk mengakses firman Tuhan, memberikan perhatian, dan mengarahkan hati untuk menerima suara Allah.
Sahabat Alkitab, pembukaan doa pengakuan dosa yang disampaikan Daniel kepada Allah berisikan beberapa konsep penting dalam keutuhan narasi Perjanjian Lama yang begitu erat hubungannya dengan tradisi kehidupan Israel kuno. Sejak awal Daniel kembali mengakui sekaligus menegaskan tentang peran Allah ketika ia berkata, “… Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang Perjanjian dan kasih setia…” Penyebutan sifat sebagai gelar dari Allah ‘yang maha besar dan dahsyat’ (Ibr. ă·ḏō·nāy hā·’êl hag·gā·ḏō·wl wə·han·nō·w·rā) dan ‘yang memegang janji dan kasih setia’ (Ibr. šō·mêr hab·bə·rîṯ wə·ha·ḥe·seḏ) bukanlah sesuatu yang klise, melainkan menjadi sebuah pengakuan iman dan pengharapan pada saat yang bersamaan.
Pembukaan pengakuan dosa Daniel ini pun menjadi perkataan dan tulisan yang berharga, secara khusus bagi orang-orang Israel yang ada dalam pembuangan kerajaan Babel. Keterpisahan yang mereka alami antara mereka dan tanah asal tempat mereka hidup menjadi sebuah pengalaman pahit yang menyadarkan mereka tentang peran Allah dalam kehidupannya sebagai sebuah bangsa. Bagi orang-orang Israel masa itu, yang sedang berada dalam pembuangan, kehadiran dan peran Allah sebagai yang memegang perjanjian keselamatan menjadi sesuatu yang sangat berharga serta sangat dibutuhkan. Tidak ada sosok lain yang dapat berperan sedemikian bagi bangsa Israel selain Allah itu sendiri. Pengakuan iman dan ungkapan pengharapan itu pun muncul dalam doa Daniel pasca pembacaan yang ia lakukan terhadap firman Tuhan.
Sahabat Alkitab. akses terhadap firman Tuhan selayaknya menjadi sesuatu yang istimewa dan tidak dapat dianggap remeh. Firman Tuhan yang secara khusus dapat kita temukan pertama-tama melalui Alkitab merupakan cara paling dasar bagi kita, manusia, untuk mendengarkan dan memaknai suara-Nya dalam hidup kita. Kesadaran akan keberdosaan maupun pengakuan akan peran Tuhan dalam kehidupan seseorang hanya dapat terjadi ketika ia memiliki ikatan yang personal dengan Tuhan dan firman Tuhan (Alkitab) menjadi akses yang membuka peluang itu terjadi. Kisah Daniel sudah menjadi teladang terkait hal tersebut, apakah anda siap untuk mengalaminya?
Salam Alkitab Untuk Semu