Betapa bahagianya kita jika seruan minta tolong yang kita panjatkan dengan sepenuh hati ternyata direspons oleh pihak lain. Akibatnya kita pun dapat melalui krisis tepat pada waktunya. Sekarang bayangkanlah jikalau pihak yang memberikan pertolongan tersebut adalah Tuhan sendiri. Namun jikalau direnungkan secara lebih mendalam bukankah seluruh yang ada dalam semesta adalah buatan dan rancangan-Nya semata, termasuk segala pertolongan atau bantuan yang ktia terima dari orang-orang lain.
Kali ini kita melihat ungkapan sang pemazmur saat merefleksikan pertolongan Allah yang terus terjadi dalam kehidupan umat-Nya. Secara khusus, kehidupan dan peristiwa yang terjadi pada Raja Daud lah yang menjadi dasar dari refleksi tersebut. Kisah mengenai Daud menjadi kisah yang jamak dikenal oleh bangsa Israel termasuk gumul juangnya memerintah Kerajaan Israel. Pada akhirnya semua tantangan dan pergumulan dapat dilalui hanya oleh karena penyertaan Tuhan semata. Oleh karena itu hanya kepada Tuhan saja seharusnya segala syukur dipanjatkan oleh umat beriman sepanjang masa.
Seperti Daud yang pernah mengalami segala pergumulan serta tantangan hidup bahkan hingga kewalahan dan merasa “sesak”. Bukankah kita pun pernah merasakan hal yang sama? Hidup terkadang menjadi begitu berat dan menyesakkan dan jalan pembebasan dari situasi tersebut adalah berasal dari Tuhan semata. Itulah kesaksian Daud pada ayat 7-8, apapun yang terjadi Tuhan menyediakan pembebasan bahkan dari antara para musuh dan kuasa yang menekan serta menghimpit kehidupan. Tuhan adalah Sang Penolong yang mengulurkan tangan-Nya serta menyelamatkan umat-Nya.
Maka marilah kita bersandar pada Tuhan semata dalam menghadapi beragam tantangan serta pergumulan yang terjadi. Semoga firman pada hari ini meneguhkan ktia semua. Apapun pergumulan pribadi maupun keluarga yang sedang kita hadapi sekarang, yakinlah Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia datang dengan segala kesungguhan hati untuk merengkuh dan merangkul kita dalam segala kerapuhan kita.
























