Peristiwa-peristiwa buruk nan kejam seringkali tidak hanya menimpa individu tetapi juga terjadi secara masif pada banyak orang dalam suatu konteks dan situasi yang khas. Dampak dari situasi tersebut sangatlah mendalam bahkan bertahan dari generasi ke generasi. Dalam istilah yang lebih teknis, situasi terakhir tersebut sering dikenal dengan “trauma kolektif”. Sayangnya di sepanjang sejarah umat manusia, torehan “luka” tersebut masih sering terjadi. Pembantaian orang Yahudi oleh Jerman pada masa Perang Dunia dua, kekejaman dan pembantaian pemerintah Kamboja pada masa Pol Pot, peristiwa 1965 di Indonesia yang mengakibatkan pembantaian banyak orang yang diduga komunis, diskriminasi berdasarkan warna kulit di Afrika selatan, dan seterusnya. Bangsa Israel kuno rupanya juga pernah mengalami trauma kolektif tersebut, persisnya saat mereka kalah dari Kerajaan Babel dan sebagian penduduk dibuang ke Babel.
Pada bacaan kita saat ini, pemazmur mereka ulang peristiwa pembuangan dan mencoba untuk mereka ulang maknanya. Ia menuliskannya sebagai syair yang sifatnya seperti sebuah ratapan. Hanya saja syair ini bukanlah keluhan yang mengarahkan pada sikap mengasihani diri sendiri, melainkan terselip nada perlawan terhadap hegemoni kekuasaan yang menindas mereka. Bangsa Israel menolak untuk dieksploitasi lebih lanjut, budaya mereka hendak dipakai sebagai hiburan bagi penjajah (ay. 1-3). Identitas religius Israel dijadikan komoditas. Sebuah seruan perlawanan akhirnya digemakan yakni penolakan untuk menyanyikan nyanyian pujian yang biasa didendangkan di Bait Allah. Terlihat sederhana, tetapi menyiratkan perlawanan dan penolakan untuk ditindas. Mereka bahkan berjanji untuk tidak melupakan Yerusalem sebagai basis kultural mereka. Itu berarti bangsa Israel yang ada di pembuangan menolak untuk kehilangan identitas mereka meskipun para penjajah mencoba untuk menjauhkan dan mengasingkan mereka dari tanah leluhur.
Pemazmur begitu jelas dalam pesannya. Mengingat adalah bentuk perlawanan, sementara melupakan berarti tunduk dan memaklumi penindasan. Mereka juga mengingat Edom yang turut berpartisipasi bersama Babel menjadi penindas serta penjajah bagi Israel. Di tengah seruan perlawanan itu, pemazmur mengembalikan kesadaran umat bahwa pada akhirnya hanya Allah sajalah yang berkuasa melakukan segala sesuatu (ay, 8-9). Maka ia sungguh mengharapkan bahwa Allah bertindak menyatakan keadilan atas kekejaman yang dilakukan oleh Edom dan Babel.
Berbeda dengan pemazmur yang menyerukan perlawanan atas penindasan, sebagian orang Kristen masa kini justru mencoba untuk berkompromi dengan penindas dalam dalih pengampunan. Mereka lupa bahwa Tuhan adalah juga Allah yang Maha Adil dan tidak menghendaki penindasan sesama manusia. Jika penindasan dan ketidakadilan pernah terjadi pada bangsa kita di masa lampau, maka tugas dari generasi penerus adalah untuk menuntaskannya dalam keadilan bukan semata-mata melupakan segala sesuatu yang terjadi. Mengingat adalah bentuk perlawanan kepada para pelaku penindasan. Tengoklah laporan Komnas HAM, niscaya kita akan melihat betapa banyaknya kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan hingga kini. Semoga umat Kristen di Indonesia dapat belajar untuk berpihak pada korban dan menyerukan perlawanan serta keadilan kepada para pelaku penindasan serta ketidakadilan.
























