Memasuki hari kerja, kita dituntut untuk segera kuat, cepat, dan efektif. Menyusun strategi, mengangtifkan koneksi, dan semua ini dilakukan dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri. Dunia kerja mengajarkan bahwa orang yang bertahan adalah yang paling tangguh. Namun Mazmur 147 mengundang kita berhenti sejenak untuk berefleksi dan ‘bernyanyi bagi Tuhan’, bukan karena semua target kerja kita yakini pasti tercapai, melainkan sebagai pengakuan bahwa hidup tidak hanya digerakkan oleh kecakapan. Mengawali hari dengan pujian merupakan tindakan iman, sebuah upaya untuk melawan ilusi bahwa segala sesuatu bergantung sepenuhnya pada kekuatan diri kita sendiri.
Mazmur hari ini mengingatkan kita melalui pernyataan bahwa Tuhan tidak berkenan pada “kegagahan kuda perang” atau “kekuatan kaki laki-laki” (ay. 10). Simbol-simbol kekuatan militer dan kemampuan manusia ini mewakili semua bentuk kelebihan yang sering kali menjadi kebanggaan manusia. Namun, bukan berarti kompetensi itu salah, melainkan ia tidak pernah menjadi pusat perhatian Allah. Kekuatan kerap menumbuhkan ilusi kemandirian, sementara keberhasilan seringkali membuat manusia lupa bahwa hidupnya ditopang oleh sesuatu yang lebih besar daripada tenaga dan kecerdasan.
Sebaliknya, Tuhan berkenan kepada mereka yang takut akan Dia dan berharap pada kasih setia-Nya (ay. 11). “Takut” di sini bukan gentar melainkan sikap hidup yang bersandar pada Tuhan. Sadar diri, sadar Gusti. Ketaatan menjadi bentuk kepercayaan yang paling konkret: berani jujur ketika ketidakjujuran lebih menguntungkan, tetap setia ketika hasil belum terlihat, dan terus melangkah meski target terasa mustahil. Ketaatan adalah keputusan untuk tidak menjadikan diri sendiri sebagai ‘pusat semesta’.
Sahabat Alkitab, barangkali pertanyaan bagi kita hari ini bukanlah “seberapa mampu aku?”, melainkan “kepada siapa aku berharap?”. Sebab di hadapan Tuhan, bukan kecepatan langkah yang Ia perhatikan, melainkan keselarasan hati yang memilih berjalan seturut kehendak-Nya.

























