Di dunia yang bergerak cepat dan segala sesuatu diukur dengan angka, manusia sering merasa larut dalam keramaian yang impersonal. Kita dihitung sebagai data, dinilai sebagai statistik, dan dikenang sejauh fungsi kita masih dibutuhkan. Di tengah pengalaman menjadi “tak bernama” inilah Mazmur 147 mengundang umat beriman untuk memuji Tuhan, bukan karena hidup selalu baik, tetapi karena ada Allah yang tidak kehilangan siapa pun dalam keramaian ciptaan-Nya. Haleluya, kata pemazmur, sebab memuji Tuhan itu baik, menyenangkan, dan layak, terutama ketika dunia gagal memberi makna pada kehidupan.
Mazmur ini menghadirkan Allah sebagai yang transenden (Maha Mulia/Melampaui) sekaligus imanen (Maha Dekat/Hadir). Ia menghitung jumlah bintang dan menamai mereka satu per satu, sebuah gambaran kekuasaan kosmik yang melampaui imajinasi manusia. Tidak ada yang terlalu besar hingga luput dari perhatian-Nya. Namun pada saat yang sama, ayat 3 berkata bahwa Ia menyembuhkan yang patah hati dan membalut luka-luka mereka. Tangan yang membentangkan galaksi adalah tangan yang sama, yang dekat dan memulihkan dengan lembut. Kemuliaan-Nya tidak membuat-Nya jauh; justru keagungan-Nya memungkinkan kehadiran yang begitu dekat.
Dalam Alkitab, “mengenal nama” berarti mengenal seseorang secara utuh: identitas, kisah, luka, dan harapannya. Maka ketika kita mengatakan bahwa Tuhan mengenal nama kita, itu berarti tidak ada permasalahan yang terlalu sepele,tidak ada kesedihan yang tersembunyi dari-Nya, dan tidak ada doa yang terlalu samar bagi-Nya. Di hadapan Allah yang besar kuasanya dan tak terhitung pengertiannya (ay. 5), kita tidak direduksi menjadi angka. Kuasa-Nya bukan hanya untuk menopang kosmos, tetapi untuk membangun kembali kehidupan yang runtuh dari dalam.
Mazmur 147 ditutup dengan sebuah perenungan yang jujur: Tuhan menegakkan orang yang rendah hati, tetapi merendahkan orang fasik (ay. 6). Barangkali pertanyaan terdalam dari mazmur ini bukanlah seberapa kuat iman kita, melainkan seberapa rendah hati kita mengakui kebutuhan akan pemulihan. Apakah kita bersedia dikenali sepenuhnya, dengan segala patah hati dan keterbatasan kita, oleh Dia yang menamai bintang? Sebab hanya mereka yang berani mengakui kerapuhannya di hadapan Allah yang Mahabesar, yang akan menemukan bahwa mereka tidak pernah terlupakan.

























