Di zaman ketika segala sesuatu bergerak cepat dan makna mudah bergeser, rasa aman menjadi sesuatu yang rapuh. Kita membangun perlindungan melalui sistem, informasi, dan kontrol, namun kegelisahan tetap menemukan jalannya masuk. Mazmur 147 mengakhiri nyanyiannya dengan sebuah undangan yang sederhana namun tegas, “Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion!” Pujian ini lahir dari kesadaran bahwa keamanan sejati manusia tidak berasal dari apa yang kita bangun, melainkan dari siapa yang menjaga kita.
Pemazmur juga berbicara tentang palang pintu gerbang yang dikokohkan dan anak-anak yang diberkati di dalam kota (ay. 13). Gambaran ini bukan hanya tentang tembok fisik, tetapi tentang ketertiban batin dan keberlanjutan hidup. Israel disebut istimewa bukan karena kekuatan militernya, melainkan karena mereka menerima ketetapan dan hukum Tuhan (ay. 20). Firman itulah yang menjadi ‘tembok perlindungan’, yang membentuk identitas, menuntun keputusan, dan menjaga komunitas dari arah hidup yang menyesatkan.
Mazmur ini lalu mengingatkan bahwa Firman yang menjaga umat juga adalah Firman yang mengatur alam semesta. Tuhan mengirimkan Firman (dāvār)-Nya ke bumi; salju turun, es membeku, dan oleh napas-Nya, Roh (rûaḥ) yang sama sejak penciptaan, semuanya mencair kembali (ay. 15–18). Firman bukan sekadar teks yang dibaca, melainkan kuasa yang bekerja, yang menata kekacauan dan memberi ritme pada hidup. Yang menopang kosmos adalah kuasa yang sama yang menopang jiwa manusia.
Sahabat Alkitab, mari berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “sejauh mana Firman Tuhan sungguh kita izinkan menuntun langkah hari ini?” Bukan hanya kita simpan dalam ingatan, bukan hanya kita ucapkan dengan bibir, tetapi kita hidupi dalam keputusan-keputusan kecil yang sering tak terlihat. Di tengah badai kehidupan, ketaatan tidak membelenggu, melainkan memelihara. Firman Tuhan menjadi benteng yang tidak selalu tampak, namun setia menjaga arah jiwa. Sehingga kita tidak sekadar bertahan agar tetap hidup, tetapi menjadi pribadi yang utuh dan setia berjalan bersama Tuhan, bahkan ketika dunia di sekitar kita terus bergerak menjauh dari kehendak-Nya.

























