Dalam beberapa tahun terakhir kita menyaksikan fenomena yang memilukan dari orang-orang yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan. Mulai dari aktivis lingkungan, jurnalis investigatif, pendamping masyarakat adat, dan pejuang HAM, justru menjadi target kriminalisasi. Mereka yang bersuara untuk menolong yang lemah dan memprotes kejahatan struktural malah dituduh menyebarkan kebohongan, divonis sebagai pengacau, dijebloskan ke penjara, bahkan ada yang diancam keselamatannya. Tidak berhenti disitu, keluarga mereka pun ikut hidup dalam ketakutan, merasa cemas apakah mereka akan pulang atau hilang tanpa kabar. Dalam situasi seperti itu, keadilan seolah terkubur dan kebenaran seperti suara kecil yang mudah dibungkam. Banyak yang akhirnya menangis dalam diam, bertanya dalam hati, “Masih adakah ruang kebenaran dan keadilan di dunia ini?”
Suara pergumulan seperti itulah yang menggema dalam seruan pemazmur, “Lihatlah sengsaraku dan luputkanlah aku, sebab Taurat-Mu tidak kulupakan” (Mazmur 119:153). Pada bagian ini (ayat 153–160), hidup pemazmur digambarkan seperti perkara yang dibawa ke hadapan sidang ilahi. Ia dikepung lawan-lawannya, orang-orang yang menyimpang dari hukum Tuhan dan merombak keadilan. Namun ia tidak membalas dengan kekerasan; ia memohon agar Tuhan memulihkan martabatnya, membuka ruang gerak baginya, dan memberi nafas untuk terus bertahan. Ia tahu bahwa hidupnya tergantung pada janji dan kasih setia Tuhan.
Keyakinan pemazmur ini tak lain berasal dari firman dan ketetapan-Nya yang senantiasa dihidupi. Firman yang ia cintai memberi kedamaian di tengah tantangan. Meski hidupnya belum juga terbebas dari penindasan, ia tidak dikuasai ketakutan kepada manusia, karena imannya kepada Tuhan jauh lebih kuat. Ia memuji Tuhan “tujuh kali sehari”, sebuah ritme hidup yang berakar dalam kehadiran-Nya. Damai itu bukan pelarian dari penderitaan, tetapi kekuatan batin untuk berdiri teguh ketika dunia runtuh.
Sahabat Alkitab, mungkin kita mengenal seseorang, atau bahkan pernah mengalaminya sendiri, sebuah kondisi ketika memperjuangkan kebenaran membuat kita kehilangan rasa aman, atau ketika yang benar tampak kalah. Hati menjadi goyah dan mempertanyakan keputusan yang telah kita ambil. Namun tetaplah teguh memperjuangkan kebenaran-Nya karena itulah panggilan kita sebagai orang beriman. Kiranya firman Tuhan memberi keberanian bagi kita untuk tetap berjalan dalam terang, meski jalan itu terjal.

























