Pernahkah kita sejenak memandang langit, bukan karena hendak melihat cuaca, tetapi mencoba merasakan kehadiran sesuatu yang lebih besar dari diri kita? Jika belum, Mazmur 148 mengajak kita melakukannya. Dalam teks ini pemazmur mengundang seluruh isi langit untuk memuji Tuhan: para malaikat, bala tentara surgawi, matahari, bulan, bintang-bintang, bahkan langit yang mengatasi segala langit. Semua dipanggil untuk satu tujuan, yaitu memuliakan Sang Pencipta. Menariknya, yang dipanggil lebih dulu bukanlah manusia, melainkan penghuni langit. Para malaikat disebut sebagai utusan, makhluk yang hidupnya diarahkan untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Bala tentara surgawi digambarkan sebagai pasukan yang teratur, taat dan selalu siap. Seolah diantara mereka tidak ada yang bertanya, “Mengapa aku harus melakukan ini dan itu?” Mereka memuji Tuhan justru dengan kesetiaannya menjalankan peran masing-masing dengan taat dan konsisten.
Pemazmur juga menyebut matahari, bulan, dan bintang-bintang. Pada zaman itu, banyak bangsa menganggap benda-benda langit sebagai dewa. Namun pemazmur dengan tegas mengungkapkan bahwa mereka adalah ciptaan yang ikut menyembah. Dengan keberadaan dan keteraturannya, mereka memuliakan Tuhan setiap hari. Pemazmur juga memberi alasan mengapa semua ciptaan memuji Tuhan, “Sebab Dia memberi perintah dan semuanya tercipta.” Artinya, segala sesuatu ada bukan karena kebetulan, melainkan karena kehendak Tuhan. Sehingga, pujian lahir dari kesadaran akan asal-usul kehidupan segenap ciptaan.
Sahabat Alkitab, jika matahari setia terbit pada waktunya, bintang-bintang bergerak sesuai orbitnya, bagaimana dengan kita? Sering kali manusialah yang paling gelisah, paling banyak mengeluh, dan paling mudah memberontak terhadap kehendak Tuhan. Kita ingin menentukan jalan sendiri, bahkan ketika kita sadar bahwa itu menjauhkan kita dari Sang Sumber Hidup. Maka, hari ini pemazmur mengingatkan kepada kita, tentang pujian yang bukan hanya melalui kata-kata dan nyanyian. Pujian adalah hidup yang selaras dengan maksud Tuhan. Ketika kita mengakui bahwa hidup ini adalah anugerah, sesungguhnya ketaatan bukanlah sebuah beban, melainkan respons syukur kita kepada Allah.
























