Beberapa waktu ke belakang, rasanya ungkapan bahwa “Keadilan semakin Langka untuk ditemui di negeri ini” semakin santer terdengar. Kita melihat para penjahat pengeruk kekayaan bangsa, justru bekerjasama dengan otoritas di berbagai level sehingga lolos dari konsekuensi hukum yang menantinya. Toh jika tetap harus menerimanya, paling hanya setengah masa hukuman. Sementara itu mereka yang benar justru dipersalahkan dengan berbagai alasan hanya karena berseberangan dengan penguasa. Akankah mengharapkan keadilan di negeri ini selayaknya pungguk merindukan bulan, ataukah sesungguhnya kita masih dapat berjuang mewujudkannya dalam terang pehaman kita sebagai seorang Kristen.
Pada bacaan kita kali ini, hikmat kembali dipersonifikasikan. Ia memanggil setiap orang untuk datang dan mendengarkan ajarannya yang membawa pengertian. Apa yang disampaikan sang hikmat membawa kepandaian yang mengarahkan setiap orang kepada rasa takut akan Tuhan dan pengenalan akan Dia. Sebab pada akhirnya sumber hikmat adalah Tuhan semata (ay. 6).
Kali ini hikmat dari Tuhan kembali disandingkan dengan moralitas yang benar. Mereka yang turut pengajaran hikmat akan mengerti kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Maka dalam kacamata pemahaman seorang beriman, seorang yang bijaksana dan pandai sudah pasti menjaga moralitasnya senantiasa terarah kepada pengajaran yang benar. Hikmat akan menjaga seseorang untuk tidak jatuh ke dalam jalan kejahatan. Rupanya jalan kejahatan tersebut adalah jalan yang diambil oleh mereka yang melakukan tipu muslihat, berbuat tidak adil, dan rela menghalalkan segala cara demi keuntungannya sendiri.
Marilah menempuh jalan hikmat yang akan membawa kita kepada kebenaran serta keadilan. “Jalan yang jahat” tersebut mungkin tampak menggiurkan. Kita menerima segala kenyamanan hidup, tetapi ingatlah bahwa yang kekal hanyalah relasi yang benar dengan Tuhan. Mungkin ketidakadilan mempertontonkan dirinya dengan terang-terangan, tetapi marilah kita memanjatkan doa sebagaimana firman pada hari ini, “karena orang jujurlah yang akan mendiami negeri, dan orang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di sana.”

























