Beberapa waktu lalu, media ramai memberitakan seorang petugas kebersihan yang mengembalikan tas berisi uang dalam jumlah besar yang ditemukannya. Banyak orang terharu, memuji integritasnya, bahkan menggalang donasi sebagai bentuk apresiasi. Kisah itu menjadi viral, seolah-olah kejujuran adalah tindakan heroik yang langka. Namun bukankah ini sebuah ironi, sejak kapan berlaku jujur menjadi sesuatu yang luar biasa?
Amsal menghadirkan perbandingan yang tajam antara dua jalan hidup. Rancangan orang benar adalah keadilan, sedangkan tujuan orang fasik adalah tipu daya (ay. 5). Perkataan orang fasik mengadang darah, membahayakan dan merusak. Sebaliknya “mulut orang jujur menyelamatkan diri mereka” (ay. 6). Dalam gambaran ini, kejujuran bukan sekadar kualitas moral yang manis didengar. Ia adalah kekuatan yang menyelamatkan. Kata-kata yang benar dapat mencegah fitnah, menghentikan ketidakadilan, dan melindungi banyak orang dari kerugian yang lebih besar. Sebaliknya, kebohongan dan tipu daya ibarat jerat yang perlahan menjerumuskan, bukan hanya orang lain, tetapi juga diri sendiri.
Ketidakjujuran menimbulkan beban pikiran (beban kognitif) yang cukup berat. Seseorang harus terus-menerus menjaga konsistensi kebohongan agar tidak terbongkar. Hal ini melahirkan kecemasan dan konflik batin. Kejujuran, sebaliknya, menciptakan integritas, keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Hidup menjadi utuh, tidak terpecah oleh kepura-puraan.
Sahabat Alkitab, kisah tentang kejujuran yang kerap kita jumpai dalam pemberitaan media menjadi begitu menyentuh, karena kita merindukan dunia yang jujur. Namun Amsal hari ini mengingatkan kita, bahwa kejujuran sesungguhnya adalah panggilan setiap insan. Dalam keputusan-keputusan kecil hari ini, di ruang kerja, dalam keluarga, dalam percakapan sehari-hari, melalui kejujuran yang terucap dari mulut kita bisa menjadi alat keselamatan.

























