Mungkin ada diantara kita yang pernah atau bahkan sering mendengar kisah tentang seseorang yang menerima telepon dari nomor tak dikenal. Si penelepon mengaku sebagai aparat kepolisian, mengatakan bahwa anak atau anggota keluarganya sedang dalam masalah serius dan membutuhkan uang jaminan segera. Karena kasih sayang dan kepanikan, korban tidak berpikir panjang. Ia segera pergi ke ATM dan mengirimkan sejumlah besar uang. Namun kemudian ia sadar bahwa semuanya hanyalah penipuan. Dalam hitungan menit, hasil kerja keras bertahun-tahun lenyap, karena ia mempercayai setiap perkataan tanpa sempat memeriksa kebenarannya.
Amsal 14, khususnya pada ayat 15 menyingkapkan realitas ini dengan tajam: “Orang yang tak berpengalaman mempercayai setiap perkataan, tetapi orang yang cerdik memperhatikan langkahnya.” Dalam konteks ini, “orang yang tak berpengalaman” bukan sekadar kurang informasi, tetapi juga kurang kebijaksanaan dalam menilai situasi. Ia mudah percaya, tidak mencermati resiko, dan bertindak tanpa pertimbangan. Sebaliknya, orang bijak digambarkan sebagai pribadi yang memperhatikan langkahnya. Ia tidak tergesa-gesa, tetapi mencermati realitas, mempertimbangkan kemungkinan, dan mengambil keputusan dengan hati-hati. Perbedaan ini bukan terutama soal kecerdasan intelektual, melainkan kedewasaan batin. Orang bijak memahami bahwa tidak semua yang terdengar meyakinkan itu benar, dan tidak semua yang tampak mendesak harus segera direspons. Ia memberi ruang untuk berpikir, memverifikasi, dan menimbang. Sikap ini melindunginya dari banyak jebakan, baik secara finansial, emosional, maupun spiritual.
Dalam kehidupan saat ini, kita dibanjiri informasi, opini, dan tuntutan yang datang silih berganti. Tanpa disadari, kita bisa menjadi reaktif: mudah percaya, mudah panik, dan mudah melangkah tanpa arah. Namun hikmat mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, mengamati, dan memilah dengan jernih. Kebijaksanaan bukan tentang bergerak cepat, tetapi tentang bergerak tepat. Maka, marilah kita bertanya dengan jujur: apakah kita selama ini lebih sering bereaksi atau berefleksi? Apakah kita mudah terbawa oleh ketakutan, tekanan, atau kata-kata orang lain, tanpa sungguh mempertimbangkannya?
Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki hati yang bijak, hati yang tidak mudah terombang-ambing, dan mampu memilah dengan jernih serta melangkah dengan teguh. Sebab hidup yang berhikmat bukanlah hidup tanpa resiko, melainkan hidup yang dijalani dengan kesadaran, kewaspadaan, dan kepercayaan penuh kepada tuntunan Tuhan.
























