Kesombongan atau sikap tinggi hati adalah salah satu karakteristik kelemahan manusia yang patut kita waspadai. Dalam balut kesombongan bahkan tindakan baik sekalipun kepada sesama menjadi tidak bernilai. Bahkan kata-kata kita pun dapat dipakai sebagai panggung bagi kesombongan diri. Mewaspadai tanda-tanda kesombongan merupakan salah satu hal yang menjadi kualitas hidup orang beriman. Inilah kebijaksanaan yang hendak kita gali melalui bacaan kali ini.
Dalam Amsal 18:12 diungkapkan sebuah nasehat yang cukup menarik, “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” Tinggi hati menunjuk kepada sikap sombong, merasa diri lebih tinggi, dan tidak mau ditegur. Dalam tradisi hikmat bangsa Israel, kesombongan bukan hanya soal karakter atau masalah moral, melainkan sesuatu yang memiliki konsekuensi pada kehidupan spiritual. Mereka yang tinggi hati turut menutup diri pada teguran dan petunjuk-petunjuk Allah.
Salah satu penanda tinggi hati terletak pada respons seseorang akan suatu hal yang ada di hadapannya. Amsal 18 menunjukkan beberapa petunjuk, salah satunya adalah perkataan reaktif yang jauh lebih cepat daripada pemrosesan logika seseorang. Ayat 13 menyatakannya kepada kita, “Jika seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan celanya.” Orang ingin terlihat begitu tangkas dan cekatan padahal apa yang dikatakannya belum tentu benar (ay. 17). Berkata-kata dengan cepat tanpa dipikirkan dahulu adalah tanda kebodohan dan keangkuhan, sementara mereka yang bijak dan rendah hati akan menyediakan ruang untuk mengetahui serta mendengar dengan seksama.
Sahabat Alkitab, menjadi pribadi yang rendah hati memang tidaklah mudah. Begitu banyak godaan serta jebakan untuk menjadi tinggi hati. Dalam kebijaksanaan sehari-hari bahkan dikatakan bahwa tidak ada orang yang rendah hati, yang berkata bahwa dirinya sendiri adalah orang yang rendah hati. Namun dalam ketertundukan kita kepada hikmat dan kebijaksanaan Allah, maka seharusnya kerendahan hati menjadi keniscayaan yang keluar dari hati kita. Maka marilah berjuang dengan sungguh mewaspadai kata dan tingkah laku, menundukkan diri pada perintah-Nya, agar kita menjadi orang-orang yang rendah hati.
























