Hidup penuh dengan pilihan. Salah satunya adalah apakah kita mau tunduk terhadap penggodaan serta hawa nafsu kita atau justru menundukkan diri kepada Allah serta melawan penggodaan tersebut. Salah satu hal yang menjadi godaan tidak terhindarkan adalah perzinahan. Relasi intim antara pria dan wanita direduksi menjadi semacam pemuasan hawa nafsu belaka. Seringkali dalam berbagai situasi, aspek hidup yang hancur dari tindakan tersebut sungguh tidak terhindarkan. Maka kewaspadaan terhadapnya seharusnya menjadi sebuah keniscayaan bagi orang percaya.
Kali ini Amsal ditulis dalam konteks nasihat Sang Guru Hikmat kepada muridnya. Ia menghendaki agar apa yang diajarkannya disimpan dan dipegang layaknya seseorang merawat serta menjaga biji matanya. Hikmat diposisikan sebagai seorang saudara lebih tepatnya seorang saudara perempuan yang merupakan sapaan wajar untuk pengantin perempuan atau istri. Melalui kalimat tersebut sang guru hikmat mendorong muridnya yang masih muda untuk menempatkan hikmat itu dalam posisi pengantin perempuan atau seorang istri yang amat dicintai. Personifikasi tersebut adalah sebuah kesengajaan, karena selanjutnya petunjuk sang hikmat akan dipertentangkan dengan godaan dari pelacur yang membawa kebinasaan.
Hikmat mengajarkan seorang muda berdasarkan pengamatan atas fenomena yang dilihatnya dari jendela rumah. Menunjukkan bahwa fenomena yang diamatinya tersebut sering terjadi. Ia melihat seorang pelacur menggoda seorang muda. Orang muda ini tidaklah jahat melainkan kurang dapat bersikap dan tidak mengenal dirinya sendiri. Ia adalah representasi dari orang yang senang berada dalam zona abu-abu moralitas, ketika batas terang dan gelap mulai kabur. Sehingga ia mudah tergoda dengan ucapan sang pelacur yang bahkan membawa-bawa simbol keagamaan dalam upayanya mencari simpati. Sang perempuan menawarkan kenikmatan duniawi. Semacam adrenalin karena perselingkuhan yang dibalut dengan pengagungan nafsu yang tidak sepatutnya. Maka janganlah takluk kepada penggodaan semacam itu, kata sang hikmat. Ia akan menjerumuskan orang kepada kematian dan kebinasaan, bertentangan dengan jalan hikmat yang akan melahirkan kehidupan.
Sahabat Alkitab, pada hari ini betapa kita melihat bahwa firman Tuhan sungguh menyapa setiap orang dalam kegundahan dan pencobaan yang nyata. Salah satunya adalah godaan perzinahan yang rentang dihadapi oleh laki-laki dan perempuan. Lewat firman hari ini kita diingatkan kembali bahwa perzinahan seolah membawa kita pada tawaran-tawaran kenikmatan dan pembebasan diri, tetapi sebenarnya hal tersebut adalah semu serta membawa pada kehancuran. Maka berjuanglah untuk hidup benar dihadapan Allah. Menjaga kekudusan relasi dan hidup kita. Keduanya sesungguhnya saling bertautan, sebagaimana hikmat yang mengajarkan hidup yang bijak dan menjunjung tinggi kebajikan.
Gejala masyarakat modern saat ini ditandai dengan individualisme yang menghilangkan empati antar sesama manusia. Masing-masing orang berjuang demi kepentingannya sendiri bahkan hingga rela mengorbankan sesama. Bahkan orang lain seringkali dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan semata. Sebagai orang beriman maka sudah sepatutnya apabila kita menunjukkan cara pandang dan pola hidup yang berbeda.
Pada bacaan kita kali ini diperlihatkan akan orang fasik dan orang bersalah yang banyak melakukan kecurangan dan kejahatan dalam hidup. Jalan yang mereka pilih begitu berliku-liku seolah-olah berkelit dari kesalahan yang telah diperbuat. Salah satu penanda mereka yang fasik adalah begitu dekatnya langkah orang-orang tersebut kepada kejahatan, bahkan sama sekali tidak memiliki belas kasihan kepada sesamanya.
Tuhan justru menghendaki kebenaran dan keadilan untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan keadilan dan kebenaran lebih menyenangkan bagi Tuhan daripada kurban. Hal tersebut bukan berarti tindakan ritual dan ibadah manusia tidaklah penting, tetapi jika dilakukan hanya sebagai formalitas tanpa mengubah laku kehidupan, maka tidak ada gunanya.
Oleh sebab itu di tengah dunia yang begitu nirempati dan penuh ketidakadilan, orang beriman diundang untuk mewujudnyatakan empati serta keadilan dalam langkah geraknya. Panggilan tersebut hendaknya diwujudkan dalam hidup kita sehari-hari. Hikmat menuntun kita untuk berbuat adil serta berempati terhadap sesama. Dari sanalah terpancar kasih serta hikmat Tuhan.
























