Melalui akal budi yang dikaruniakan oleh Tuhan, manusia diberikan kemampuan untuk menata serta mengatur kehidupannya. Salah satu dimensi yang masuk dalam ranah pengaturan tersebut adalah aspek finansial atau keuangan seseorang. Dalam iman Kristen kita menyadari bahwa harta benda dan kekayaan pada dasarnya bukanlah tujuan akhir dari kehidupan melainkan sarana untuk sesuatu yang lebih besar seperti memuliakan nama-Nya.
Maka dari itu dalam tuntunan hikmat, hal-hal terkait dengan harta dan kekayaan juga tidak luput sebagai pokok pengajaran. Pada bacaan kita saat ini ditunjukkan bahwa yang terpenting dalam hidup manusia sehingga dapat dikatakan sebagai hartanya adalah kebijaksanaan itu sendiri. Harta yang indah (perhiasan) dan minyak representasi dari benda berharga yang ada pada saat itu akan dijaga seturut dengan kebijaksanaan seseorang. Namun orang yang bebal, tidak memiliki pengaturan yang baik sehingga akan memboroskannya.
Pilihan cara hidup sangatlah menentukan pula. Orang yang tidak pandai mengelola hasratnya dan menghambur-hamburkan miliknya akan berkekurangan. Sementara itu mereka yang terlalu terpaku kepada harta benda juga tidak akan mendapatkannya dalam damai sejahtera, karena harta benda telah berubah menjadi tujuan bukan lagi sarana memuliakan-Nya. Maka yang pertama-tama adalah berpusatlah kepada kebijaksanaan, sehingga dalam kebijaksanaan itu kita beroleh pengetahuan untuk mengelola berbagai aspek kehidupan seturut kehendak-Nya.
Sahabat Alkitab, nasihat dalam Amsal kali ini sangatlah berguna pada konteks kehidupan modern yang seringkali berselimutkan godaan manis hedonisme. Kita diajak untuk menghabiskan sebanyak-banyaknya atas nama kebutuhan yang diciptakan oleh mekanisme pasar. Padahal jika direnungkan lebih lanjut, kita tidak sungguh-sungguh membutuhkannya. Maka peran hikmat dalam mekanisme pengaturan kehidupan finansial masing-masing pribadi adalah untuk menyediakan penyadaran akan tanggung jawab serta pengekangan hasrat yang tidak diperlukan. Hiduplah dengan penuh kesadaran akan hal tersebut, maka hidup yang bertanggung jawab menjadi jalan untuk meretas hidup yang berbahagia.
























