Mungkin kita tidak asing dengan peribahasa yang mengatakan, “tong kosong nyaring bunyinya”. Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa sesuatu yang kosong justru sering kali terdengar paling nyaring, sedangkan yang berisi tidak terlalu membuat banyak suara. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat gambaran ini terjadi. Ada orang yang berusaha menunjukkan kekuatan melalui sikap yang kaku, kata-kata yang tajam, atau bahkan dengan merendahkan orang lain. Tidak jarang, hidup mereka tampak berhasil, sehingga timbul godaan dalam hati kita untuk merasa iri atau mempertanyakan nilai hidup yang kita jalani. Namun, Amsal hari ini mengingatkan kita bahwa ukuran kekuatan yang sejati tidaklah terletak pada apa yang tampak di permukaan, melainkan pada kedalaman hikmat yang membentuk kehidupan seseorang.
Penulis Amsal menasihati, “Jangan iri kepada orang jahat” (ay. 1), karena di balik keberhasilan yang tampak, hati mereka dipenuhi dengan rencana yang merusak. Sebaliknya, kehidupan yang dibangun dengan hikmat digambarkan seperti sebuah rumah yang didirikan, ditegakkan, dan diisi dengan harta benda yang berharga dan menarik (ay. 3-4). Kata “diisi” di sini menunjukkan kelimpahan, bukan hanya kelimpahan materi, tetapi juga kelimpahan nilai-nilai iman seperti damai sejahtera, integritas, dan keteguhan hati. Kehidupan yang dipenuhi hikmat tidak tergantung pada pengakuan manusia, karena ia berakar pada dasar yang kokoh.
Selain itu, kita juga kembali diingatkan bahwa hikmat memberi kekuatan yang sejati (ay. 5-6). Kekuatan ini bukan sekadar kekuatan lahiriah, tetapi kekuatan batin yang memberi kemampuan untuk bertahan dan mengambil keputusan dengan benar. Bahkan dalam masa kesesakan, kualitas hidup seseorang diuji. Pada saat-saat seperti itulah terlihat apakah hidup kita sungguh dibangun di atas hikmat, atau hanya berdiri di atas dasar yang rapuh.
Sahabat Alkitab, hikmat mungkin tidak selalu menarik perhatian, tetapi ia memberikan masa depan yang penuh harapan. Firman Tuhan mengajak kita untuk tidak mengejar pengakuan yang dangkal, melainkan membangun kehidupan yang dipenuhi hikmat. Kiranya kita belajar untuk lebih memperhatikan isi hati daripada sekadar penampilan luar. Sebab kehidupan yang dipenuhi hikmat akan memancarkan kekuatan yang tenang dan kokoh, serta membawa kita kepada masa depan yang disediakan Tuhan.
























