Kebodohan bukan hanya tentang sisi kognitif manusia. Melainkan pula cerminan dari moralitas yang menolak untuk tunduk pada apa yang benar. Orang yang bodoh berupaya membuat pembenaran-pembenaran atas kesalahan yang diperbuatnya, padahal rangkaian penjelasan tersebut justru memperjelas kebodohannya.
Itulah yang juga diamati oleh sang pengkhotbah, orang bodoh akan bersikukuh terhadap omong kosongnya. Menyampaikannya dengan penuh keyakinan seolah-olah itu kebenaran. Sayangnya, orang lain seringkali juga tersesat dalam bualannya (ay. 2-3, 12-15). Kebodohan itu adalah lawan dari hikmat. Sebagaimana hikmat yang berseru dimanapun, demikian juga kebodohan. Ia bisa ada di istana raja, tempat dimana terdapat banyak penasihat yang seharusnya punya kebijaksanaan lebih. Dampaknya adalah orang-orang tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Demikian pula raja yang bodoh akan bertindak sembarangan. Tidak tahu tempat dan waktu. Berlaku dengan tidak semestinya. Malangnya, rakyatlah yang menanggung semua tindakan bodoh itu.
Kebodohan juga bisa hadir di tempat kerja berupa kemalasan dan kelambanan. Ia adalah orang-orang yang tidak menggunakan keterampilan dalam bekerja. Akibatnya waktu dan usaha yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan juga turut bertambah. Alih-alih mempersiapkan diri dengan baik, orang yang bodoh meremehkan persiapan. Bahaya dan ancaman selalu datang dalam cara kerja yang demikian. Ia beresiko jatuh pada lubang yang digalinya, atau dipagut ular karena tembok yang didobraknya (ay. 8). Semua marabahaya itu tidak sempat diantisipasi oleh orang-orang bodoh.
Mari kita jujur terhadap diri sendiri dan betapa kita akan melihat bahwa kebodohan telah menghiasi dirinya dengan semakin cantik di zaman modern ini. Salah satu kemasan baru dari kebodohan adalah hoax yang tersebar dengan mudahnya di media sosial. Setiap orang semakin terfragmentasi dengan kebenaran versi sendiri tanpa mau merendahkan hati untuk mendengar sisi yang lainnya, bukankah hal tersebut adalah nama lain dari kebodohan. Sebagai orang percaya, nasihat pengkhotbah pada hari ini menambah dimensi baru dari keberimanan kita. Iman bukan hanya mensyaratkan hati yang tulus, tetapi juga batin yang jernih, dan akal budi yang senantiasa terarah pada hikmat-Nya. Dengan demikian kita akan terhindar dari kebodohan-kebodohan yang akan menyengsarakan diri kita sendiri maupun orang lain.
























