Banyak orang seringkali berpikir bahwa situasi yang serba sulit dan penuh pergumulan dapat menjauhkan kita dari Tuhan. Namun sesungguhnya situasi yang baik, berkelimpahan, dan serba kecukupan pun dapat menjauhkan kita dari kasih Tuhan, karena dalam situasi tersebut seseorang rentan jatuh kepada kesombongan. Merasa dapat berdiri dengan kaki sendiri tanpa bantuan Tuhan sama sekali.
Itulah yang digambarkan dalam nubuatan Yesaya kali ini. Tuhan berbicara mengenai Samaria atau Kerajaan Israel Utara yang disimbolkan dengan Efraim. Kota itu subur dan kaya, tetapi penuh dengan orang-orang yang melakukan kejahatan. Mereka terlarut dalam kemabukan serta hawa nafsu yang menggambarkan situasi batin orang Israel Utara yang lupa diri, hidup dalam kecemaran, pesta pora, dan kenajisan. Efraim memang memakai mahkota yang begitu indah dan megah, tetapi mahkota itu telah jatuh dari kepala pemakainya. Menggambarkan kejatuhan Israel utara karena tingkah laku mereka sendiri.
Namun berkat kemurahan dan belas kasihan Allah, justru Dia menyediakan diri untuk menjadi mahkota yang permai dan perhiasan kepala yang indah bagi sisa umat-Nya. Dia akan menaruh keberpihakan kepada mereka yang duduk mengadili dan menjadi kekuatan bagi orang yang memperjuangkan kebenaran. Kekuasaan dan kekudusan Allah rupanya dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Israel melalui perwujudan keadilan yang konkret dan menyentuh seluruh elemen bangsa.
Sahabat Alkitab, kiranya firman Tuhan pada saat ini kembali mengajak kita untuk merenungkan apa yang sesungguhnya paling berharga dalam hidup ini. Kita seringkali terjebak dan mengandalkan kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan, sehingga meninggalkan Allah dengan hidup seturut dengan hawa nafsu kita sendiri. Tindak tanduk demikian justru mendatangkan murka serta keadilan Allah. Sudah seharusnya firman dan ketetapan Tuhan menjadi satu-satunya pandu dalam kehidupan kita.
























